
Jakarta tidak pernah tidur, kota ini hanya berganti topeng. Di balik gemerlap lampu pencakar langit dan deru kendaraan yang tak pernah surut di jalanan protokol, tersimpan denyut nadi kehidupan yang kejam dan melelahkan. Udara malam di ibu kota selalu terasa berat, sarat dengan polusi, debu jalanan, dan aroma kopi murah dari warung-warung tenda pinggir jalan yang bersaing dengan asap knalpot. Di sebuah kos sempit berukuran tiga kali tiga meter di kawasan Menteng Tenggulun, Aryo duduk termenung di tepi ranjangnya yang beralaskan kasur busa tipis. Cahaya lampu neon kuning dari luar menerobos celah jendela yang ditutupi tirai usang, memantulkan bayangan suram di dinding kamar yang catnya sudah mulai mengelupas. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul sebelas lewat seperempat malam. Hari ini adalah hari yang panjang dan melelahkan bagi Aryo, seorang pemuda asal desa yang merantau ke Jakarta dengan membawa setumpuk impian besar dan prinsip hidup yang dijaganya sejak kecil. Di atas meja kayunya yang reot, berserakan dokumen lamaran pekerjaan, selembar ijazah perguruan tinggi swasta yang dibungkus plastik bening, serta dompet tipis yang isinya hampir ludes. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan dinginnya AC portabel pinjaman yang berdengung pelan, kontras dengan panasnya tekanan hidup di luar sana. Bayangan wajah ibunya di kampung terlintas di benak, mengingatkannya pada pesan terakhir sebelum ia menaiki bus antarkota: "Jaga diri, jaga harga diri, jangan pernah gadaikan kejujuran demi apa pun di tanah rantau." Kalimat itu selama ini menjadi jangkar bagi Aryo di tengah badai kehidupan kota besar yang bising, kota yang sering kali menuntut seseorang untuk menanggalkan idealisme demi bisa bertahan hidup. Namun, malam ini jangkar itu mulai terasa goyah, dihantam oleh ombak realitas ekonomi yang semakin menghimpit lehernya, membuatnya merenungkan kembali arti dari kesetiaan pada prinsip yang dipegangnya erat-erat selama berbulan-bulan di kota metropolitan ini.
"Aryo, kau masih terjaga? Buka pintunya sebentar, kawan!" suara serak berat dari luar pintu kamar menghentikan lamunan Aryo.
Itu adalah suara Doni, tetangga sebelah kamar kos yang sudah dua tahun malang melintang di belantara Jakarta. Tanpa menunggu jawaban, pintu kayu tripleks itu terbuka karena memang tidak pernah dikunci rapat. Doni melangkah masuk dengan gaya khasnya, mengenakan jaket kulit sintetis yang mengkilap dan bau parfum menyengat, membawa dua kaleng minuman bersoda di tangan kanannya. Ia melempar salah satu kaleng itu ke arah Aryo yang disambut dengan sigap oleh pemuda tersebut. Doni langsung mendudukkan diri di atas kursi plastik satu-satunya di ruangan itu, sementara Aryo tetap diam di tepi ranjang, menatap sahabat sekaligus penguji imannya tersebut dengan pandangan penuh tanya. Tujuan hidup Aryo di kota ini sebenarnya sederhana: mendapatkan pekerjaan yang layak secara halal, hidup mandiri, dan membanggakan orang tua di kampung halaman tanpa harus mengotori tangan. Namun, malam ini Doni datang membawa sebuah agenda lain, sebuah tawaran yang telah lama membayangi pikiran Aryo namun selalu ia tepis jauh-jauh. Doni menatap Aryo lekat-lekat, senyum miring tersungging di bibirnya sebelum ia membuka kaleng soda dengan bunyi letupan kecil yang memecah kesunyian kamar.
"Sampai kapan kau mau hidup begini, Yo? Makan mi instan tiap akhir bulan, nolak ajakan nongkrong karena alasan dompet tipis, dan terus-terusan ngirim lamaran ke perusahaan-perusahaan yang cuma berujung pada kata 'tolak'? Hidup di Jakarta itu butuh modal uang, bukan cuma modal idealisme usang," ucap Doni tajam, suaranya mengandung nada meremehkan yang bercampur dengan rasa ingin membantu cara hidup yang salah.
Aryo menggeleng pelan, meneguk sedikit air sodanya yang terasa dingin di tenggorokan. "Prinsip bukan barang usang, Don. Kalau aku melanggar apa yang sudah kuikrarkan pada diriku sendiri, apa bedanya aku dengan mereka yang menghalalkan segala cara?" balas Aryo tenang, meski dadanya bergemuruh mendengar sindiran telak itu.
"Harga diri itu tidak bisa dibeli dengan kejujuran kalau perutmu kosong, kawan. Lihatlah di luar sana, bos-bos besar, pejabat, semuanya bermain curang. Kalau kau tidak ikut bermain, kau yang akan diinjak-injak," timpal Doni lagi sambil menyeringai, mengeluarkan sebuah amplop tebal dari balik jaketnya dan melemparkannya ke atas meja di dekat tumpukan ijazah Aryo. "Ini proyek gampang. Tanda tangan di dokumen pengadaan logistik kantor cabang perusahaan tempatku bekerja. Tidak ada yang akan tahu, dan komisinya cukup untuk bayar kosanmu setahun penuh plus modal buka usaha."
❖ ❖ ❖