Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Bisik-Bisik Tetangga

Suara radio transistor milik Bu RT yang menyiarkan tembang kenangan lawas berdendang pelan, bersahutan dengan bunyi gesekan sapu lidi di atas lantai semen teras rumah yang berdebu. Pukul 07.15 WIB pagi itu, udara Desa Karanganyar di pinggiran kota Solo terasa begitu segar, dibalut aroma khas daun pisang basah sisa embun subuh dan wangi masakan tumis kangkung yang menguar dari dapur-dapur warga. Di bawah naungan pohon mangga besar yang rindang di depan rumah, Mbok Minah tampak sedang melipat pakaian cucian sambil sesekali melirik ke arah jalan kampung yang berbatu.

"Eh, Minah! Tadi siang waktu aku belanja sayur di warung pojok, si Yu Ning ngomongin anakmu si Aryo lho," sapa Bu Broto, seorang tetangga sebelah rumah yang datang membawa baskom cucian kering, langsung mengambil tempat duduk di kursi bambu panjang tanpa diundang.

Mbok Minah menghentikan aktivitas melipat kainnya, menatap wajah tetangganya dengan kening berkerut halus. "Ngomongin apa lagi, Yu? Aryo kan memang lagi kerja keras di Jakarta sana buat cari rezeki halal."

"Ya ampun, Minah. Jangan terlalu polos jadi orang tua. Namanya anak muda merantau ke ibu kota sendirian, apalagi udah hampir setahun lebih jarang pulang ke kampung, hubungannya sama si Raina itu lho... makin gak jelas arah tujuannya," cetus Bu Broto dengan nada suara yang sengaja dikecilkan, seolah sedang membocorkan rahasia negara.

"Tidak jelas bagaimana maksudmu, Yu Broto? Aryo itu tiap bulan selalu kirim kabar dan kirim uang buat biaya berobatku," bela Mbok Minah, meski dadanya tiba-tiba berdesir tidak enak mendengar nada bicara tetangganya itu.

"Kabar lewat HP kan gampang, Minah. Coba lihat kenyataannya di luar sana. Gadis seperti Raina itu kan kembang desa, sarjana pula, kuliah di kota yang sama. Masak iya mau terus-terusan digantung sama lelaki yang cuma jadi pegawai kontrak di Jakarta dengan masa depan remang-remang? Kemarin saja keponakanku yang juragan tekstil terang-terangan nanyain si Raina. Katanya, kalau jodoh belum pasti, ya mending jangan buang-buang waktu," lanjut Bu Broto menggelengkan kepala prihatin.

Mbok Minah terdiam seribu bahasa. Goresan keriput di wajah tuanya tampak semakin jelas menahan beban pikiran yang mendadak menghantam. Angin pagi yang sepoi-sepoi tiba-tiba terasa begitu menyesakkan dada, membawa serta keraguan-keraguan pahit yang selama ini sengaja ia pendam rapat-rapat dalam benaknya.

❖ ❖ ❖

Di tempat lain yang berjarak ratusan kilometer dari desa itu, Aryo sedang duduk terpaku di ruang kubikel kantornya di lantai delapan gedung pencakar langit Jakarta. Jam dinding digital di atas meja menunjukkan pukul 09.30 WIB, namun pikirannya sama sekali tidak berada pada lembaran naskah suntingan yang terpampang di layar monitor. Telepon genggamnya yang tergeletak di samping papan tik bergetar pelan, menampilkan pesan singkat dari ibunya yang menceritakan perbincangan pagi tadi dengan para tetangga di kampung.

"Ibu cuma pengin kamu tenang kerja di sana, Nak. Tapi tetangga sekitar mulai banyak yang berbisik soal hubunganmu dengan Raina. Katanya, kalian sudah terlalu lama terpisah jarak, dan masa depan kalian kelihatan makin kabur," bunyi pesan dari ibunya yang dibaca ulang oleh Aryo untuk kesekian kalinya.

Aryo menghela napas panjang, menutup matanya sejenak sambil memijat batang hidungnya yang terasa pegal. Tujuan hidupnya saat ini di ibu kota bukan lagi sekadar bertahan hidup atau mencari bonus tahunan semata; ia memiliki target yang jauh lebih sakral dan mendesak: segera memantapkan karier, mengumpulkan modal pernikahan, dan pulang melamar Raina sebelum bisikan-bisikan sumbang di kampung benar-benar merusak kepercayaan gadis itu kepadanya.

"Tidak boleh ada keraguan. Aku harus buktikan ke semua orang di kampung bahwa pengorbananku selama ini tidak sia-sia," gumam Aryo pelan pada dirinya sendiri, mencoba menyalakan kembali bara semangat di dalam dadanya yang mulai meredup.

