Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Kabar dari Kampung

Matahari sore baru saja meluncur turun di balik jajaran genting tua kawasan permukiman padat pekerja pabrik di pinggiran ibu kota, menyisakan bias kemerahan yang memantul di kaca jendela kontrakan sempit Raina. Di dalam ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu, aroma kertas tua dan teh melati hangat berpadu dengan debu jalanan yang menyusup lewat celah ventilasi. Raina duduk bersila di atas tikar pandan usang, memegang sebuah amplop kertas cokelat kusam yang baru saja diantarkan oleh tukang pos keliling beberapa menit lalu. Cap pos yang tertera di sudut kiri atas amplop itu menunjukkan stempel kantor pos kecamatan di kampung halamannya, sebuah tanda bahwa secarik kertas di dalam sana telah menempuh perjalanan ratusan kilometer demi sampai ke tangan yang tepat.

"Sudah lama sekali tidak ada kabar dari rumah, semoga saja semuanya baik-baik saja di sana," gumam Raina pelan pada dirinya sendiri, jemarinya yang sedikit gemetar merobek ujung amplop tersebut dengan hati-hati.

Di seberang ruangan, Rian—rekan sesama perantau yang tinggal di petak sebelah dan sering berbagi makan malam—melirik sekilas sembari membereskan perkakas kerjanya. "Surat dari kampung ya, Rain? Jarang-jarang sekarang orang pakai surat pos fisik begini. Biasanya langsung lewat gawai atau pesan singkat."

"Iya, Rian. Ibu di kampung paling tidak bisa kalau harus mengetik lewat ponsel pintar. Beliau lebih suka menulis di atas kertas bergaris, katanya rasa rindu itu tidak akan sampai kalau hanya dikirim lewat layar kaca," balas Raina sambil tersenyum tipis, meski ada debar kecemasan yang tiba-tiba bergemuruh di dalam dadanya.

Raina menarik selembar kertas bergaris ganda yang dilipat rapi dari dalam amplop cokelat tersebut. Tulis tangan ibunya yang mulai tampak kaku namun tetap terbaca jelas menyambut matanya. Suasana senja yang kian meredup di luar sana membuat Raina harus mendekatkan kertas itu ke arah lampu bohlam tunggal yang tergantung di langit-langit kamar. Setiap baris kalimat yang tertera di sana bukan sekadar tinta di atas kertas, melainkan jendela yang membuka kembali ingatan tentang desa kecil tempat ia dilahirkan, tempat di mana deru mesin pabrik tidak pernah ada dan waktu berjalan dengan ritme yang jauh lebih tenang.

Ia mulai membaca bait demi bait surat itu dalam hati, merasakan kehadiran sang ibu seolah sedang duduk tepat di hadapannya. Udara malam yang mulai merayap masuk lewat celah pintu seakan terabaikan oleh kepekatan emosi yang merayap naik ke tenggorokan Raina. Surat itu tidak hanya membawa kabar tentang kesehatan keluarganya, tetapi juga membawa angin perubahan kecil yang sedang melanda desa asal mereka di lereng bukit selatan.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Raina merantau ke ibu kota sejak dua tahun lalu sebenarnya sangat sederhana namun sarat beban: ia ingin membantu meringankan beban ekonomi keluarga setelah ayahnya jatuh sakit dan kebun kopi kecil milik mereka mengalami gagal panen berturut-turut. Setiap bulan, sebagian besar dari gaji pas-pasan yang ia dapatkan sebagai buruh sortir di gudang logistik selalu disisihkan dan dikirimkan lewat wesel pos ke kampung, demi memastikan adiknya bisa terus bersekolah dan biaya pengobatan sang ayah tetap terbayar tanpa harus berhutang pada rentenir desa.

"Tujuanku ke sini bukan untuk mencari kekayaan atau hidup mewah, Rian," pernah suatu ketika Raina berkata kepada temannya itu saat mereka duduk di warung kopi pinggir jalan. "Aku hanya ingin melihat ibu bisa tersenyum tenang di teras rumah tanpa harus pusing memikirkan dari mana lauk untuk esok hari bisa didapat."

