
Matahari pagi di lereng bukit selatan baru saja merayap naik, menyapukan bias cahaya keemasan di atas hamparan daun-daun kopi yang basah oleh embun malam. Udara desa terasa begitu segar, dipenuhi oleh aroma tanah basah dan wangi khas bunga kopi yang sedang mekar di musimnya. Di teras rumah panggung kayu berukir sederhana milik keluarganya, Raina duduk bersila di atas tikar pandan sambil memegang sebuah nampan berisi cangkir-cangkir tanah liat berisi kopi hitam panas. Suasana di sekitar rumah terasa begitu hening dan menenangkan, jauh berbeda dari hiruk-pikuk bising kendaraan dan deru mesin pabrik di ibu kota yang dulu sempat mengurung hari-harinya selama bertahun-tahun.
"Pagi, Ibu," sapa Raina lembut ketika melihat ibunya melangkah keluar dari pintu dapur sambil membawa sebakul kecil biji kopi petik merah yang siap dijemur di halaman.
Ibu tersenyum hangat, garis-garis keriput di wajahnya tampak menenangkan, memancarkan ketabahan seorang perempuan desa yang telah melalui berbagai badai kehidupan. "Pagi juga, anakku. Tadi malam kamu tidur nyenyak? Ibu dengar dari kamarmu kamu masih terjaga sampai larut malam menulis sesuatu di buku harian."
Raina meletakkan nampan di atas meja kecil dari bambu, lalu bangkit berdiri untuk membantu ibunya menurunkan bakul berat tersebut ke pelataran jemur. "Iya, Bu. Raina hanya sedikit merenungkan beberapa hal sebelum tidur. Udara di desa ini kadang membuat ingatan lama tentang masa perantauan berkelebat begitu saja di kepala."
"Wajar saja, Nduk. Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk hidup seorang diri di kota besar seperti Jakarta," balas Ibu sambil menepuk pelan punggung tangan Raina penuh kasih sayang. "Tapi sekarang kamu sudah ada di sini, di rumah kita sendiri. Hati yang tadinya gelisah perlahan-lahan pasti akan menemukan ketenangannya kembali di tanah kelahiran."
Raina mengangguk pelan, membiarkan angin pagi berhembus lembut menerpa helaian rambutnya yang diikat longgar. Sejak kepulangannya dari perantauan akibat insiden kritis sang ayah beberapa waktu lalu, hari-hari Raina kini sepenuhnya diabdikan untuk merawat keluarga dan mengelola kebun peninggalan orang tuanya. Rutinitas barunya jauh dari kesan modern atau serba cepat; ia bangun sebelum subuh untuk membantu ibunya memasak di tungku kayu bakar, menyiapkan keperluan ayahnya yang kini sudah mulai pulih meskipun harus berjalan menggunakan tongkat, lalu menghabiskan waktu berjam-jam di bawah terik matahari menyortir biji kopi pilihan bersama para tetangga desa.
"Apakah kamu tidak merasa bosan menjalani hidup yang monoton seperti ini setiap hari, Raina?" tanya Siti, tetangga sekaligus teman masa kecil Raina yang kebetulan datang membawa sekantung gula merah pesanan ibu. "Biasanya anak-anak muda yang sudah pernah merasakan gemerlapnya kota besar akan merasa jenuh tinggal di desa yang sunyi."
Raina tersenyum tulus, menuangkan secangkir kopi panas untuk Siti. "Bosan? Sama sekali tidak, Siti. Di kota besar dulu, aku hidup dalam tekanan waktu dan suara bising yang tidak pernah berhenti. Di sini, meskipun pekerjaannya melelahkan secara fisik, jiwaku justru merasa merdeka dan damai."
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Raina pulang dan menetap kembali di desa bukan sekadar mencari pelarian dari kerasnya hidup di ibu kota, melainkan sebuah komitmen suci untuk memulihkan keutuhan dan kesejahteraan keluarganya yang sempat goyah. Semenjak ayahnya jatuh sakit dan kebun kopi mereka terbengkalai, roda ekonomi keluarga berputar sangat lambat. Raina bertekad untuk menggunakan seluruh pengalaman kerja dan relasi logistik yang ia pelajari selama di perantauan guna merevitalisasi hasil panen kopi desa mereka agar memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi di pasaran regional.
