Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Rutinitas yang Menyesakkan

Deru mesin cetak offset berukuran raksasa mengguncang lantai beton pabrik tekstil dan garmen tempat Aryo bekerja setiap harinya. Pukul tujuh pagi pas, peluit panjang bernada melengking memecah udara pagi kawasan industri pinggiran kota, menandakan gerbang baja pabrik telah ditutup rapat. Aryo berdiri di antara puluhan buruh kontrak lainnya di barisan absensi sidik jari, mengenakan seragam abu-abu kusam yang sudah berbau peluh dan oli mesin. Udara di dalam ruang produksi terasa pengap dan panas, dipenuhi oleh serbuk-serbuk kapas halus yang beterbangan bebas di udara serta bising suara logam yang bergesekan tanpa henti, menciptakan simfoni industrial yang lama-kelamaan menggerus kewarasan siapa saja yang mendengarnya selama delapan jam penuh sehari.

"Cepat operasikan tuas pengaturnya, Aryo! Jangan melamun terus, bahan kain untuk shift pagi ini sudah menumpuk di jalur konveyor!" bentak Hardiman, sang kepala pengawas shift yang terkenal bertangan besi, sambil melintas di belakang punggung Aryo dengan langkah berat. Suaranya hampir tenggelam di balik deru mesin, namun tatapan matanya yang tajam dan menghakimi menembus punggung Aryo dengan telak.

"Baik, Pak! Segera saya tangani," balas Aryo setengah berteriak, mengerahkan sisa-sisa tenaga di kedua lengannya untuk menarik tuas besi hidrolik yang terasa sangat keras. Otot-otot di bahu dan lengannya berdenyut kaku, menahan beban mekanis yang berulang-ulang setiap sepuluh detik sekali. Punggungnya sudah basah oleh keringat dingin sejak jam pertama bekerja, sementara telapak tangannya kapalan dan terasa perih akibat gesekan konstan dengan gulungan kain kasar.

Rutinitas harian Aryo di pabrik percetakan dan tekstil ini telah berlangsung selama berbulan-bulan, membentuk sebuah lingkaran setan yang menyesakkan dada. Setiap hari, ia bangun sebelum matahari sempat menampakkan sinarnya di celah-celah genting kontrakan petaknya yang sempit, lalu berjalan kaki sejauh dua kilometer menuju halte bus kota yang selalu berdesakan. Di dalam bus yang penuh sesak oleh aroma tubuh manusia dan asap knalpot, ia berdiri bergelantungan pada pegangan besi yang berkarat, merenungkan nasib hidupnya di kota besar yang ternyata tidak seindah brosur lowongan pekerjaan. Setibanya di pabrik, ia langsung dihadapkan pada target produksi harian yang tidak masuk akal, diawasi oleh atasan yang tidak pernah mengenal kata toleransi, dan dipaksa bekerja bagai robot tanpa emosi hingga sore menjelang malam.

"Capek, Yo?" sapa Slamet, rekan sesama buruh kontrak asal Brebes yang berdiri tepat di sebelah mesin pencetak kain nomor empat, saat pabrik mendapat jeda istirahat siang selama tiga puluh menit yang terasa begitu singkat. Slamet melepas topi safety-nya yang kotor, menyeka keringat di keningnya dengan lengan baju yang sudah basah kuyup.

Aryo menjatuhkan tubuhnya yang lemas di atas bangku kayu panjang di sudut ruangan istirahat, meraih botol plastik air mineral hangat dari dalam tas ranselnya. "Kalau dibilang capek, rasanya seluruh tulang di badanku sudah mau copot, Slamet. Tapi kalau tidak dipaksa jalan, cicakan hidup di kota ini bakal melibas kita hidup-hidup," jawab Aryo dengan suara parau, tenggorokannya terasa kering seperti ampas kelapa.

"Makanya, nikmati saja selagi kita masih digaji, meskipun rasanya cuma pas-pasan buat bayar kontrakan dan kirim sedikit ke kampung," timpal Slamet sambil membuka bungkusan nasi bungkus berlapis kertas minyak yang sudah mulai dingin. "Tapi ya itu, lama-lama rasanya kita ini bukan lagi manusia, melainkan sekadar bagian dari suku cadang mesin pabrik yang kalau aus tinggal dibuang begitu saja."