Dalam surat yang baru saja ia terima, sang ibu menceritakan bahwa kiriman uang dari Raina bulan lalu telah digunakan sebagian untuk melunasi sisa hutang di warung sembako Pak Marto, dan sebagian kecilnya dialokasikan untuk memperbaiki atap dapur yang bocor setiap kali musim hujan tiba. “Ibu dan ayahmu di sini sehat-sehat, Nak,” begitu tulis sang ibu dalam suratnya. “Ayah sudah mulai bisa berjalan-jalan di sekitar halaman rumah menggunakan tongkat kayunya, meskipun belum boleh ikut ke kebun. Adikmu juga ranking tiga di sekolahnya berkat buku-buku baru yang kamu belikan beberapa bulan lalu.”

Membaca kalimat-kalimat tersebut, air mata kelegaan meleleh begitu saja di pipi Raina. Segala kepenatan fisik, bentakan mandor gudang yang galak, serta lelahnya berdiri sepuluh jam di tengah debu gudang seketika terasa lunas terbayar. Tujuan utamanya melangkah keluar dari zona nyaman desa kini menemukan validasi tertulisnya dalam bentuk senyum sang ayah yang mulai pulih dan prestasi sang adik di sekolah.

Namun, di paragraf berikutnya, surat itu juga memuat kabar lain tentang perubahan-perubahan kecil yang terjadi di desa asal mereka—perubahan yang tidak semuanya menyenangkan bagi telinga seorang perantau. Ibu menuliskan bahwa jalanan utama desa yang dulunya berupa tanah berbatu merah kini mulai dikerjakan oleh alat-alat berat pemerintah kabupaten untuk dilebarkan dan diaspal hotmix. Di satu sisi, hal itu membuat akses transportasi warga menjadi lebih mudah; namun di sisi lain, beberapa petak sawah dan rumpun bambu tempat masa kecil Raina dihabiskan harus rela digusur demi pelebaran jalan tersebut.

"Perubahan itu memang kadang datang tanpa meminta izin, ya," bisik Raina lirih, melipat surat itu pelan dan menaruhnya di atas meja kayu kecil di sebelah tempat tidurnya. Ia menyadari bahwa waktu tidak pernah berhenti di satu titik, baik di kota tempat ia berjuang maupun di desa tempat ia berasal. Semuanya bergerak, bergeser, dan menuntut adaptasi yang terkadang terasa menyakitkan.

❖ ❖ ❖

Transisi kehidupan antara realitas keras ibu kota dan bayangan desa yang terus berubah dalam surat ibunya menciptakan gelombang kontemplasi yang panjang di dalam batin Raina. Di ibu kota, segala sesuatu diukur dari kecepatan, efisiensi, dan deru mesin yang tidak kenal lelah; sementara di desa, meskipun modernisasi mulai merangsek masuk lewat proyek pengaspalan jalan, tarikan akar tradisi dan kehangatan hubungan antar tetangga masih menyisakan ruang bagi jiwa untuk bernapas.

"Bagaimana, Rain? Apakah ibumu bilang kalau harga beras di kampung sudah mulai turun?" tanya Rian memecah lamunan Raina sambil menyerahkan segelas teh hangat yang baru diseduhnya.

Raina menerima gelas tersebut, membiarkan kehangatan merambat dari dinding kaca ke telapak tangannya. "Tidak, Rian. Ibu tidak membahas harga beras. Tapi beliau cerita kalau jalanan di depan rumah kami sebentar lagi akan diaspal hitam. Kata ibu, nanti truk-tugas besar sudah bisa langsung masuk sampai depan halaman rumah."

"Wah, itu bagus dong! Berarti desamu sebentar lagi maju, ekonomi warga sekitar pasti ikut terangkat," timpal Rian antusias.

Lihat selengkapnya