Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Janji di Bawah Pohon Kenari

Udara malam Stasiun Tawang terasa lengket oleh uap besi dan desau kipas angin peron yang berputar lesu. Lampu-lampu neon putih di langit-langit stasiun memancarkan bias pucat, menerangi puluhan koper, kardus, dan wajah-wajah lelah para penumpang kelas ekonomi yang berebut tempat duduk. Di ujung peron tiga, persis di bawah naungan rindang daun-daun pohon kenari tua yang meranggas menembus kerangka besi atap stasiun, berdiri dua sosok manusia yang terisolasi dari riuhnya kebisingan.

Aryo merapatkan mantel wol abu-abunya yang telah usang di bagian siku. Bau tembakau lintingan bercampur aroma minyak angin eucalyptus menguar tipis setiap kali ia menghembuskan napas. Di hadapannya, Raina berdiri tegak dengan ransel kanvas hijau sage tersampir di satu bahu. Syal rajut merah tua melingkar di lehernya, kontras dengan kulit wajahnya yang pucat di bawah temaram lampu sorot kereta.

"Kau tidak harus mengantarkanku sampai ke titik ini, Aryo," suara Raina terdengar lirih, nyaris tenggelam oleh pengumuman kedatangan kereta api dari arah timur yang menggema lewat pengeras suara berkerincing. "Peron ini dingin. Angin malam dari arah pelabuhan selalu membawa basah."

Aryo menggeleng pelan. Rambut ikalnya yang sedikit berantakan tersapu angin malam. "Dingin bukan hal baru buat kita, Rain. Kita hidup di kota ini selama lima tahun dengan menelan angin malam dan debu jalanan. Aku hanya ingin memastikan bahwa detik-detik terakhir sebelum roda besi itu berputar, aku masih bisa melihat matamu tanpa terhalang kaca jendela kereta yang kotor."

Raina tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan lara yang teramat dalam. Jemarinya yang terbalut sarung wol hitam meremas ujung syalnya sendiri. "Kau selalu puitis kalau sedang gugup, Aryo. Padahal kita tahu, pertemuan ini bukan sekadar mengantar keberangkatan. Ini adalah garis batas."

"Garis batas yang kau tarik sendiri," balas Aryo, suaranya tetap rendah namun menyimpan getar ketegasan yang tertahan. "Ibu kota bukan tempat ramah untuk orang-orang idealis sepertimu, Rain. Kau tahu itu. Di sana, murni seni dan kejujuran nurani dibeli seharga lembaran rupiah yang kotor."

"Lalu aku harus tetap di sini?" Raina menatap tajam ke arah Aryo, kilat emosi terpancar dari bola matanya yang kecoklatan. "Menatap dinding kamar kos yang lembap, menunggu naskah-naskah teater kita ditolak oleh dewan kesenian kota yang korup? Hidup kita di sini sudah habis, Aryo. Terkikis oleh rutinitas tanpa masa depan."

"Kita bisa mencari cara lain," Aryo melangkah mendekat, jarak di antara mereka kini hanya tinggal beberapa jengkal. "Bukan dengan cara menjual diri pada birokrasi ibu kota."

"Aku tidak menjual diri!" suara Raina naik satu oktaf, namun segera ia redam saat seorang petugas kereta berseragam biru tua melintas di dekat mereka sambil membawa lentera inspeksi. Raina menarik napas dalam-dalam, menatap dedaunan pohon kenari yang bergesekan ditiup angin. "Aku pergi untuk menyelamatkan apa yang tersisa dari mimpi kita. Kalau aku diam di sini, kita berdua akan membusuk bersama kenangan."

❖ ❖ ❖

Tujuan Raina malam itu bukan sekadar menaiki kereta menuju Jakarta. Lebih dari sekadar tiket seharga puluhan ribu rupiah di saku mantelnya, ia membawa misi yang telah lama ia simpan rapat-rapat di dalam buku catatan bersampul kulit hitam. Di dalam buku itu, tercatat draf proposal pementasan teater independen yang ia rancang bersama Aryo selama tiga tahun terakhir—sebuah naskah kolosal tentang perlawanan buruh pabrik gula era kolonial.

"Mimpi ini butuh panggung yang lebih besar dari aula kelurahan, Aryo," bisik Raina, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk sampul buku catatan yang menyembul dari saku depan ranselnya. "Di ibu kota, ada produser independen yang mau melirik naskah-naskah bertema sosial seperti ini. Kalau aku berhasil meyakinkan mereka, kita tidak perlu lagi mengemis dana sponsor pada pengusaha pabrik tekstil yang licik itu."

Aryo mendengus sinis, meskipun ada rasa kagum yang tak bisa ia sembunyikan di balik tatapannya. "Produser ibu kota mana yang peduli pada penderitaan buruh pinggiran? Mereka hanya mencari sensasi, Rain. Mereka ingin drama percintaan picisan atau komedi slapstick yang mengenyangkan perut penonton bioskop kelas atas."

