
Senja di ujung musim gugur selalu merangkak lambat, membawa serta kabut tipis yang mengepul dari permukaan danau buatan di sudut kota pinggiran itu. Langit berubah warna menjadi lembayung kelabu, memantulkan bias cahaya terakhir dari lampu-lampu neon yang mulai berdengung di sepanjang jalan raya utama. Udara terasa dingin, menusuk hingga ke balik mantel tebal yang dikenakan oleh Aris. Ia berdiri tepat di dekat bilik telepon umum tua yang cat birunya sudah mengelupas di banyak bagian, memperlihatkan karat kecokelatan yang menyerupai luka bakar di sekujur tubuh besi tempa tersebut. Suara deru kendaraan yang melintas sesekali memecah kesunyian, menyisakan cipratan air genangan dari aspal yang basah oleh sisa hujan sore tadi. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Waktu seolah berjalan lebih lambat dari biasanya, seiring dengan detak jantungnya yang bergemuruh di dalam dada. Di dalam genggaman tangannya yang mulai berkeringat dingin, selembar kertas kecil kusut berisi serangkaian deretan angka terasa begitu berat, seolah kertas itu menanggung beban seluruh hidupnya yang hampir runtuh.
"Kau yakin mau melanjutkan ini, Aris? Tempat ini sudah lama ditinggalkan. Tidak ada lagi orang waras yang datang ke bilik telepon pinggir jalan di tengah malam buta seperti ini," suara Dika, sahabat masa kecilnya, terdengar ragu dari balik kemudi mobil sedan tua yang terparkir di tepi jalan, kaca jendelanya terbuka separuh.
Aris tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada bilik telepon yang berbau lembap dan sengatan karat besi. "Aku tidak punya pilihan lain, Dik. Hanya ini satu-satunya petunjuk yang tersisa setelah sekian lama kita mencari ke sana ke mari tanpa hasil," jawab Aris dengan suara parau, napasnya membentuk kepulan uap tipis di udara dingin.
"Tapi nomor itu... bagaimana mungkin sebuah sambungan dari tempat yang sudah dihancurkan bertahun-tahun lalu bisa aktif kembali?" Dika mendengus kecil, mencemaskan keselamatan mental sahabatnya yang sudah berbulan-bulan terobsesi dengan misteri hilangnya sang adik, Rara.
"Aku harus mencobanya. Entah ini nyata atau hanya permainan pikiran yang kejam, aku tidak peduli lagi. Aku harus mendengar suara itu," ujar Aris tegas, lalu melangkah masuk ke dalam bilik yang sempit dan pengap. Bau debu tua dan kertas basah langsung menyergap indra penciumannya.
❖ ❖ ❖
Ia menutup pintu bilik dengan gerakan pelan, meredam sebagian besar suara bising kendaraan di luar. Ruangan kecil itu terasa begitu sunyi, seolah menjadi dunia yang terisolasi dari hiruk-pikuk kota yang kejam. Aris merogoh saku mantelnya, mengeluarkan koin logam berat yang telah ia siapkan khusus untuk keperluan ini. Koin itu terasa dingin di telapak tangannya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia memasukkan koin tersebut ke dalam slot mesin telepon koin yang sudah tampak usang. Suara logam berderit nyaring ketika koin itu jatuh ke dalam perut mesin, memicu aliran listrik samar yang menghidupkan lampu kecil berwarna kuning kusam di atas papan tombol angka. Cahaya itu menerangi separuh wajah Aris yang tirus dan penuh bayangan lelah.
Tujuan utama Aris malam ini bukan sekadar mendengar suara dering sambungan, melainkan menemukan jawaban pasti atas teka-teki yang telah merenggut ketenangan batin keluarganya selama tiga tahun terakhir. Ia ingin mengakhiri ketidakpastian yang menyiksa ini, membongkar kebenaran di balik malam nahas ketika Rara menghilang tanpa jejak dari asrama kampusnya. Setiap detik penantian terasa seperti tusukan jarum yang perlahan-lahan menggerus kewarasannya. Ia tidak peduli jika pertaruhan ini berujung pada kekecewaan yang lebih besar; yang terpenting baginya saat ini adalah menemukan titik terang, sebuah ujung benang kusut yang dapat membimbingnya kembali kepada adiknya tercinta. Rasa penasaran bercampur rasa takut bergemuruh hebat di dalam kepalanya, menciptakan perang batin yang melelahkan.
"Kumohon, angkatlah..." gumam Aris pelan, matanya terpejam sejenak sebelum ia mulai menekan satu persatu angka pada papan tombol yang terasa lengket.
Satu... delapan... empat... sembilan... dua... tiga... satu...
Setiap kali tombol ditekan, suara klik mekanis terdengar nyaring di dalam bilik yang sempit itu, bergema di telinganya bagaikan detak jam kematian. Setelah angka terakhir dimasukkan, Aris segera mendekatkan gagang telepon yang berat ke telinganya. Hening. Tidak ada suara nada panggil standar seperti tut... tut... yang biasa ia dengar. Yang ada hanyalah dengung statis yang pekak, suara desis frekuensi radio rusak yang bercampur dengan bunyi gemerisik angin yang seolah bertiup dari dalam kabel tembaga bawah tanah. Aris menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering seperti gurun pasir. Ia mengeratkan pegangannya pada gagang telepon, bersiap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi di ujung sana, baik itu suara asing yang mengancam maupun kehampaan mutlak yang akan memupus seluruh harapannya malam ini.
❖ ❖ ❖
Suara desis itu perlahan berubah intensitasnya, naik turun seirama dengan deru napas Aris yang mulai memburu. Jari-jarinya mencengkeram erat dinding bilik yang dingin, mencari sandaran fisik di tengah ketidakpastian yang mencekam. Transisi antara dunia luar yang nyata dan dunia di dalam sambungan telepon ini terasa begitu tipis, bagaikan selaput air yang siap pecah kapan saja. Aris merasa dirinya sedang berdiri di tepi jurang yang sangat curam, di mana langkah kecil saja bisa membawanya terjun ke dalam kegelapan abadi. Pikirannya melayang kembali pada kenangan masa kecil bersama Rara, saat mereka sering bermain, berlarian di bawah hujan tanpa rasa takut. Kontras antara kehangatan masa lalu dan dinginnya kenyataan saat ini menghadirkan rasa sesak yang luar biasa di dadanya.