Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Malam-Malam Insomnia

Malam ke-tigaratus delapan puluh dua di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu terasa seperti sebuah ruang hampa udara yang menekan dinding dada Aryo hingga nyaris remuk. Jarum pendek jam dinding plastik berbingkai merah di atas pintu telah menunjuk angka dua lewat empat belas menit dini hari, tetapi mata Aryo sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah pada kelelahan. Di luar sana, gerimis tipis yang turun sejak tengah malam bergesekan dengan seng kanopi jendela, menghasilkan suara berisik monoton yang justru semakin mempertajam kepekaannya terhadap kesunyian. Aryo berbaring telentang di atas kasur busa tipis yang tanpa seprai, menatap kosong ke arah langit-langit tripleks yang dicat putih kusam dan dihiasi noda rembesan air hujan musim lalu. Bau apek dari tumpukan buku naskah lama dan debu kamar yang jarang tersapu berpadu dengan aroma minyak kayu putih yang ia oleskan di pelipisnya untuk meredakan pening yang tak kunjung reda. Sudah sekian lama ia tidak bisa tidur dengan nyenyak, dan malam-malam insomnia ini telah menjelma menjadi sebuah ritual harian yang menyiksa, di mana setiap detik berlalu dengan lambat, dipenuhi oleh bayang-bayang masa lalu yang terus mendesak masuk ke dalam ruang sadarnya tanpa diundang.

"Kau menghitung hari lagi, Aryo?" bisik suara di dalam kepalanya, mengejek kebiasaan buruknya yang setiap malam selalu merobek satu lembar kalender dinding bekas untuk memastikan berapa lama waktu telah berjalan sejak kepergian Raina.

Aryo memiringkan tubuhnya, menatap meja kayu reyot di sudut kamar yang disinari cahaya biru pucat dari layar ponselnya yang tergeletak telentang. Di sebelah ponsel itu, tersandar bingkai foto kayu sederhana—satu-satunya foto Raina yang ia miliki, diambil tepat di bawah naungan pohon kenari stasiun pada malam keberangkatan itu. Dalam keremangan cahaya malam, wajah Raina tampak tersenyum tipis, seolah menertawakan ketidakberdayaan Aryo yang terjebak dalam lingkaran waktu yang berhenti.

"Aku tidak sekadar menghitung hari, Rain," jawab Aryo pelan pada udara kosong, suaranya parau dan serak karena kurang bicara seharian. "Aku sedang mengukur seberapa jauh jarak yang kini membentang di antara kita."

Jarak itu bukan lagi sekadar angka kilometer di atas peta jalur kereta api selatan, melainkan sebuah jurang kultural, sosial, dan psikologis yang semakin melebar setiap kali mereka berbicara lewat sambungan telepon. Di ibu kota, Raina kini dikelilingi oleh panggung-panggung megah, produser teater berpengaruh, dan diskusi-diskusi kreatif di kafe-kafe hipster kawasan Menteng. Sementara di sini, Aryo masih berkutat dengan lumpur kemiskinan kota kecil, mengecat sendiri properti panggung dari kardus bekas, dan memohon-mohon izin latihan di balai kelurahan yang hampir runtuh.

Ia bangkit dari tempat tidur, duduk bersila dengan menyelimutkan sarung kain usang ke pundaknya. Udara dingin dini hari merasuk lewat celah-celah ventilasi kayu yang tidak rapat, membuat kulitnya merinding. Aryo meraih ponselnya, membuka aplikasi perpesanan untuk yang kesekian kalinya malam ini, menatap layar chat terakhir mereka yang dikirim tiga hari lalu. Tidak ada balasan baru. Tanda centang dua biru itu seolah menjadi vonis bisu bahwa kesibukan Raina di Jakarta telah menelan perempuan itu bulat-bulat, menjauhkannya perlahan-lahan dari dunia kecil tempat mereka bermula.

"Apakah kau masih mengingat suara hujan di bawah pohon kenari itu, Raina?" gumamnya lirih, sementara matanya kembali menerawang menatap kegelapan di luar jendela kamar kos yang semakin pekat.

