Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Surat Balasan yang Menenangkan

Pukul 22.15 WIB malam itu, udara di kawasan Menteng Tenggulun terasa begitu pekat oleh sisa uap panas aspal kota yang baru saja diguyur hujan gerimis. Di dalam kamar kosnya yang sempit berukuran dua setengah kali dua meter, Aryo duduk bersila di atas kasur busa tipisnya. Hanya sebola lampu kuning remang-remang yang menerangi ruangan tersebut, memantulkan bayangan tubuhnya yang tampak kurus ke dinding tripleks yang mulai mengelupas.

Aryo baru saja pulang dari kantor penerbitan tempatnya bekerja di kawasan Sudirman. Kakinya terasa begitu pegal setelah seharian penuh harus berdiri dan mondar-mandir mengurus naskah cetak cetak ulang edisi spesial akhir tahun. Di atas meja plastik kecil di dekat jendela nako, tergeletak sebungkus nasi warteg berselimut kertas minyak yang sudah dingin, serta sebuah amplop putih bersih berstempel kantor pos Solo yang tampak sangat kontras di tengah berantakannya kamar kos tersebut.

"Surat dari Raina..." bisik Aryo lirih, jemarinya yang kasar dan sedikit kotor oleh sisa tinta cetak meraba permukaan amplop tersebut dengan sangat hati-hati, seolah takut merusak benda sakral yang baru saja ia ambil dari ibu pemilik kos sepulang kerja tadi.

Sudah hampir dua minggu sejak percakapan telepon penuh air mata mereka malam itu, di mana kecemasan dan bisik-bisik tetangga sempat hampir meruntuhkan ketahanan mental Aryo di ibu kota. Sejak malam itu, komunikasi mereka beralih kembali ke surat fisik dan pesan singkat terukur, demi menjaga ritme emosional masing-masing di tengah kesibukan yang luar biasa padat. Aryo menarik napas dalam-dalam, mencium aroma samar kertas surat yang seolah membawa serta wangi melati dari halaman rumah Raina di Solo.

Dengan menggunakan ujung gunting kecil, Aryo merobek sisi atas amplop putih itu perlahan-lahan. Ia mengeluarkan selembar kertas bergaris yang dipenuhi tulisan tangan rapi khas Raina—tulisan yang selama ini selalu menjadi mercusuar penenang setiap kali ia hampir tenggelam dalam kepenatan rimba beton Jakarta. Di bawah temaram cahaya lampu kuning, Aryo mulai merentangkan kertas tersebut, bersiap menelan setiap baris kata yang dikirimkan kekasihnya dari ratusan kilometer jauhnya.

❖ ❖ ❖

Mata Aryo bergerak cepat menyusuri baris demi baris kalimat pertama yang ditulis oleh Raina. Tujuan hidupnya saat ini sangatlah sederhana namun mendesak: mencari setitik ketenangan batin agar ia tidak kehilangan kewarasan di tengah tekanan target kantor dan rasa bersalah yang terus menghantui pikirannya.

“Untuk Aryo, kekasihku di seberang kota yang sibuk,” demikian bunyi alinea pembuka surat itu. “Malam ini, saat aku menulis surat ini di meja belajar kamarku, angin malam Solo berhembus pelan membawa suara jangkrik dari sawah sebelah rumah. Aku tahu kamu pasti sedang lelah, bergulat dengan setumpuk naskah dan deadline kantor yang tidak ada habisnya. Jangan pernah biarkan lelah itu mengubah niat baikmu, Yo.”

Aryo menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa tercekat membaca kalimat-kalimat penuh perhatian tersebut. Setiap kata yang dirangkai oleh Raina seolah memiliki daya sihir tersendiri untuk meredakan denyut nyeri di pelipisnya. Selama berbulan-bulan di Jakarta, tujuan utamanya memang mencari uang dan mengejar status pegawai tetap. Namun, di balik semua ambisi material itu, tujuan terdalam dari segala peluh dan air matanya adalah menjaga keutuhan ikatan batin dengan perempuan yang senantiasa menunggunya dengan sabar di kampung halaman.

