Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Musim Hujan di Kota Asing

Langit Jakarta sore itu berubah warna secara drastis, dari kelabu terang menjadi gelap pekat kehitaman dalam hitungan menit. Awan kumulonimbus menggantung rendah di atas atap-atap seng kawasan Menteng Tenggulun, seolah menindih kota metropolitan ini dengan beban berton-ton air yang siap tumpah kapan saja. Udara terasa begitu lembap dan pengap, membuat kulit terasa lengket oleh keringat sisa aktivitas seharian.

Di dalam kamar kosnya yang sempit berukuran dua setengah kali dua meter, Aryo duduk termenung di tepi kasur busa tipisnya. Suara gemuruh guntur bergemuruh pelan di kejauhan, disusul oleh angin ribut yang mendadak menderu kencang, menerobos masuk melalui celah-celah jendela nako yang tidak tertutup rapat. Tirai plastik kusam di jendela itu berkibar liar, menampar-nampar kusen kayu dengan bunyi berkeroncong.

"Mau hujan besar ini, Mas. Jangan lupa angkat jemurannya kalau ada di luar," teriak suara seorang tetangga dari balik dinding tripleks tipis, memperingatkan dengan nada khas logat Betawi yang nyaring.

"Iya, Bu, terima kasih!" balas Aryo setengah berteriak, meski ia tidak memiliki jemuran pakaian di luar karena semua bajunya yang basah baru saja ia angin-anginkan di dalam ruangan sempit itu menggunakan bantuan kipas angin tua berkarat.

Ini adalah bulan keempat Aryo tinggal di ibu kota. Musim hujan di Jakarta ternyata datang dengan watak yang jauh berbeda dibandingkan di kampung halamannya di Solo. Di kampung, hujan turun membawa kesujukan dan aroma tanah basah yang menenangkan jiwa. Namun di sini, di tengah hutan beton yang padat, hujan adalah sebuah teror harian yang langsung mendatangkan momok menakutkan bernama banjir genangan, kemacetan total, dan bau selokan yang meluap kepermukaan jalanan gang.

Aryo memalingkan pandangannya ke arah meja plastik kecil di sudut ruangan. Di atas meja itu tergeletak sebuah cangkir seng berisi sisa teh manis hangat yang sudah dingin, sebuah buku catatan kerja harian kantornya, serta sebuah bingkai foto kayu kecil berukuran paspor. Di dalam bingkai foto itu, tersenyum seorang gadis dengan rambut sebahu dan mata yang memancarkan keteduhan luar biasa—Raina.

Tetes air hujan pertama akhirnya jatuh menimpa seng atap kos dengan bunyi nyaring beruntun, berangsur-angsur berubah menjadi deru hujan lebat yang menenggelamkan segala suara bising kendaraan di jalan raya luar gang. Aryo menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya sejenak, sementara aroma petrikor yang bercampur dengan debu kota mulai merayap masuk melalui ventilasi kamar yang sempit.

❖ ❖ ❖

Derasnya air hujan yang mengguyur Jakarta seolah menjadi tirai pemisah antara Aryo dengan dunia luar yang kejam. Di dalam kesunyian kamar kosnya yang hanya diterangi oleh sebola lampu kuning remang-remang, Aryo menetapkan sebuah tujuan kecil untuk malam ini: bertahan dari serangan rasa sepi yang mendadak datang menghantam tanpa belas kasihan.

Sudah seminggu terakhir beban pekerjaannya di kantor penerbitan mulai meningkat drastis. Sebagai staf editor junior kontrak, ia dituntut untuk merampungkan puluhan naskah terjemahan dan artikel digital dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tekanan dari atasan yang perfeksionis, target harian yang ketat, serta gaji pas-pasan yang sering kali habis untuk biaya transportasi dan kebutuhan harian membuat mentalnya terkuras habis.

"Aku harus bisa menyelesaikan revisi naskah ini malam ini juga, atau posisiku di kantor akan semakin terancam," gumam Aryo pada dirinya sendiri, mencoba membuang jauh-jauh rasa malas dan kantuk yang mulai merayapi sekujur tubuhnya.

Ia membuka laptop jinjingnya yang sudah agak usang. Layar laptop itu memancarkan cahaya biru terang ke wajahnya yang tampak kuyu. Jari-jarinya mulai menari di atas papan tik, mengoreksi satu per satu kesalahan tata bahasa, ejaan, dan struktur kalimat dari naskah novel terjemahan yang sedang ia garap.