"Kita tidak boleh lagi menjual biji kopi kita secara asal-asalan kepada pengepul tengkulak dengan harga murah, Bu," ujar Raina suatu sore ketika mereka duduk di beranda belakang rumah sambil menyortir biji kopi kualitas ekspor. "Waktu aku bekerja di gudang logistik dulu, aku belajar banyak tentang bagaimana sistem rantai pasok dan standar kualitas pengemasan produk. Kalau kita mengolah biji kopi ini dengan metode sangrai tradisional yang benar dan mengemasnya dalam kantong kedap udara berlabel sendiri, kita bisa menjualnya langsung ke kafe-kafe di kota kabupaten dengan harga lipat dua kali lipat."
Ayah, yang duduk di kursi goyang rotan di dekat mereka sambil menyeruput kopinya, menatap Raina dengan sorot mata penuh rasa bangga dan keheranan. "Wah, anak gadis kita sekarang benar-benar sudah menjadi sarjana kehidupan kota, Bu. Pemikirannya sudah maju jauh melampaui batas desa kita."
Raina tertawa kecil mendengar pujian sang ayah, lalu mendekati lelaki paruh baya itu untuk memijat pelan bahunya yang masih sering terasa kaku. "Bukan sarjana, Yah. Raina hanya ingin apa yang kita kerjakan keringatnya tidak habis begitu saja dipermainkan oleh para tengkulak. Tujuan Raina sekarang sederhana: membuat kebun kopi keluarga kita hidup kembali, dan memastikan ayah serta ibu bisa menikmati hari tua tanpa harus kelelahan memikirkan biaya hidup."
Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, Raina sudah berjalan kaki menapaki jalan setapak menuju kebun kopi seluas dua hektar di lereng bukit. Ia memeriksa satu persatu pohon kopi robusta dan arabika, memangkas ranting yang mati, serta memastikan sistem irigasi sederhana dari aliran mata air pegunungan mengalir dengan lancar ke setiap petak tanah. Tujuannya sangat jelas: mengubah hasil bumi desa mereka menjadi sumber kemandirian finansial yang berkelanjutan, sehingga tidak ada lagi anggota keluarganya yang harus merantau jauh dengan linangan air mata seperti yang ia alami dulu.
Rutinitas harian tersebut memang menuntut ketahanan fisik yang prima. Telapak tangan Raina yang tadinya halus akibat bekerja di dalam ruangan ber-AC gudang kini kembali menebal dan mengeras, kulit wajahnya sedikit lebih gelap karena tersengat terik matahari pegunungan. Namun, di balik setiap lelah fisik yang mendera di penghujung hari, ada kepuasan batin yang luar biasa besar yang tidak pernah ia temukan selama di Jakarta—kepuasan melihat tunas-tunas kopi baru tumbuh subur dan senyum kelegaan terpancar di wajah kedua orang tuanya.
❖ ❖ ❖
Transisi dari kehidupan ritme serba cepat di ibu kota menuju ketenangan alam pedesaan bukanlah proses yang terjadi dalam semalam. Pada minggu-minggu awal kepulangannya, Raina sempat mengalami apa yang disebut sebagai sindrom kejutan budaya terbalik (reverse culture shock). Ketika malam hari tiba di desa yang sangat sunyi tanpa suara bising kendaraan atau lampu neon perkotaan, pikirannya sering kali melayang kembali pada rutinitas lamanya di gudang logistik, pada rekan-rekan kerjanya, dan tentu saja pada bayangan Aryo—lelaki yang pernah mengisi sebagian ruang hatinya sebelum takdir memisahkan jalan hidup mereka masing-masing di tengah badai perantauan.
"Kamu masih sering memikirkan Aryo, Nduk?" tanya Ibu suatu malam ketika mereka sedang melipat pakaian bersih di ruang tengah, seolah mampu membaca kilat keraguan di mata anak perempuannya.