"Aku harus bisa bertahan sampai mutasi ke Surabaya selesai, lalu segera pulang menepati janji," ucap Aryo pelan pada dirinya sendiri, seolah mempertegas komitmen yang sempat goyah beberapa waktu lalu.

Raina melalui suratnya seolah paham betul bahwa beban mental seorang anak rantau di ibu kota bukanlah hal sepele. Tekanan sosial, cibiran tetangga, dan rasa kesepian yang teramat sangat adalah racun mematikan bagi mereka yang tidak memiliki pegangan hidup yang kuat. Karena itulah, surat balasan ini dikirimkan bukan sekadar untuk berbasa-basi, melainkan untuk menjadi penawar racun kepenatan yang setiap hari menggerogoti jiwa Aryo.

Aryo kembali merapatkan pandangannya ke lembaran kertas surat tersebut, meresapi setiap nasihat bijak yang tertulis di sana, berharap kata-kata itu mampu meresap ke dalam aliran darahnya dan menghidupkan kembali semangat kerjanya yang sempat padam akibat badai masalah di kantor.

❖ ❖ ❖

Cahaya lampu kuning kamar kos memantulkan bayangan Aryo yang membaca dengan penuh khidmat. Pikirannya perlahan-lahan melayang menembus batas ruang dan waktu, mengenang kembali saat-saat di mana Raina selalu menjadi tempat perlindungan pertamanya setiap kali ia menghadapi masa-masa sulit semasa kuliah dulu.

“Ingatkah kamu, Yo, waktu kita kehujanan di alun-alun dulu?” lanjut Raina dalam petikan suratnya. “Kamu ngomel panjang lebar karena tugas makalahmu basah kuyup, sementara aku malah tertawa melihat rambutmu yang basah kuyup mirip anak ayam sayur. Kamu waktu itu bilang dunia ini tidak adil padamu. Tapi apa kataku? Dunia ini adil, hanya saja cara semesta mengajari kita bersabar memang melalui jalan yang berliku.”

Aryo tersenyum tipis dalam kesunyian malam kamarnya. Bayangan wajah Raina yang tersenyum jenaka di bawah payung biru kala itu mendadak berkelebat begitu jelas di dalam ingatannya. Dulu, ia menganggap omelan Raina adalah bentuk ketidakpahaman gadis itu terhadap ambisi besarnya. Namun kini, setelah ia merasakan sendiri betapa kejamnya roda perputaran kehidupan di ibu kota, ia baru mengerti makna mendalam dari setiap petuah sederhana yang sering diucapkan kekasihnya itu.

"Kamu memang selalu benar, Rain... aku yang terlalu keras kepala," bisik Aryo lirih, seolah Raina duduk tepat di hadapannya saat ini.

Transisi dari masa lalu yang damai ke kenyataan ibu kota yang bising terasa sangat kontras. Di luar jendela kamar kosnya, suara knalpot sepeda motor yang melintas kencang di gang sempit tiba-tiba memecah keheningan, mengingatkan Aryo bahwa ia sedang berada di Jakarta—tempat di mana tidak ada seorang pun yang peduli apakah ia sedang menangis kelelahan atau tersenyum bahagia.

Namun, kehadiran lembar surat di tangannya kini bertindak sebagai jembatan tak kasat mata yang menghubungkan dua dunia yang berbeda. Surat itu meredupkan kebisingan kota, membawa hawa kesejukan pedesaan Solo langsung ke dalam petak kamar kos berukuran sempit tersebut. Aryo menarik napas dalam-dalam, meresapi aroma kertas yang bercampur bau tinta pena, lalu melanjutkan membaca bagian inti dari surat bijak tersebut.

❖ ❖ ❖

Meskipun surat dari Raina membawa ketenangan yang luar biasa, bayang-bayang rintangan nyata di dunia luar tetap tidak bisa dihapus begitu saja hanya dengan selembar kertas. Aryo tahu persis, esok pagi ia harus kembali menghadapi kenyataan pahit di tempat kerjanya: tumpukan revisi naskah terjemahan yang menumpuk, tenggat waktu dari pimpinan redaksi yang semakin mendesak, serta persiapan administratif yang rumit untuk proses mutasi kerjanya ke kantor cabang Surabaya bulan depan.

Lihat selengkapnya