Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Deru Roda Besi

[partImg:[0]]Deru mesin diesel bergemuruh di bawah lantai gerbong kereta ekonomi yang sesak oleh aroma keringat, uap rokok, dan bau minyak angin. Di luar jendela berlapis debu, bayangan lampu-lampu kota perlahan pudar digantikan oleh gelap pekat malam yang merayap di sepanjang rel. Aryo duduk merapat ke dinding gerbong, kedua tangannya erat mencengkeram tali tas ransel lusuh berwarna abu-abu kusam yang sudah mengelupas di bagian sudutnya. Di dalam tas itu, tidak ada harta berharga selain ijazah SMA yang dibungkus amplop plastik, tiga helai pakaian ganti, dan sebuah amplop cokelat berisi uang tabungan hasil menjual sepeda motor peninggalan ayahnya—modal nekat untuk menaklukkan ibu kota yang kejam. Angin malam menyusup melalui celah jendela yang macet, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, tetapi Aryo tidak bergeming. Tatapannya kosong menerobos pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela, merenungkan jarak yang kini memisahkan dirinya dari tanah kelahiran di sudut lereng Merbabu, tempat debu jalanan desa dan hamparan sawah hijau menjadi saksi bisu kepergiannya pada pukul delapan malam tadi.

"Geser sedikit, Mas, muat buat kaki saya," suara serak seorang bapak paruh baya yang mengenakan topi oranye membuyarkan lamunan Aryo.

Aryo mengangguk pelan, menarik kedua kakinya lebih dekat ke dada untuk memberi ruang bagi pria paruh baya yang membawa karung beras ukuran kecil sebagai bantal duduknya. "Silakan, Pak. Agak sempit memang kalau gerbong ekonomi malam begini," jawab Aryo dengan nada ramah namun tercekat oleh rasa canggung yang mendalam.

"Mau turun mana, Anak Muda? Kelihatan bukan orang sini, muka-muka masih fresh dari kampung," tanya bapak itu sambil menyalakan sebatang rokok kretek murah yang menyebarkan aroma cengkeh pekat ke seluruh sudut bangku sempit itu.

"Jakarta, Pak. Mau coba nasib di sana," ucap Aryo singkat, berusaha menyembunyikan getar gugup di ujung kalimatnya.

"Wah, Jakarta? Cari kerja atau kuliah? Hati-hati di sana, Mas. Kota itu kejam buat orang yang cuma mengandalkan nekat. Kalau nggak punya sanak saudara atau keahlian khusus, siap-siap saja digilas kerasnya hidup," timpal bapak itu setengah memperingatkan, sementara matanya menatap tajam ke arah tas ransel Aryo seolah membaca isi kepala pemuda itu.

Aryo tersenyum tipis, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang menanggapi ucapan sang bapak. "Saya harus coba, Pak. Di kampung tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Ladang milik bapak sudah tergadai, dan ibu butuh biaya berobat rutin."

Kereta kembali berhentak keras ketika melintasi sambungan rel, membuat beberapa penumpang di dekat pintu gerbong mengeluh umpatan kesal. Aryo kembali membuang pandangannya ke luar jendela, menyaksikan bayang-bayang pohon tebu berganti dengan kerlip lampu gardu listrik pinggir rel yang melesat cepat mundur ke belakang. Waktu terasa berjalan sangat lambat, merayap bersamaan dengan detik jam tangan murah di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Setiap kilometer yang ditempuh roda besi di atas bantalan kayu ini membawanya semakin jauh dari pelukan hangat ibunya yang melepasnya di stasiun kecil dengan mata berkaca-kaca dan doa yang bergetar lirih. Pikirannya melayang pada janji yang diucapkannya sebelum kereta meluncur meninggalkan peron: bahwa ia tidak akan kembali sebelum membawa perubahan nyata bagi keluarganya. Deru mesin kereta semakin lama semakin mendominasi keheningan malam, menjadi teman setia dalam perjalanan panjang menuju masa depan yang sepenuhnya masih misterius dan penuh ancaman tak kasat mata.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Aryo menginjakkan kaki di ibu kota bukanlah sekadar bertahan hidup dari hari ke hari, melainkan sebuah misi harga diri dan tanggung jawab moral yang teramat berat. Sebagai anak tunggal dari keluarga buruh tani yang terjerat utuh oleh rentenir desa demi membiayai pengobatan terakhir ayahnya, ia membawa beban untuk melunasi seluruh utang piutang tersebut dalam kurun waktu satu tahun ke depan. Angka sepuluh juta rupiah mungkin terdengar kecil bagi warga kota, namun di desanya, jumlah itu setara dengan hasil panen padi selama tiga musim penuh yang mustahil terkejar tanpa keajaiban atau kerja keras luar biasa di kota besar.

"Kamu harus ingat, Aryo, jangan pernah tergoda jalan pintas," pesan terakhir ibunya terngiang-ngiang jelas di telinganya di tengah deru roda kereta yang monoton. "Ibu lebih baik hidup pas-pasan asal halal daripada melihat kamu pulang membawa uang haram."

