Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Proyek Ambisius

Ruangan divisi editorial PT Cipta Aksara Media terasa begitu dingin akibat hembusan pendingin ruangan yang dipatok pada suhu terendah. Jam dinding berbingkai perak di atas meja resepsionis menunjukkan pukul 21.15 WIB. Sebagian besar karyawan tetap sudah lama meninggalkan meja kerja mereka, bergegas pulang untuk menikmati malam Minggu bersama keluarga atau sekadar melepas penat di kafe-kafe hipster kawasan Sudirman. Namun, di sudut paling belakang ruangan, lampu meja kerja Aryo masih menyala terang, memancarkan cahaya kekuningan yang menyoroti tumpukan kertas naskah terjemahan dan layar monitor yang dipenuhi coretan draf teks digital.

"Belum mau pulang, Yo? Kantor udah mau ditutup sama satpam lho," tegur Doni, rekan sekantornya yang sedang mengenakan jaket kulit cokelat sambil menenteng tas kerja.

Aryo mendongak dari layar monitornya, mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa perih dan kering akibat terlalu lama menatap pantulan cahaya biru. Ia tersenyum tipis, memperlihatkan raut wajahnya yang tampak semakin tirus dengan bayangan hitam pekat melingkari kedua matanya.

"Belum, Don. Dikit lagi bab ini selesai. Tanggung kalau ditinggal sekarang," jawab Aryo dengan suara parau khas orang kelelahan.

Doni menggelengkan kepala pelan seraya menepuk bahu Aryo sekilas. "Gila lu, kerja kayak tidak kenal waktu. Mentang-mentang statusnya lagi dipertimbangkan buat jadi editor tetap, badan jangan disiksa begini. Ingat kesehatan, bro."

"Iya, tenang aja. Makasih ya, Don. Hati-hati di jalan," balas Aryo ramah.

Begitu langkah kaki Doni menghilang di balik pintu lift, ruangan tersebut kembali jatuh dalam kesunyian total. Hanya terdengar suara dengungan halus pendingin ruangan dan ketukan ritmis jemari Aryo di atas papan tik.

Ini sudah bulan kesepuluh Aryo merantau di ibu kota. Kamar kos sempit di Menteng Tenggulun kini telah berubah menjadi tempat persinggahan singkat yang hanya ia gunakan untuk tidur selama tiga atau empat jam sehari. Selebihnya, waktu hidupnya dihabiskan di balik meja kubikel kantor ini.

Udara malam Jakarta di luar gedung tampak lengang, diselingi rintisan gerimis tipis yang membasahi jalanan aspal kawasan bisnis. Di tengah keheningan malam itu, Aryo menatap lembaran kalender meja yang menunjukkan tanggal 14 Oktober 2026. Waktu terus berjalan, dan tekad di dalam dadanya semakin mengeras tanpa ada celah untuk berkompromi dengan rasa lelah.

❖ ❖ ❖

Aryo kembali memfokuskan pandangannya pada layar monitor. Di hadapannya terpampang sebuah draf proyek buku non-fiksi setebal empat ratus halaman berjudul Arsitektur Peradaban Modern. Proyek tersebut bukan sekadar tugas biasa; itu adalah mega-proyek tahunan penerbit tempatnya bekerja yang digadang-gadang akan menjadi buku best-seller nasional akhir tahun ini.

Pimpinan redaksi telah menunjuk Aryo sebagai salah satu editor utama pendamping untuk proyek ambisius tersebut—sebuah kepercayaan besar sekaligus beban terberat yang pernah ia pikul selama berkarier di dunia penerbitan.

"Jika proyek ini sukses dan mendapatkan bonus akhir tahun sesuai janji perusahaan, aku bisa mengumpulkan cukup uang untuk membeli tiket pesawat pulang ke Solo, melunasi sisa cicilan utang almarhum bapak, dan membawa oleh-oleh layak untuk ibu," bisik Aryo pada dirinya sendiri, merumuskan tujuan hidupnya yang kian hari kian mengerucut pada satu titik: pulang dengan membawa kemenangan.

Bagi Aryo, kepulangan ke kampung halaman bukan sekadar cuti liburan biasa. Ia ingin pulang dengan kepala tegak, membuktikan kepada para tetangga dan kerabat yang sempat meragukannya bahwa seorang pemuda dari gang sempit Menteng Tenggulun mampu bertahan dan menaklukkan kerasnya rimba beton Jakarta.