Ia tahu persis apa yang dirasakan Raina di Solo. Gadis itu tidak pernah menuntut kemewahan materi darinya. Namun, kesabaran manusia memiliki batasnya. Ketika seorang wanita melihat teman-teman sebayanya sudah menikah, membangun rumah tangga stabil, sementara ia sendiri masih harus menjalani hubungan jarak jauh penuh ketidakpastian dengan seorang pemuda rantau yang sibuk mengejar target kantor, rasa cemas pasti akan merayap masuk ke dalam hatinya.

"Aryo, naskah revisi bab tiga sudah dicek ulang? Pimpinan redaksi minta kepastian draf finalnya sore ini," sapa Doni, rekan sekantornya, yang tiba-tiba muncul di balik sekat kubikel sambil membawa setumpuk kertas.

"Ah, sudah, Don. Sebentar lagi saya rapikan format akhirnya," jawab Aryo cepat, berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang masam dan kembali fokus mengetik.

Bagi Aryo, setiap ketukan pada papan tik komputer kantor ini adalah investasi masa depan. Setiap paragraf yang ia sunting adalah batu bata yang menyusun jembatan kepulangannya menuju pelukan Raina. Ia tidak peduli dengan bisik-bisik tetangga atau cibiran orang kampung yang tidak tahu betapa beratnya berjuang hidup di rimba beton Jakarta. Targetnya jelas: akhir tahun ini, ia harus mengantongi promosi jabatan tetap agar memiliki kepastian finansial yang cukup untuk melamar sang kekasih secara resmi.

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan naik mencapai titik tertingginya, memancarkan terik panas yang menyengat di atas aspal jalanan ibu kota. Di dalam ruangan ber-AC dingin kantor penerbitan, kesibukan staf redaksi kian menjadi-jadi menjelang tenggat waktu penerbitan buku tahunan. Namun, pikiran Aryo justru melayang jauh menembus ruang dan waktu, kembali ke masa-masa indah ketika ia dan Raina masih sering menghabiskan sore bersama di beranda rumah gadis itu.

"Kamu yakin mau merantau jauh ke Jakarta, Yo?" tanya Raina suatu sore beberapa tahun lalu, sambil menyerahkan segelas teh manis hangat di teras rumahnya yang dikelilingi pot bunga melati.

"Yakin banget, Rain. Kalau aku cuma diam di desa, kapan lagi aku bisa punya modal cukup buat melamar kamu dan membahagiakan ibu?" jawab Aryo mantap waktu itu, tersenyum lebar menatap mata gadis di hadapannya.

Raina tersenyum lembut, meski ada binar keraguan yang tersirat jelas di sorot matanya. "Aku bukan tipe perempuan yang silau sama harta, Aryo. Tapi jarak itu kejam. Banyak cerita cinta anak rantau yang kandas di tengah jalan karena waktu dan kesibukan mengubah segalanya."

"Aku bukan mereka, Rain. Cintaku ke kamu gak bakal luntur cuma karena jarak," janji Aryo waktu itu dengan penuh keyakinan masa muda.

Kini, kenangan janji manis itu berputar balik menghantam kesadaran Aryo di tengah kubikel kantornya. Bisik-bisik tetangga yang disampaikan oleh ibunya tadi pagi seolah menjadi gema nyata dari ketakutan yang pernah diucapkan Raina bertahun-tahun lalu. Waktu telah berjalan hampir setahun, dan kenyataannya hubungan mereka kini benar-benar diuji oleh jarak, kesunyian, dan tekanan sosial dari lingkungan sekitar yang menuntut bukti nyata, bukan sekadar janji-janji kosong di balik layar telepon genggam.

"Aryo, dipanggil Pak Pimpinan di ruang rapat utama sekarang," suara Doni membuyarkan lamunan panjang Aryo seketika.

Aryo terperanjat kecil, segera merapikan kemeja flanelnya yang agak kusut, lalu berdiri dari kursi kerja. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia tahu, panggilan mendadak dari pimpinan redaksi di tengah proyek besar ini pasti berkaitan dengan evaluasi kinerja dan nasib masa depan status kepegawainya di perusahaan tersebut.

Ia melangkah menyusuri koridor lantai delapan menuju pintu kaca ruang rapat utama. Setiap langkah kakinya terasa berat, seolah membawa beban seluruh harapan keluarga di kampung serta bayang-bayang keraguan yang terus berbisik di telinga ibunya.

❖ ❖ ❖

Di dalam ruang rapat berbalut dinding kayu jati yang elegan, Pak Hendra selaku pimpinan redaksi sudah duduk bersidekap di balik meja oval besar, didampingi oleh seorang wanita manajer personalia berwajah tegas. Aryo membuka pintu pelan, lalu masuk dengan membungkukkan sedikit tubuhnya tanda hormat.

Lihat selengkapnya