Namun, konsentrasinya buyar seketika begitu kilatan petir menyambar disusul suara ledakan guntur yang begitu keras hingga membuat kaca jendela bergetar hebat. Tak lama kemudian, lampu kamar kosnya berkedip dua kali, lalu padam sepenuhnya. Kegelapan total langsung melingkupi ruangan sempit itu.

"Ah, sial! Kenapa harus padam lampu di saat seperti ini?" seru Aryo kesal, menutup laptopnya dengan gerakan kasar hingga menimbulkan suara benturan kecil dalam gelap.

Ia meraba-raba meja di dalam kegelapan, mencari ponselnya untuk dijadikan sebagai sumber penerangan darurat. Layar ponsel yang menyala terang memperlihatkan sisa baterai yang tinggal sembilan belas persen. Aryo menghela napas panjang, merasa tujuannya untuk menyelesaikan pekerjaan malam ini mendadak menemui jalan buntu yang menjengkelkan.

Di luar kamar, suara air mengalir deras di saluran pembuangan gang terdengar semakin bising. Genangan air pasti sudah mulai meninggi, merendam jalanan setapak tempat biasa ia melangkah. Dalam situasi seperti ini, rasa rindu pada rumah, pada kehangatan keluarga, dan terutama pada sosok Raina, membuncah begitu kuat di dadanya, mendesak keluar dan mengaburkan segala ambisi profesional yang ingin ia capai di kota besar ini.

❖ ❖ ❖

Cahaya layar ponsel yang redup memantulkan bayangan wajah Aryo yang kelelahan di dinding kamar kos yang lembap. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding tripleks yang terasa dingin, sementara suara deru hujan di luar masih menghantam atap tanpa kenal lelah.

"Kenapa rasanya begitu berat ya, Rain?" bisik Aryo pelan, seolah ia sedang berbicara langsung dengan sosok di dalam bingkai foto yang tidak bisa meresponsnya.

Ingatannya perlahan melayang mundur, menembus jarak ratusan kilometer dan melompati ruang waktu, kembali ke sebuah sore di kota Solo beberapa tahun lalu. Saat itu, langit sore di atas alun-alun kidul juga mendung kelam, pertanda hujan deras akan segera turun.

"Aryo, jangan melamun terus! Cepat pakai jas hujannya atau kita basah kuyup nanti!" seru Raina kala itu, berdiri di samping sepeda motor bebek tua milik Aryo sambil mengenakan jas hujan plastik berwarna merah muda.

Aryo kecil—atau lebih tepatnya Aryo beberapa tahun yang lalu—sedang duduk merajuk di atas jok motor karena rencana mereka untuk menikmati sore di bukit bintang terpaksa batal total akibat cuaca buruk yang datang tiba-tiba. Wajahnya ditekuk masam, kedua tangannya dilipat di dada, menolak untuk bergerak sejengkal pun dari tempat parkir.

"Gimana sih, Rain? Padahal aku sudah merencanakan minggu ini buat jalan-jalan ke sana. Kenapa harus hujan terus sih sore ini?" protes Aryo dengan nada suara kesal waktu itu, menendang-nendang kecil kerikil di dekat ban motor.

Raina tertawa kecil mendengar gerutuan Aryo. Gadis itu tidak lantas marah atau ikut kesal. Ia justru melangkah mendekat, membuka tas punggungnya, lalu mengeluarkan sebungkus roti ketan hitam kesukaan Aryo yang masih hangat.

"Yaelah, ngambeknya anak manja kambuh lagi," kata Raina sambil mencolek hidung Aryo pelan dengan jarinya yang terbungkus plastik belanjaan. "Hujan itu bukan musuh kita, Yo. Hujan itu cuma cara alam buat ngingetin kita supaya berhenti sejenak dari kesibukan dan menikmati waktu berdua. Kalau gak ada hujan, kita gak bakal berteduh di warung bu Darmi sambil makan ketan hangat gini, kan?"

Aryo menatap Raina dengan mata setengah melotot waktu itu, namun pada akhirnya pertahanannya runtuh juga ketika aroma manis ketan hitam meruap di antara tetesan air hujan yang mulai turun rintik-rintik. Mereka berdua akhirnya duduk berdua di bawah terpal warung kecil, tertawa lepas menertawakan rencana liburan yang gagal.

Kenangan itu berputar begitu jernih di kepala Aryo di dalam kamar kosnya yang sempit di Jakarta, menciptakan rasa hangat yang kontras dengan dinginnya air hujan di luar sana.

❖ ❖ ❖

Lamunan manis Aryo mendadak buyar ketika sebuah suara ketukan pintu terdengar menggedor keras dari luar, memecah konsentrasi dan lamunannya.

Lihat selengkapnya