Kata-kata Slamet menghujam teluk hati Aryo dengan sangat telak, merefleksikan persis apa yang ia rasakan selama ini. Kehidupan di ibu kota telah mereduksi eksistensi dirinya menjadi sekadar nomor induk pegawai dan deretan angka produksi. Tidak ada lagi ruang untuk merenung, tidak ada lagi waktu untuk menikmati keindahan senja seperti dulu ia lakukan bersama Sekar di teras rumah bambu. Yang tersisa hanyalah kelelahan kronis yang menumpuk dari hari ke hari, membuat pikirannya tumpul dan jiwanya terasa hampa, terjebak dalam ritme rutinitas harian yang monoton, melelahkan, dan amat sangat menyesakkan.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Aryo bertahan di tengah cengkeraman rutinitas pabrik yang membunuh jiwa tersebut bukan lagi sekadar mengejar ambisi karir yang muluk-muluk, melainkan sebuah misi bertahan hidup yang mendesak demi melunasi janji sucinya kepada Sekar di kampung halaman. Setiap kali alarm pabrik berbunyi pukul lima pagi dan rasa sakit menyerang sekujur persendian tubuhnya, Aryo selalu memejamkan mata sejenak, memegang erat dompet usang di saku celananya di mana foto kecil Sekar terselip rapi di baliknya. Foto itu adalah jangkar satu-satunya yang menjaga kewarasannya agar tidak hanyut dalam keputusasaan total di tengah rimba beton Jakarta.

"Aku harus mengumpulkan modal minimal sepuluh juta rupiah sebelum akhir tahun ini, Kar," bisik Aryo pada dirinya sendiri setiap kali ia menghitung sisa lembar uang gaji di bawah temaram lampu bohlam kontrakannya yang remang-remang. "Dengan uang itu, aku bisa pulang, merenovasi sebagian rumah tua peninggalan orang tuamu, dan kita bisa mulai merintis usaha kecil-kecilan di dekat pasar kecamatan tanpa harus hidup terkatung-katung lagi."

Target finansial yang jelas itu menjadi bahan bakar utama bagi Aryo untuk terus melangkah maju, meskipun setiap langkahnya harus dibayar dengan rasa sakit fisik yang luar biasa. Ia dengan sengaja mengambil shift tambahan atau lembur malam setiap kali kesempatan itu dibuka oleh pihak pabrik, meskipun itu berarti ia harus merelakan waktu istirahat malamnya yang berharga. Bagi Aryo, lelah secara fisik jauh lebih baik daripada rasa bersalah yang teramat sangat jika ia gagal memenuhi ekspektasi pernikahan yang sudah lama dinanti-nantikan oleh Sekar.

"Buat apa kamu ngoyo ambil lembur terus tiap malam, Aryo? Badanmu itu bukan terbuat dari baja," tegur Pak Joko, senior pabrik yang sudah sepuluh tahun bekerja di tempat yang sama, suatu sore ketika mereka sedang membereskan sisa gulungan kain di gudang. "Banyak anak muda sepertimu datang ke Jakarta dengan semangat membara, tapi akhirnya malah pulang tinggal nama karena TBC atau stroke akibat kurang tidur."

Aryo tersenyum tipis, menyeka peluh di dahinya dengan handuk kecil yang menggantung di lehernya. "Mau bagaimana lagi, Pak Joko? Waktu saya di sini terbatas. Saya punya tanggungan di kampung yang menunggu kepastian. Kalau saya tidak kerja keras sekarang, kapan lagi?"

"Kerja keras itu bagus, Nak, tapi jangan sampai kamu mengorbankan hal yang justru ingin kamu selamatkan," nasihat Pak Joko dengan nada suara yang lebih lunak, menepuk bahu Aryo pelan. "Kalau kamu pulang ke kampung tapi dalam kondisi sakit-sakitan atau bahkan kehilangan akal sehat karena stres, perempuan yang kamu tuju di sana tidak akan bahagia melihat keadaanmu."

Meskipun nasihat Pak Joko sangat masuk akal dan bernilai tinggi, Aryo merasa ia tidak punya banyak pilihan lain di tengah himpitan ekonomi perkotaan yang semakin hari semakin beringas. Harga sewa kontrakan terus merangkak naik, harga bahan pokok di pasar tradisional kian melambung, sementara kenaikan gaji tahunan di pabrik tempatnya bekerja tidak pernah sebanding dengan tingkat inflasi kota besar. Tujuan hidupnya kini menyempit menjadi sebuah pertahanan garis akhir: bertahan hidup di pabrik, menabung setiap sen yang tersisa, dan menjaga api komunikasi dengan Sekar agar tidak padam ditelan jarak dan kesibukan.

