Pulang ke Pelukan Rumah

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Gotong Royong Rumah Tua

Matahari pagi menembus celah-celah genting rumah tua yang sudah lama kusam, menciptakan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai semen yang berdebu. Udara pagi terasa segar, membawa aroma tanah basah dan kayu tua yang khas. Di teras depan, Dimas meletakkan kotak perkakas berat yang berderik nyaring sebelum akhirnya ditegakkan di dekat tiang penyangga utama.

"Bagaimana, Mas? Apa semua peralatannya sudah lengkap?" tanya Ratna dari ambang pintu sambil membawa nampan berisi beberapa cangkir teh manis hangat dan pisang goreng buatan sendiri.

Dimas mengelap keringat di dahinya dengan lengan kaos oblong abu-abunya. Ia tersenyum, menatap istrinya dengan sorot mata yang jauh lebih tenang dibandingkan beberapa pekan lalu. "Sudah lengkap, Sayang. Palu, paku berbagai ukuran, gergaji, ampelas kayu, sampai cat dinding anti-lembap yang kemarin kita beli dari sisa tabungan darurat semuanya ada di sini."

Sejak malam pertengkaran hebat dan rekonsiliasi emosional yang menyatukan kembali kepingan keluarga mereka, rumah warisan kakek itu tidak lagi terasa seperti tempat yang angker dan penuh ketegangan. Hari ini, seluruh anggota keluarga sepakat untuk melakukan sesuatu yang besar: membersihkan, merenovasi, dan memperkuat setiap sudut rumah tua tersebut secara bersama-sama. Gotong royong ini bukan sekadar memperbaiki fisik bangunan, melainkan simbol nyata dari usaha mereka merajut kembali hubungan kekeluargaan yang hampir koyak.

Dari arah ruang tengah, terdengar suara langkah kaki riang bercampur decitan roda kursi roda. Sang ibu mertua muncul dengan senyuman hangat menghiasi wajah rentanya, didorong perlahan oleh Rian, anak sulung mereka yang hari ini mengenakan pakaian santai khusus untuk kerja bakti.

"Wah, pagi-pagi udara sudah terasa begitu hidup di rumah ini," sapa sang ibu mertua dengan suara serak namun bernada gembira. "Nenek lihat kalian sudah semangat sekali memegang sapu dan perkakas."

"Tentu saja, Nek! Hari ini kita mau bikin rumah kakek jadi kinclong lagi kayak baru," seru Rian penuh antusias sambil merapikan lengan bajunya. "Rian kebagian tugas membersihkan jendela kaca depan dan merapikan buku-buku tua di loteng."

Ratna membagikan cangkir teh hangat kepada setiap orang di teras. Ia menatap anak dan suaminya dengan rasa haru yang membuncah di dalam dadanya. Pemandangan sederhana ini adalah sesuatu yang sudah lama hilang dari keluarga mereka—kebersamaan tanpa beban, tawa tanpa kepalsuan, dan kerja sama tanpa saling menyalahkan.

"Sebelum mulai kerja berat, kita minum teh hangat dulu biar badan tidak kaku," ujar Ratna lembut sambil menyerahkan cangkir kepada Dimas.

Dimas menerima cangkir itu, menyeruputnya pelan, lalu menatap dinding kayu rumah yang sudah mulai melengkung dimakan usia. "Rumah ini sudah berdiri puluhan tahun, menaungi beberapa generasi keluarga kita. Sudah sewajarnya kalau sekarang giliran kita yang merawatnya kembali, sekaligus merawat hubungan kita di dalamnya."

❖ ❖ ❖

Setelah secangkir teh habis, pembagian tugas langsung dilakukan dengan penuh semangat. Ruang tengah yang dulunya menjadi saksi bisu pertengkaran hebat kini berubah menjadi pusat aktivitas yang sibuk dan produktif.

Dimas dan Rian memegang peran utama dalam perbaikan struktural. Mereka mulai memeriksa tiang-tiang kayu jati di sudut ruang tamu yang mulai keropos dimakan rayap. Dengan menggunakan obeng besar dan senter, Dimas mengukur tingkat kerusakan pada kayu penyangga tersebut.

"Rian, tolong ambilkan balok kayu penahan yang ada di dekat kotak perkakas itu," instruksi Dimas kepada anaknya sambil menunjuk ke arah teras.

"Baik, Ayah!" jawab Rian sigap, berlari kecil mengambil balok kayu pengganti yang ukurannya cukup besar.

Di sisi lain ruangan, Ratna bersama sang ibu mertua mengambil tugas membersihkan dinding dan menata ulang perabotan yang tertutup debu tebal selama bertahun-tahun. Ratna menggunakan kain lap basah untuk mengelap pigura foto leluhur yang tergantung miring di dinding ruang tamu.

"Pelan-pelan saja, Nak. Kaca pigura foto kakekmu itu sudah agak rapuh pinggirannya," pesan sang ibu mertua dari atas kursi rodanya sambil memegang wadah berisi air sabun pembersih.

"Iya, Bu. Ratna hati-hati kok," jawab Ratna sambil tersenyum manis. Ia menatap wajah sang ibu mertua, merasakan kedekatan emosional yang semakin erat setelah dinding pembatas di antara mereka runtuh. "Dulu, setiap kali melihat rumah ini berantakan, aku selalu merasa ingin lari dari kenyataan. Rasanya beban hidup ini terlalu berat ditanggung sendiri."

Ibu mertua mengangguk maklum, tangannya yang keriput perlahan menepuk punggung tangan Ratna dengan penuh kelembutan. "Wajar kalau kamu merasa lelah, Mai. Manusia punya batas kesabaran. Tapi rumah ini mengajarkan kita satu hal penting: seberapa pun lapuknya sebuah bangunan, kalau fondasi dasarnya kokoh dan dirawat bersama-sama dengan cinta, ia akan tetap berdiri tegak menghadapi badai apa pun."

Kata-kata bijak itu mengalir menyejukkan hati Ratna. Sembari mengelap debu di sudut-sudut pigura, ia merenungkan perjalanan hidup rumah tangga mereka belakangan ini. Perbaikan rumah tua ini bukan sekadar proyek akhir pekan, melainkan terapi jiwa bagi seluruh anggota keluarga untuk menyembuhkan luka-luka batin masa lalu.

Tiba-tiba, suara derit keras terdengar dari arah sudut ruang tamu tempat Dimas dan Rian bekerja.

Lihat selengkapnya