Tekad itulah yang menjadi kompas penunjuk arah bagi Aryo di tengah ketidaktahuannya tentang seluk-beluk kota metropolitan. Ia tidak memiliki kerabat dekat di Jakarta, kecuali seorang teman masa kecil bernama Jefri yang baru setahun merantau dan bekerja sebagai buruh pabrik tekstil di kawasan industri Cakung. Melalui pesan singkat terakhir sebelum baterai ponsel Aryo melemah, Jefri sempat menjanjikan sebuah kesempatan wawancara kerja sebagai staf gudang logistik dengan gaji UMR yang cukup untuk mengirim uang bulanan ke kampung sekaligus menyewa petak kamar kos sederhana.

"Nanti begitu turun di Stasiun Pasar Senen, langsung cari angkutan umum nomor 02 atau tunggu saya di dekat jembatan penyeberangan, jangan ke mana-mana karena daerah stasiun rawan copet," demikian isi pesan Jefri yang terus dibaca ulang oleh Aryo di layar ponselnya yang retak.

Bagi Aryo, mendapatkan pekerjaan itu adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Tanpa pekerjaan tersebut, uang bekalnya yang tersisa kurang dari empat ratus ribu rupiah akan habis dalam hitungan minggu sekadar untuk makan dan numpang mandi di stasiun. Ia membayangkan bagaimana rasanya bisa berdiri tegak di hadapan para penagih utang desa yang selama ini kerap mendatangi rumah mereka dengan nada bicara merendahkan.

"Makanya, kalau nggak punya uang, jangan sok mau berobat ke rumah sakit besar," caci maki salah satu penagih utang bernama Tole masih terngiang di kepala Aryo, menciptakan rasa perih dan amarah tertahan yang membakar semangatnya dari dalam dada.

Roda besi terus berputar membelah kegelapan malam, membawa serta angan-angan besar seorang pemuda desa yang bermimpi mengubah nasib di tengah hutan beton pencakar langit. Aryo mengepalkan tangan kanannya erat-erat di dalam saku jaket kumalnya, bersumpah dalam hati bahwa ia akan mempertaruhkan apa saja—bahkan keringat darah sekalipun—asal tujuannya tercapai. Ia tidak peduli seberapa lelah tubuhnya nanti, atau seberapa kejam perlakuan bos di tempat kerja barunya, karena di pundaknya kini bersandar sisa kehormatan keluarganya yang nyaris runtuh digerus miskin dan keputusasaan.

❖ ❖ ❖

Pukul tiga dini hari, kereta ekonomi yang ditumpangi Aryo akhirnya memasuki wilayah pinggiran ibu kota, ditandai dengan pemandangan permukiman padat penduduk yang berhimpit-himpit di sepanjang bantaran rel kumuh. Perubahan suasana terasa begitu kontras; dari keheningan malam pedesaan yang damai beralih menjadi hiruk-pikuk lampu kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Aryo merapikan letak tas ranselnya, berdiri perlahan di antara para penumpang lain yang mulai bersiap membereskan barang bawaan mereka menjelang pemberhentian terakhir di Stasiun Pasar Senen. Udara di dalam gerbong terasa semakin pengap oleh uap napas puluhan orang yang lelah setelah perjalanan lebih dari enam jam lamanya.

"Sebentar lagi sampai, Mas. Siap-siap pegang barang bawaannya, di stasiun banyak copet amatir yang ngincar pendatang baru," ujar bapak bertopi oranye tadi sambil menepuk bahu Aryo pelan sebelum ia sendiri sibuk mengangkat karung berasnya ke atas bahu.

Aryo mengangguk penuh terima kasih, merasakan transisi psikologis yang drastis dalam dirinya dari seorang pemuda desa yang lugu menjadi seorang pencari kerja yang harus waspada terhadap segala kemungkinan buruk di depan mata. Ketika suara pengeras suara stasiun mengumumkan kedatangan kereta di jalur dua, jantung Aryo berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Pintu gerbong terbuka lebar, dan gelombang manusia langsung berdesak-desakan turun ke peron yang dipadati oleh aroma asap knalpot, debu batubara, dan bau khas pelabuhan darat.

"Awas, jangan bengong di tengah jalan!" bentak seorang petugas keamanan stasiun berrompi hijau neon ketika Aryo sempat terpaku beberapa detik menatap megahnya atap besi stasiun yang berkarat dimakan usia.

Aryo terlonjak kaget, buru-buru melangkah menuruni tangga peron dan berjalan mengikuti arus kerumunan manusia menuju pintu keluar utama stasiun. Udara pagi menjelang subuh terasa lembap dan pekat oleh polusi kendaraan bermotor yang mulai memadati jalan raya di luar area stasiun. Ia mengeluarkan ponselnya dengan tangan sedikit gemetar, mencoba memeriksa sinyal atau melihat apakah ada pesan masuk dari Jefri. Namun, layar ponsel tersebut justru menunjukkan kedipan merah tanda baterai habis total, membuat dunia seolah runtuh seketika di hadapannya karena ia tidak tahu persis di mana letak jembatan penyeberangan tempat Jefri berjanji untuk menjemputnya.

Situasi transisi ini memaksa Aryo untuk segera membuat keputusan cepat tanpa bantuan teknologi komunikasi yang biasa diandalkannya selama di desa. Di tengah kepungan kuli panggung, pengamen jalanan berwajah lelah, dan sopir taksi gelap yang berebut menawarkan jasa, Aryo berdiri seorang diri di trotoar Pasar Senen, merasakan betul betapa kecil dan tidak berdayanya dirinya di tengah pusaran raksasa kota Jakarta yang baru saja menyambut kedatangannya dengan dingin dan tanpa kompromi.

Lihat selengkapnya