Setiap akhir pekan tiba, alih-alih menggunakan waktu liburnya untuk berjalan-jalan menikmati suasana kota atau sekadar tidur pulas seharian seperti yang dilakukan buruh lainnya, Aryo justru menghabiskan waktu berjam-jam di warung internet atau menggunakan ponselnya yang retak layarnya untuk membalas pesan panjang dari Sekar. Ia sengaja menutupi segala kepedihan fisik dan penindasan mental yang ia alami di pabrik dari pengetahuan Sekar, karena ia tidak ingin perempuan itu jatuh sakit atau menangis di kampung halaman karena terlalu mengkhawatirkan kondisinya di perantauan.

"Bagaimana pekerjaanmu minggu ini, Yo? Apakah kamu tidak terlalu lelah?" tanya Sekar dalam pesan suara WhatsApp yang dikirimkan pada suatu malam Minggu. Suara lembut Sekar selalu berhasil menghapus separuh rasa lelah di otot-otot Aryo seketika, meskipun hanya bersifat sementara.

Aryo membalas dengan nada suara riang yang sengaja dibuat-buat agar terdengar bersemangat. "Semuanya lancar, Kar! Pekerjaanku di pabrik berjalan baik, atasannya juga ramah. Kamu tenang saja di sana, fokus saja jaga kesehatan dan bantu ibumu di rumah. Sebentar lagi aku pasti pulang membawa hasil yang manis untuk kita berdua."

Tujuan suci tersebut terpatri begitu kuat di dalam sanubarinya, menjadi perisai gaib yang melindunginya dari makian mandor pabrik, debu pabrik yang menyesakkan dada, serta rasa kesepian akut yang kerap menyergap di kesunyian malam kontrakan. Aryo sadar bahwa ia sedang mempertaruhkan masa mudanya di atas ban berjalan pabrik tekstil yang bising, namun ia percaya bahwa setiap tetes keringat yang jatuh di lantai beton kusam itu akan berbuah manis pada akhirnya.

❖ ❖ ❖

Namun, betapapun kuatnya niat dan tujuan yang ia pegang, transisi dari semangat membaja menuju kelelahan mental yang kronis mulai menunjukkan gejala-gejalanya pada bulan-bulan berikutnya. Suatu sore di penghujung musim hujan, ketika Aryo berjalan pulang dari pabrik menuju kontrakannya di bawah rintik hujan gerimis yang dingin, tubuhnya mendadak terasa sangat ringan dan melayang. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada palu kecil yang menghantam tempurung kepalanya dari dalam secara berirama, sementara pandangannya tiba-tiba kabur dan buram.

Ia mencoba mempercepat langkah kakinya, namun keseimbangannya mendadak hilang. Kakinya terasa seperti terbuat dari kapas, tidak mampu menopang berat tubuhnya sendiri yang sudah terkuras habis oleh jadwal lembur tiga hari berturut-turut tanpa tidur yang cukup. Di tepi jalan raya perkotaan yang dipadati oleh deru kendaraan bermotor dan klakson bersahutan, Aryo terhuyung-huyung lalu terduduk lemas di trotoar beton yang basah oleh air hujan.

"Hei, Mas! Kamu tidak apa-apa? Jangan pingsan di sini, minggir sedikit!" seru seorang pengendara motor yang melintas, meneriaki Aryo dengan nada kesal sebelum tancap gas meninggalkan tempat itu tanpa peduli.

Aryo menundukkan kepalanya, memegang kedua pelipisnya yang berdenyut kesakitan. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, namun udara kota yang pekat oleh polusi justru membuat dadanya semakin sesak dan batuk kecil pecah dari tenggorokan keringnya. Transisi kondisi fisik dan psikologisnya kini telah mencapai titik kritis; tubuhnya mulai memberontak secara terang-terangan terhadap siksaan ritme kerja pabrik yang tidak kenal kompromi. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi terus-menerus memforsir tenaganya dengan cara seperti ini tanpa menghadapi konsekuensi yang jauh lebih fatal bagi kesehatan jiwanya.

Sesampainya di kontrakan dengan menyeret kaki yang gemetar, Aryo tidak langsung menyalakan lampu atau memasak air seperti biasanya. Ia langsung merebahkan tubuhnya yang basah kuyup di atas kasur busa tipis tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Matanya menatap langit-langit kamar yang bernoda jamur hitam akibat rembesan air hujan dari atap sebelah. Pikirannya melayang jauh kembali ke kampung halaman, membayangkan aroma tanah basah sehabis hujan di desanya, bayangan senja di teras rumah bambu, serta senyuman tulus Sekar yang menyambutnya di beranda.

Lihat selengkapnya