
Suara bising knalpot bajaj yang melengking bersahutan dengan klakson metromini seolah menjadi simfoni pembuka yang menyambut kedatangan Aryo di ibu kota. Udara sore Jakarta terasa begitu pekat, sarat dengan polusi debu jalanan dan uap panas aspal yang baru saja diguyur hujan gerimis sekejap. Di dalam sebuah gang sempit di kawasan Menteng Tenggulun, langkah kaki Aryo terdengar berat menyeret koper kain usang yang salah satu rodanya sudah macet. Koper itu berdecit setiap kali bergesekan dengan permukaan semen jalanan kampung yang sempit dan lembap.
Jam di pergelangan tangan Aryo menunjukkan pukul 16.30 WIB. Hari baru saja beranjak petang, namun langit Jakarta sudah tampak kelam, tertutup tumpukan awan kelabu yang menggantung rendah di atas pucuk-pucuk gedung pencakar langit. Gedung-gedung mewah berbalut kaca itu tampak berdiri angkuh, kontras dengan deretan jemuran pakaian warga yang bergelantungan sembarangan di antara kabel-kabel listrik yang semrawut.
"Cari kamar nomor dua belas, Mas? Di ujung lorong sebelah kiri, dekat tempat jemuran," sapa seorang ibu paruh baya pemilik warung kopi kecil yang sedang duduk di kursi plastik sambil mengipasi arang. Suaranya nyaris tenggelam oleh suara televisi dari dalam rumah tetangga yang menayangkan sinetron sore.
"Iumlah, Bu. Terima kasih," jawab Aryo singkat dengan senyum kaku. Tenggorokannya terasa kering, dan peluh bercucuran membasahi kemeja flanel kotak-kotaknya yang mulai kusut setelah perjalanan kereta ekonomi selama belasan jam dari Solo.
Aryo melangkah pelan menyusuri lorong petak kosan yang hanya cukup dilewati satu orang dewasa. Bau apak bercampur aroma minyak tanah dan masakan menyengat hidungnya. Pintu-pintu kayu tripleks berderet rapat, sebagian besar tertutup rapat dengan gembok kusam tergantung di selotnya. Sesampainya di depan pintu nomor dua belas, Aryo merogoh kantong celananya, mencari anak kunci kuningan yang terasa dingin di telapak tangannya.
"Akhirnya sampai juga," bisik Aryo pada dirinya sendiri, seolah butuh pengesahan bahwa ia benar-benar telah berpindah dari zona nyamannya di kampung halaman menuju rimba beton metropolitan ini.
❖ ❖ ❖
Begitu kunci berputar dan pintu tripleks terbuka ke dalam, embusan udara panas yang terjebak di dalam ruangan langsung menyambut wajah Aryo. Ruangan itu begitu sempit—ukurannya tidak lebih dari dua setengah kali dua meter. Tidak ada tempat tidur berperosotan atau lemari besar di dalamnya. Hanya ada sebuah kasur busa tipis yang diletakkan langsung di atas lantai keramik putih yang sudah menguning, sebuah kipas angin kecil berkarat di sudut ruangan, dan jendela nako kecil yang menghadap langsung ke tembok bangunan sebelah.
Aryo meletakkan kopernya di dekat pintu, lalu menjatuhkan tubuhnya bersila di atas kasur tipis tersebut. Suara derit per busa yang lelah langsung terdengar nyaring. Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit tripleks yang dihiasi sarang laba-laba di sudutnya.
Bukan kemewahan yang ia cari di kota besar ini. Tujuan Aryo datang ke Jakarta sangatlah sederhana, namun di saat yang bersamaan terasa sangat berat untuk digapai: mendapatkan pekerjaan tetap dan mengirimkan uang secara rutin untuk biaya pengobatan ibunya di kampung serta melunasi sisa utang almarhum ayahnya.
"Aku harus bertahan, setidaknya sampai kontrak kerja tiga bulan pertama turun," gumam Aryo, mencoba menanamkan keberanian di dalam dadanya yang mulai bergemuruh oleh rasa cemas.
Di atas meja plastik kecil di sebelah jendela, tergeletak sebuah amplop cokelat berisi ijazah sarjana sastra yang diperolehnya dengan susah payah tahun lalu, serta cetakan surat panggilan wawancara kerja dari sebuah perusahaan penerbitan di kawasan Sudirman. Posisi itu adalah satu-satunya harapan setelah puluhan lamaran kerja online yang dikirimkannya dari kampung berujung pada penolakan otomatis atau sekadar digantung tanpa kejelasan.