❖ ❖ ❖

Di balik siksaan insomnia dan kesunyian malam yang mencekam itu, tersimpan sebuah tujuan yang kian mendesak dan menuntut penyelesaian secepatnya: Aryo harus merampungkan proposal pementasan jalanan independen bertajuk Kidung Buruh Pabrik Gula sebelum fajar menyingsing, sebagai syarat mutlak agar kelompok teater lokal mereka bisa mendapatkan dana hibah alternatif dari lembaga swadaya masyarakat independen di kota provinsi tetangga. Batas akhir pengiriman berkas pendaftaran proposal tersebut adalah lusa siang, dan hingga detik ini, babak penutup naskah tersebut masih menyisakan perdebatan batin yang pelik di kepala Aryo.

Ia menarik meja kayunya mendekati tempat tidur, menyalakan lampu meja berwatt kecil yang memancarkan cahaya kekuningan, lalu membuka buku catatan bersampul kulit hitam milik Raina yang selama ini ia simpan di dalam laci terkunci sebagai jimat keberuntungan.

"Kita harus menunjukkan pada mereka bahwa seni rakyat tidak mati hanya karena dibungkam birokrasi lokal," tulis Raina dalam salah satu catatan marjinal di halaman tengah buku itu, kalimat yang kini menjadi bahan bakar utama bagi Aryo untuk terus memaksakan matanya tetap terjaga di jam-jam rawan ini.

Tujuan Aryo malam ini bukan lagi sekadar memenangkan hati para kritikus seni ibu kota atau membuktikan diri kepada Raina; lebih dari itu, ini adalah pertahanan terakhir eksistensinya sebagai seorang seniman teater di tanah kelahirannya sendiri. Jika proposal ini gagal lolos, maka kelompok teater yang telah mereka bangun dengan peluh dan air mata selama sepuluh tahun terakhir akan resmi dibubarkan, dan seluruh properti panggung serta arsip naskah lama harus disita untuk melunasi sewa gudang balai kelurahan.

Aryo mencelupkan ujung pena bulunya ke dalam botol tinta, lalu mulai menggoreskan kata-kata demi kata di atas kertas buram putih dengan kecepatan yang hampir seperti kesurupan. Setiap kalimat dialog yang ia tulis adalah cerminan dari kemarahan, kerinduan, dan keputusasaannya menghadapi jarak yang semakin membentang.

"Jangan biarkan jarak merobek apa yang sudah kita tanam di akar pohon kenari, Rain," ucapnya setengah berbisik, tangannya bergerak lincah menorehkan instruksi panggung yang dramatis untuk adegan klimaks perlawanan para buruh.

Ia tahu persis bahwa tujuannya malam ini sangat berat. Di saat yang sama, ada ketakutan mendalam bahwa sekokoh apapun ia merangkum naskah ini, Raina di Jakarta sana mungkin sudah berjalan begitu jauh ke depan, meninggalkan kenangan-kenangan usang di kota kecil ini sebagai masa lalu yang memalukan untuk diingat. Namun, keraguan itu ia tepis sekuat tenaga. Ia harus menyelesaikan tugas ini malam ini juga, tanpa kompromi, tanpa alasan kelelahan, dan tanpa air mata penyesalan.

❖ ❖ ❖

Transisi dari keheningan kontemplatif kamar kos menuju realitas dunia luar yang kejam terjadi ketika suara azan subuh berkumandang sayup-sayup dari surau kecil di ujung gang, berpadu dengan suara deru motor pengangkut sampah keliling yang mulai melintasi jalanan berbatu di depan kosnya. Aryo meletakkan penanya dengan tangan yang terasa kaku dan gemetar, menatap tumpukan kertas proposal yang kini telah terjilid rapi di atas meja. Di luar jendela, langit malam yang pekat perlahan-lahan mulai memudar, menyisakan warna abu-abu pucat yang menandakan datangnya pagi. Transisi waktu ini selalu menjadi saat-saat paling menyiksa bagi Aryo setiap kali ia mengalami insomnia; peralihan dari keheningan malam yang privat ke kesibukan pagi hari yang menuntut kewarasan sosial.

Ia berdiri dari kursi kayunya, meregangkan otot-otot punggungnya yang terasa kaku akibat duduk berjam-jam dalam posisi membungkuk, lalu melangkah ke arah cermin gantung berbingkai kayu jati di sudut ruangan. Pantulan cermin memperlihatkan sosok seorang pria berantakan dengan mata merah menyala, rambut acak-acakan, dan janggut lebat yang tidak tercukur rapi.

"Kau kelihatan seperti mayat hidup, Aryo," cibirnya pada bayangan sendiri di cermin, mencoba tersenyum kecut untuk mencairkan ketegangan di wajahnya.

Lihat selengkapnya