Ia meraih secangkir kopi hitam instan yang sudah mendingin di atas meja, menegguknya sekilas untuk menghalau rasa kantuk yang menyerang hebat. Rasa pahit yang pekat langsung melumer di lidahnya, memberikan sedikit sengatan kesegaran pada syaraf-syaraf otaknya yang mulai tumpul.

"Satu bab lagi selesai, lalu aku periksa ulang bab pendahuluan," gumam Aryo penuh konsentrasi, jemarinya kembali bergerak lincah menyunting kalimat-kalimat terjemahan yang kaku agar menjadi narasi bahasa Indonesia yang mengalir indah dan bernyawa.

Ia tahu persis konsekuensi dari pilihannya ini. Mendedikasikan seluruh waktu, tenaga, dan pikirannya untuk bekerja berarti ia harus merelakan waktu istirahatnya, kehidupan sosialnya, dan kesehatan fisiknya. Namun, baginya, pengorbanan itu adalah harga mutlak yang harus dibayar demi sebuah masa depan yang lebih baik bagi keluarganya di kampung.

❖ ❖ ❖

Jarum pendek jam dinding kini telah bergeser menunjuk angka sebelas lewat empat puluh malam. Suasana lantai delapan gedung perkantoran itu benar-benar sepi, menyisakan pencahayaan temaram dari lampu koridor utama. Aryo meregangkan otot-otot lengannya yang terasa kaku, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara sambil melepaskan napas panjang yang terdengar berat.

Ia bersandar pada kursi kerjanya, memejamkan mata sejenak untuk meredakan denyutan nyeri di pelipisnya. Di dalam kesunyian malam itu, pikirannya mulai melayang jauh menembus batas ruang dan waktu, kembali mengingat perjalanan panjang yang telah membawanya sampai ke kursi kerja ini.

"Ingat gak, Yo, dulu waktu kita masih sering nongkrong di angkringan dekat stasiun?" suara lembut Raina tiba-tiba terngiang jelas di dalam ingatan Aryo, seolah gadis itu sedang duduk di kursi kosong sebelah biliknya.

Aryo tersenyum tipis dalam pejam matanya. Ingatan tentang masa-masa kuliah di Solo selalu menjadi tempat pelarian terhangat setiap kali ia merasa lelah di Jakarta. Dulu, ia dan Raina sering menghabiskan malam berjam-jam mendiskusikan buku sastra, impian masa depan, dan rencana-rencana besar yang ingin mereka wujudkan bersama.

"Kamu terlalu ambisius, Aryo. Hidup itu tidak harus selalu dikejar dengan berlari kencang. Kadang kita juga perlu duduk menikmati teh hangat sambil melihat bintang," ucap bayangan suara Raina menegurnya dengan nada jenaka.

"Kalau aku tidak berlari kencang, Rain, bagaimana aku bisa mengejar ketertinggalanku?" gumam Aryo pelan menjawab bayangan itu seorang diri di ruangan kantor yang kosong.

Kenyataan hidup memang jauh lebih kejam daripada angan-angan masa muda. Di Jakarta, waktu berjalan sepuluh kali lebih cepat dibanding di kota kecil. Setiap detik adalah persaingan; setiap kelengahan berarti tertinggal di belakang. Aryo menyadari bahwa dirinya bukan berasal dari keluarga berkecukupan yang memiliki jaring pengaman finansial jika ia gagal. Ia adalah tulang punggung tunggal bagi ibunya, dan satu-satunya sandaran harapan keluarga kecilnya di kampung halaman.

Ia membuka kembali matanya, menatap pantulan wajahnya sendiri pada layar monitor yang berwarna gelap. Bayangan seorang pemuda berambut sedikit berantakan dengan mata merah menatap balik ke arahnya—sebuah wujud nyata dari dedikasi total yang telah mengubah fisik dan mentalnya selama sepuluh bulan terakhir di ibu kota.

❖ ❖ ❖

Lamunan Aryo mendadak buyar ketika tiba-tiba layar monitor di hadapannya berkedip tajam, lalu berubah menjadi hitam pekat dalam sedetik. Suara dengungan kipas pendingin CPU komputer mendadak mati total.

Lihat selengkapnya