
Udara malam Kota Bandar Lampung merayap lambat, membawa serta kelembapan khas Teluk Betung yang berpadu dengan aroma kopi robusta dari kedai-kedai kecil di sudut trotoar. Jam di dinding ruang kerja kecil itu menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh menit malam. Cahaya kuning temaram dari lampu meja menyorot langsung pada tumpukan dokumen laporan keuangan yang berserakan di atas meja kayu jati tua. Di luar jendela kaca, kerlip lampu kendaraan di Jalan Wolter Monginsidi terlihat samar, menciptakan garis-garis cahaya kabur di balik kaca yang mulai diselimuti embun tipis.
Aris (32) menghembuskan napas panjang, membiarkan bahunya yang tegang sedikit kendur. Ruangan kantor itu sudah sepi. Rekan-rekan kerjanya yang lain sudah pulang sejak satu jam lalu, meninggalkan dirinya seorang diri bersama dengungan AC yang berdengung konstan. Di sudut ruangan, secangkir kopi hitam yang tadi diseduhnya sudah dingin, menyisakan permukaan hitam legam yang memantulkan bayangan langit-langit plafon yang retak rambut.
"Masih lembur, Ris?" suara lembut tiba-tiba memecah keheningan, membuat Aris sedikit tersentak dari lamunannya.
Aris mendongak, melihat Rian (34), atasannya sekaligus rekan kerja senior, berdiri di ambang pintu ruangan dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku. Rian memegang sebuah map biru di tangan kanannya.
"Ah, iya, Mas. Ini laporan akhir triwulan dari cabang Teluk Betung belum selesai diverifikasi. Ada beberapa selisih angka yang bikin pusing," jawab Aris sambil tersenyum tipis, merapikan letak kacamatanya yang melorot di batang hidung.
"Jangan terlalu dipaksakan malam ini. Badan butuh istirahat, nanti malah tumbang sebelum proyek besar minggu depan," balas Rian sambil melangkah masuk, meletakkan map biru itu di tepi meja Aris.
"Tanggung, Mas. Kalau ditinggal sekarang, besok pagi malah keteteran pas rapat evaluasi sama direksi. Lagian, di rumah juga sepi," ujar Aris pelan, nada suaranya mendadak berubah datar saat menyebut kata rumah.
Rian mengangguk pelan, seolah memahami arah pembicaraan itu. Ia menarik kursi kayu di sebelah meja Aris lalu duduk tanpa diundang. "Masih kepikiran kejadian minggu lalu?"
Aris terdiam sesaat. Jemarinya berhenti mengetik di atas papan tik laptop. Ia menatap layar monitor yang menampilkan barisan angka-angka Excel yang mulai kabur di matanya. "Bukan cuma kepikiran, Mas. Rasanya rumah itu sekarang cuma jadi bangunan kosong yang penuh kenangan. Setiap kali pulang, sunyinya itu... terasa menusuk banget."
"Wajar, Ris. Kehilangan orang yang kita sayangi setelah bertahun-tahun hidup bersama bukan hal gampang buat dilupain begitu aja dalam hitungan hari. Tapi Maya pasti nggak mau lihat kamu nyiksa diri kayak gini terus," kata Rian bijak, menepuk pelan pundak Aris.
"Aku tahu, Mas. Makanya aku coba sibukkin diri. Biar nggak ada waktu buat mikir atau nengok ke belakang," ucap Aris lirih, menatap kosong ke arah cangkir kopi dingin di depannya.
"Sibuk boleh, pelarian jangan. Kerja keras itu bagus, tapi kalau tujuannya buat lari dari kenyataan, capeknya bakal lipat ganda," sahut Rian sambil berdiri kembali. "Udah, selesaiku yang penting-penting aja. Habis itu langsung pulang, istirahat."
"Iya, Mas. Makasih sarannya," balas Aris.
Sepeninggal Rian, keheningan kembali merayap menguasai ruangan. Aris kembali menatap layar laptopnya, namun pikirannya melayang jauh menembus dinding-dinding kantor. Di luar, suara deru motor sesekali terdengar memecah malam yang semakin larut. Bandar Lampung dengan segala kesibukannya terasa begitu asing bagi Aris malam ini, meskipun ia sudah menghabiskan sebagian besar hidupnya di kota pesisir ini.
❖ ❖ ❖
Aris kembali fokus pada layar monitor. Jarinya kembali menari di atas tombol papan tik, membenahi satu per satu selisih angka pada kolom laporan keuangan. Targetnya malam ini jelas: menyelesaikan seluruh verifikasi data laporan cabang sebelum pukul sebelas malam, lalu menyerahkannya ke sistem server pusat agar esok pagi ia bisa fokus sepenuhnya pada presentasi strategi bisnis di hadapan para direktur utama.
Bagi Aris, kesuksesan dalam menyelesaikan proyek ini bukan sekadar urusan profesional atau mengejar bonus tahunan semata. Ada beban pembuktian diri yang harus ia bayar lunas. Semenjak kepergian Maya—istrinya yang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di Jalan Soekarno-Hatta enam bulan lalu—hidup Aris kehilangan poros. Pekerjaan adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa agar ia tidak benar-benar tenggelam dalam depresi.
"Harus selesai. Besok nggak boleh ada celah sedikit pun," gumam Aris pada dirinya sendiri, mempercepat ritme kerjanya.
Ia tahu betul bahwa posisi manajer operasional regional yang sedang diembannya saat ini adalah batu loncatan penting. Jika laporan triwulan ini disetujui tanpa catatan merah oleh direksi pusat di Jakarta, peluangnya untuk dipromosikan sebagai Kepala Divisi Operasional Wilayah Sumatra Bagian Selatan akan terbuka lebar.
Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar pelan, memunculkan nama 'Ibu' di layar yang menyala terang di tengah temaramnya ruangan. Aris menghela napas sejenak sebelum mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Bu?" sapa Aris dengan suara yang diusahakan selazim mungkin.
"Ris, kamu belum pulang? Ini sudah hampir jam sepuluh malam. Jangan terlalu diforsir kerjanya, kesehatan itu nomor satu," suara ibunya terdengar jelas di ujung sambungan, sarat dengan kecemasan seorang ibu.
"Belum, Bu. Ini tinggal sedikit lagi kok laporan cabangnya beres. Sebentar lagi kalau sudah beres, Aris langsung pulang ke apartemen," jawab Aris berbohong halus, tidak ingin ibunya di Pringsewu khawatir berlebihan.
"Jangan cuma bilang sebentar-sebentar terus. Kamu itu makannya bagaimana? Jangan bilang cuma ngopi terus dari sore?" tegur ibunya dengan nada tegas namun penuh kasih.
"Iya, Bu, nanti Aris cari makan di jalan kalau pulang. Ibu tidur aja duluan, jangan nungguin Aris ya," bujuk Aris lembut.
"Ya sudah, kalau ada apa-apa kabari Ibu. Jaga diri baik-baik di sana, jangan lupa doain Maya juga," pesan ibunya sebelum mengakhiri panggilan.
Sambungan terputus. Aris menatap layar ponselnya yang kini kembali gelap. Pesan terakhir dari ibunya barusan justru memicu gelombang sesak di dadanya. Maya. Nama itu selalu berhasil meruntuhkan pertahanan emosional yang sudah ia bangun susah payah seharian. Dulu, setiap kali ia lembur larut malam seperti ini, Maya selalu datang membawa sekotak mi goreng hangat atau secangkir teh camomile, menunggunya dengan sabar di sofa kecil dekat jendela ruang tamu rumah lama mereka.
"Kamu di mana sekarang, May..." bisik Aris pelan pada udara kosong di ruang kerjanya.
Tekadnya kini berlipat ganda. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu bangkit, bahwa hidupnya tidak hancur lebur begitu saja. Menyelesaikan laporan ini adalah langkah awal dari target besar yang ia tetapkan untuk dirinya sendiri: meraih promosi jabatan, membanggakan ibunya, dan membuktikan pada kenangan Maya bahwa ia adalah laki-laki yang kuat.
❖ ❖ ❖
Waktu merayap semakin larut. Jarum pendek jam dinding menunjuk angka sepuluh lewat lima belas menit. Suasana di luar kantor semakin senyap, menyisakan deru angin malam yang berhembus melalui celah ventilasi. Aris meregangkan otot-otot lehernya yang kaku, menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan hingga terdengar bunyi kertakan kecil dari tulangnya.
"Fiuh... hampir selesai," ucap Aris lirih, menatap persentase progres unduhan laporan di layar laptop yang sudah mencapai angka delapan puluh delapan persen.
Ia bangkit dari kursi, berjalan menuju dispenser air di sudut ruangan untuk mengisi ulang cangkirnya dengan air hangat. Saat ia berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke arah pelabuhan, pandangannya menerobos kegelapan malam. Lampu-lampu kapal yang bersandar di dermaga Teluk Betung tampak berkelap-kelip bagaikan kunang-kunang di atas air yang tenang.
Perjalanan hidupnya dalam enam bulan terakhir terasa seperti sebuah pelayaran di tengah badai besar tanpa nakhoda. Kehilangan Maya mengubah segalanya secara drastis. Rumah minimalis di kawasan Way Halim yang tadinya penuh dengan gelak tawa dan warna-warni kehidupan, mendadak berubah menjadi sebuah monumen kesunyian yang dingin. Setiap sudut ruangan menyimpan bayangan Maya: buku resep masakan yang tergeletak di rak dapur, tanaman hias lidah mertua di teras yang kini mulai layu karena jarang disiram, hingga aroma parfum bergamot yang seolah masih tertinggal di bantal tidur sebelah kanan.
"Kenapa harus secepat ini, May?" gumam Aris pelan, matanya mulai terasa panas.
Ia meneguk air hangat di cangkirnya perlahan. Tenggorokannya terasa kering. Di kantor ini, ia memang bisa bersembunyi di balik kesibukan dokumen, angka, dan target perusahaan. Namun, ia tahu persis bahwa pelarian ini ada batasnya. Suatu saat nanti, ia harus kembali ke rumah kosong itu, menghadapi ranjang yang dingin, dan menatap lemari pakaian Maya yang masih tertata rapi tanpa ada niat sedikit pun dari Aris untuk menyentuhnya.
"Ris, masih di sini?" suara langkah kaki mendekat, disusul oleh kemunculan Rian yang kembali membawa map arsip tambahan.
Aris segera memalingkan wajah, mengusap sekilas sudut matanya yang sempat basah sebelum berbalik menghadap atasannya itu. "Eh, Mas Rian. Iya, Mas, ini tinggal finalisasi data folder terakhir."
Rian memperhatikan gerak-gerik Aris dengan jeli. Sebagai atasan sekaligus teman dekat yang sudah menganggap Aris seperti adiknya sendiri, Rian sangat hafal kapan Aris benar-benar sibuk dan kapan ia sedang menyembunyikan luka.
"Matamu merah banget, Ris. Mending udahan sekarang. Laporan itu nggak bakal lari ke mana-mana besok pagi," kata Rian dengan nada prihatin.