Aryo tahu persis taruhannya besar. Uang sisa tabungannya di dompet kini tinggal tiga ratus ribu rupiah—cukup untuk bertahan hidup selama seminggu ke depan jika ia hanya makan mie instan dan telur rebus. Jika dalam waktu dekat ia tidak segera diterima bekerja, ia bukan hanya harus memikirkan cara membayar uang sewa kos bulan depan, tapi juga memikirkan bagaimana caranya pulang dengan muka tertunduk di hadapan ibunya.
"Tidak ada pilihan lain. Besok pagi, jam delapan tepat, aku harus sudah sampai di kantor itu," ucap Aryo mantap, meraih botol air mineral dari dalam koper dan menegguknya perlahan untuk membasahi tenggorokannya yang terasa tercekat.
❖ ❖ ❖
Matahari perlahan tenggelam sepenuhnya, menyisakan kegelapan malam yang pekat di gang-gang sempit Menteng Tenggulun. Lampu-lampu neon remang-remang mulai menyala dari teras rumah warga, memantulkan bayangan panjang yang meliuk-liuk di dinding semen yang terkelupas.
Aryo bangkit dari duduknya. Perutnya mulai berkeroncong hebat, menuntut asupan setelah seharian penuh hanya diisi oleh sebotol teh manis hangat di stasiun. Ia melangkah keluar kamar kos, berniat mencari warung makan terdekat yang ramah di kantong mahasiswa rantau sepertinya.
Suasana malam di luar ternyata jauh lebih hidup dibandingkan sore tadi. Aroma sedap bumbu pecel lele, sate Madura, dan nasi goreng gerobak berkejaran di udara, menggugah selera sekaligus mengingatkannya pada realitas harga makanan di kota besar yang jauh lebih mahal ketimbang di kampung halamannya.
"Makan apa, Mas? Baru pindah ya?" tanya seorang pria paruh baya penjual nasi uduk keliling yang kebetulan sedang melintas di depan lorong kos.
"Iya, Pak. Cari nasi uduk bungkus satu, sama tempe goreng ya," jawab Aryo sambil merogoh dompetnya.
"Sembilan belas ribu semuanya, Mas," kata penjual itu ramah.
Aryo sedikit tertegun. Di kampungnya, uang sembilan belas ribu rupiah sudah bisa mendapatkan satu porsi lengkap dengan ayam goreng ukuran sedang. Namun di sini, harga itu hanya berwujud sebungkus nasi uduk berukuran sedang dengan dua buah tempe goreng tepung yang sudah agak dingin. Aryo menelan ludah, menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan, dan menerima uang kembalian seribu rupiah dengan senyum dipaksakan.
Kembali ke kamar kos yang pengap, Aryo menyantap makan malamnya dalam diam. Suara dengungan kipas angin tua di sudut ruangan menjadi satu-satunya latar suara yang menemani kunyahannya. Ruangan yang sempit itu kini terasa semakin menyusut, seolah dinding-dinding tripleksnya merangsek maju untuk menghimpitnya.
Ia memandangi sepatu pantofel hitamnya yang tersusun rapi di dekat pintu. Sepatu itu sudah disemir mengkilap sejak dari kampung, disiapkan khusus untuk menghadapi hari penentuan esok hari. Aryo tahu, malam ini adalah malam pertamanya merasakan dinginnya malam di ibu kota seorang diri, tanpa sanak saudara, tanpa teman tempat mengadu, hanya ditemani oleh ambisi dan ketakutan yang datang bergantian merayapi pikirannya.
❖ ❖ ❖
Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika suara bising dari kamar kos sebelah membangunkan Aryo dengan entakan kasar. Seseorang sedang menggedor-gedor pintu kayu dengan keras sambil berteriak memanggil nama temannya. Aryo melirik jam tangan di samping kepalanya—pukul 05.30 WIB.
Dengan kepala yang sedikit pening karena semalam ia kesulitan tidur akibat udara panas dan dengkur tetangga sebelah, Aryo bergegas bangun. Ia mengambil handuk kecil dan berjalan menuju kamar mandi umum di ujung lorong. Di sana, antrean sudah mengular. Tiga orang penghuni kos tampak berdiri gelisah sambil memegang gayung dan sikat gigi, menunggu giliran dengan wajah masam khas orang yang kurang tidur.
"Masih lama, Bang?" tanya Aryo kepada seorang pemuda berambut gondrong yang berdiri tepat di depannya.
"Baru juga masuk, sabar dikit napa. Kalau mau cepat, mandilah subuh-subuh buta," jawab pemuda itu acuh tak acuh tanpa menoleh.