"Maka dari itu aku harus membuktikan sebaliknya," sahut Raina cepat. Matanya menyala, memantulkan cahaya lampu peron yang kekuningan. "Aku tidak akan membiarkan naskah kita diubah menjadi tontonan murahan. Aku akan memegang kendali atas sutradaranya. Itu tujuanku berangkat malam ini. Mendapatkan kontrak resmi, bukan sekadar janji-janji manis di atas meja restoran."

"Dan bagaimana dengan kita?" Aryo menatap lurus ke dalam mata Raina, menyuarakan keraguan yang sejak tadi mencabik-cabik hatinya. "Kalau kau berhasil di sana, apakah kota kecil ini masih punya tempat di ingatanmu? Apakah Aryo dengan segala keterbatasannya ini masih ada dalam rencana masa depanmu, atau kau akan melupakan semua janji di bawah pohon kenari ini?"

Raina terdiam sejenak. Angin malam berhembus lebih kencang, menggugurkan beberapa helai daun kering pohon kenari yang berserakan di atas lantai peron. Ia mengangkat tangan kanannya, menyentuh lembut rahang Aryo yang ditumbuhi janggut tipis.

"Dengarkan aku, Aryo," ucap Raina dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan. "Pohon kenari ini menyaksikan saat kita pertama kali menanam mimpi untuk membuat teater rakyat sepuluh tahun lalu. Aku tidak akan pernah melupakan akar kita. Keberangkatanku ke Jakarta adalah bagian dari perjuangan yang sama. Aku pergi untuk membuka pintu, agar suatu hari nanti kau bisa berjalan masuk melalui pintu itu dengan kepala tegak, membawa seluruh tim kita ke panggung nasional."

"Kau terlalu naif, Raina," Aryo menggenggam tangan Raina yang menangkup pipinya, merasakan dinginnya kulit perempuan itu. "Ibu kota adalah rimba beton. Mereka tidak peduli pada air mata seniman daerah. Yang mereka pedulikan adalah angka penjualan tiket dan seberapa besar pengaruh sosial media."

"Maka aku akan belajar bermain di dalam aturan mereka untuk menghancurkan batasan-batasan itu dari dalam," jawab Raina tanpa ragu. "Tujuanku jelas: mendirikan pementasan perdana kita tahun depan di gedung kesenian pusat. Tidak ada tawar-menawar soal itu. Aku butuh modal, aku butuh koneksi, dan aku butuh keberanian yang tidak kutemukan lagi di kota ini."

Aryo melepaskan genggamannya perlahan, menatap tanah peron yang basah oleh embun. Ada rasa bangga yang bergelung di dadanya, berdampingan dengan ketakutan luar biasa akan kehilangan perempuan yang telah menjadi bagian dari denyut nadinya selama separuh hidupnya.

❖ ❖ ❖

Suara derit rem besi yang bergesekan dengan rel baja tiba-tiba memecah keheningan peron tiga. Kereta malam tujuan Jakarta meluncur pelan, membelah kabut tipis yang merayap naik dari selokan stasiun. Asap putih mengepul dari sambungan gerbong, berbau minyak mesin dan belerang yang menyengat. Para calon penumpang mulai bergerak gelisah, mengangkat koper-koper berat dan saling berdesakan menuju pintu gerbong ekonomi yang terbuka lebar.

Transisi antara ketenangan semu di bawah pohon kenari dan kekacauan peron mendadak terjadi begitu cepat. Suara peluit konduktor melengking tajam, diikuti teriakan para porter yang menawarkan jasa angkut barang. Di tengah riuh rendah itu, Aryo dan Raina seolah terisolasi dalam gelembung sunyi mereka sendiri.

"Keretanya sudah datang," bisik Aryo, suaranya tercekat di tenggorokan.

Raina mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan debar jantungnya yang mendadak menggila. Ransel di bahunya terasa semakin berat, seolah membawa seluruh beban masa depannya ke tanah rantau. Ia menoleh sekali lagi menatap batang pohon kenari tua di atas mereka, lalu beralih menatap wajah Aryo yang tampak semakin pucat diterpa cahaya lampu gerbong yang menyorot tajam.

"Aryo, ingat janjimu," Raina meraih tangan Aryo sekali lagi, menggenggamnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Jangan biarkan kelompok teater kita bubar. Lanjutkan latihan rutin setiap akhir pekan di balai kelurahan. Jaga naskah-naskah itu tetap hidup di sini."

"Bagaimana aku bisa fokus latihan kalau separuh jiwaku ikut naik ke gerbong itu, Rain?" tanya Aryo getir, matanya mulai memanas namun ia menahan air matanya agar tidak tumpah di hadapan perempuan itu.

Lihat selengkapnya