Pulang ke Pelukan Rumah

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Tawa yang Kembali

Matahari pagi menembus celah gorden jendela ruang makan, membiaskan sinar keemasan di atas meja kayu jati yang selama tiga bulan terakhir selalu terasa dingin dan senyap. Aroma nasi goreng mentega dan telur mata sapi hangat merayap perlahan ke seluruh penjuru rumah, menggantikan bau apak duka yang sempat mengendap begitu lama.

Dita berdiri di depan kompor, membalik dada ayam goreng dengan gerakan cekatan. Di sampingnya, Arkan duduk menghadap cangkir kopi hitamnya yang masih berasap. Matanya memperhatikan kedua putri kembar mereka—Gita dan Fita—yang duduk berhadapan dengan wajah mengantuk. Rambut mereka yang ikrib masih acak-acakan, khas remaja yang dipaksa bangun terlalu pagi untuk persiapan sekolah.

"Gita, ambilkan garam di dekatmu," ujar Dita lembut tanpa menoleh.

Gita yang sedang menguap lebar menjangkau toples kaca di samping piringnya, lalu menyerahkannya pada sang ibu. Namun, matanya yang jahil melirik Fita yang sedang sibuk mengoleskan mentega ke atas sepotong roti tawar dengan mata setengah terpejam.

"Fita," bisik Gita dengan nada sangat serius.

Fita bergumam pelan, "Apa?"

"Kamu tahu tidak? Katanya kalau makan roti pakai mentega sambil meram, rotinya bakal berubah rasa jadi rasa sabun mandi," kata Gita tanpa mengedipkan mata, memasang ekspresi paling meyakinkan yang bisa ia buat.

Fita menghentikan olesan menteganya. Ia membuka satu matanya, menatap saudarinya dengan penuh kecurigaan. "Bohong. Katanya siapa?"

"Kata penelitian terbaru di internet. Percaya deh, coba gigit sekarang tapi matamu harus tetap meram rapat-rapat," desak Gita, menahan tawa yang mulai mengocok perutnya.

Arkan melirik dari balik korannya, menyunggingkan senyum tipis yang sudah sangat lama tidak terbit di wajahnya. Ia tahu persis perang dingin konyol khas si kembar akan segera dimulai.

Fita yang polos—dan masih setengah sadar dari tidurnya—akhirnya menurut. Ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat, lalu membuka mulut lebar-lebar untuk menggigit roti mentega itu. Tanpa buang waktu, Gita dengan cepat mengambil sejumput garam dapur dari meja dan menaburkannya dengan royal di atas permukaan roti Fita.

Kruuk!

Fita mengunyah sekali. Detik berikutnya, matanya membelalak lebar. Wajahnya langsung memerah padam saat rasa asin yang luar biasa menusuk seluruh lidahnya.

"Gitaaaaa! Asin banget, dasar jahat!" jerit Fita seraya menyemburkan potongan roti itu ke atas tisu dan langsung menyambar gelas air putih milik Arkan.

Gita meledak dalam tawa renyah yang membahana di seluruh ruang makan, sampai-sampai ia harus memegangi perutnya yang kram. "Makanya jangan mau dibodohi pagi-pagi, Fita!"

Dita memutar badan, berpura-pura melotot galak meski sudut bibirnya tak sanggup menahan senyum. "Gita! Jangan usil sama adikmu!"

"Aku cuma tiga menit lebih tua dari dia, Mama! Kita seumuran!" sahut Gita membela diri di sela-sela tawanya.

Arkan terkekeh pelan, menggeleng-gelengkan kepala seraya meletakkan cangkir kopinya. Tawa renyah itu, lelucon konyol itu, dan pertengkaran tidak penting itu terasa bagaikan musik paling indah yang merdu. Rumah yang tadinya sunyi bagaikan kuburan perlahan-lahan mulai hidup kembali.

❖ ❖ ❖

"Mas Arkan, lihat anak-anakmu ini," adu Fita dengan bibir mekerut maju, masih berusaha membersihkan rasa asin di tenggorokannya dengan tegukan air ketiga. "Roti kesukaanku rusak gara-gara si nenek sihir ini."

"Sembarangan panggil nenek sihir!" potong Gita seraya menjulurkan lidahnya. "Lagian siapa suruh meram beneran? Kamu itu gampang banget dibodohi dari dulu."

"Sudah, sudah," tawa Arkan akhirnya pecah. Suara beratnya memenuhi ruangan, membuat Dita terhenti sejenak dari kesibukannya memindahkan ayam goreng. Dita menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca—bukan karena sedih, melainkan karena keharuan yang membuncah. Sudah sangat lama ia tidak mendengar Arkan tertawa lepas seperti itu.

"Gita, minta maaf sama Fita," pimpin Arkan dengan nada berpura-pura tegas. "Dan Fita, jangan mudah percaya sama omongan saudaramu, apalagi kalau dia senyum-senyum mencurigakan begitu."

"Tuh, dengerin kata Papa!" seru Fita puas, melayangkan pandangan kemenangan pada kembarannya.

Gita mendengus, namun kemudian meraih sepotong roti baru, mengoleskan selai cokelat dengan sangat rapi, lalu meletakkannya di piring Fita. "Nih, ganti roti yang asin tadi. Jangan cengeng lagi."

Fita menatap roti beroleskan cokelat tebal itu, lalu menatap Gita. Perlahan, senyum manis terukir di wajahnya. "Makasih, Kakak Gita yang paling cantik sejagat raya."

"Nah, begitu dong. Kurangi drama pagi-pagi," goda Dita seraya meletakkan piring berisi ayam goreng di tengah meja. Ia mengambil tempat duduk di samping Arkan, lalu menggenggam jemari suaminya di bawah meja. Arkan membalas remasan tangan istrinya dengan hangat, menyalurkan rasa syukur yang tak terhingga.

"Nanti sore Papa jemput sekolah, ya?" tanya Arkan seraya mengambil sepotong ayam.

"Beneran, Pa?" mata Gita dan Fita berbinar bersamaan.

"Iya, Beneran. Papa sudah ambil cuti setengah hari. Kita bisa mampir beli es krim di tempat langganan kalian dulu," jawab Arkan mantap.

"Huraaa! Asyik!" seru si kembar kompak, saling bertepuk tangan berirama tinggi yang membuat suasana meja makan semakin meriah. Kehangatan yang sempat hilang itu kini benar-benar kembali menyelimuti keluarga kecil mereka.

Lihat selengkapnya