Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Menguatkan Diri

Matahari pagi menyemburkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah daun pisang di pekarangan rumah berdinding bilik bambu yang kini telah ditempeli stempel segel merah pengadilan. Udara desa beraroma tanah basah sisa hujan semalam dan embun pagi yang pekat menggantung di atas atap seng yang sudah berkarat. Di dalam ruang tamu yang kosong tanpa perabot karena sebagian besar barang telah disita atau dijual demi menutupi kebutuhan mendesak, Raina duduk bersimpuh di atas sehelai tikar pandan usang. Mengenakan kemeja katun putih polos yang mulai kekuningan di bagian kerah dan celana kain hitam sederhana, ia menatap lurus ke arah cermin kecil berbingkai plastik retak yang dipegangnya dengan kedua tangan. Wajahnya tampak lebih tirus dari sebelumnya, pipinya agak cekung akibat hari-hari panjang didera demam dan kurang tidur, namun di dalam sorot matanya terpancar sisa-sisa bara api keteguhan yang belum sepenuhnya padam. Suasana pagi itu terasa begitu sunyi dan mencekam, seolah alam semesta sendiri sedang menahan napas menyaksikan kehancuran total keluarga kecil tersebut di sudut lereng Merbabu yang dingin.

"Ibu, jangan terlalu banyak pikiran lagi, semua berkas perjalanan kita sudah kusiapkan di dalam tas ransel lusuh ini," ucap Raina lembut sambil menoleh ke arah ibunya yang terbaring lemah di atas kasur lipat tipis di sudut ruangan.

Ibunya membuka mata perlahan, menatap putrinya dengan pandangan penuh rasa bersalah dan air mata yang menggenang di pelupuk mata. "Kamu yakin mau membawa kita pergi ke Jakarta, Nak? Kota itu terlalu kejam buat kita yang tidak punya apa-apa lagi di sana," suara wanita paruh baya itu terdengar parau dan bergetar hebat.

Raina tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan rasa takut yang luar biasa besar di balik ketenangan palsunya. "Kita tidak punya pilihan lain, Bu. Rumah ini sudah bukan milik kita, dan tetangga tidak ada yang berani membantu karena takut terseret utang almarhum bapak. Aku harus percaya pada satu-satunya harapan yang tersisa." Di luar rumah, suara angin pagi berdesir kencang menerpa rumpun bambu, mengiringi langkah awal persiapan keberangkatan mereka yang sarat dengan ketidakpastian. Raina menarik napas dalam-dalam, meresapi setiap detik kesunyian rumah masa kecilnya yang sebentar lagi harus ditinggalkan selamanya untuk mengadu nasib ke rimba metropolitan ibu kota yang dulu pernah menolak kehadiran mereka mentah-mentah.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Raina melangkahkan kaki meninggalkan tanah kelahirannya bukanlah sekadar mencari tempat perlindungan dari ancaman pengusiran preman desa atau sekadar menyambung hidup di perantauan, melainkan sebuah misi suci untuk menebus kesalahan masa lalu dan menagih janji ketulusan yang pernah terucap. Di dalam benaknya yang mulai tertata kembali pasca-sakit parah, ia membulatkan tekad untuk menemui Aryo di Jakarta—bukan untuk merengek meminta belas kasihan atau merusak kebahagiaan baru yang mungkin telah dibangun pemuda itu, melainkan untuk meminta maaf secara jantan atas kebodohannya di masa lalu dan membuktikan bahwa ia kini telah berubah menjadi wanita mandiri yang siap berdiri di atas kakinya sendiri. "Aku harus percaya pada janji Aryo dulu, bahwa ia adalah lelaki yang tidak pernah ingkar pada kata-katanya," gumam Raina dalam hati, memegang erat sebuah buku harian usang di dalam tas ranselnya. Target hidupnya kini sangat jelas: mengumpulkan sisa tenaga untuk bertahan hidup di kota besar, mencari alamat pabrik tempat Aryo bekerja, dan menyerahkan sisa hidupnya untuk memperbaiki takdir yang sempat hancur lebur oleh kesombongan keluarga.

"Kamu mau ke Jakarta cari siapa, Rain? Memang kamu tahu di mana rimbanya anak buruh tani itu sekarang?" sindir tetangga sebelah rumah yang sempat melintas di depan pintu terbuka dengan nada suara merendahkan.

Raina tidak membalas cibiran itu; ia hanya menunduk sesaat lalu mengepalkan kedua tangannya erat-erat di dalam saku jaketnya. "Aku tahu dia ada di sana, dan aku percaya dia punya hati yang pemaaf," jawabnya dalam hati penuh keyakinan mutlak. Target finansialnya memang nol besar—uang yang tersisa di dompetnya tidak lebih dari seratus ribu rupiah, cukup untuk membeli dua tiket kereta ekonomi kelas paling bawah menuju stasiun ibu kota. Namun, di balik kemiskinan materi tersebut, Raina memiliki kekayaan mental yang baru: kepercayaan penuh pada janji masa lalu dan tekad baja untuk tidak pernah menyerah sebelum ia menemukan Aryo di tengah belantara beton Jakarta. Ia percaya bahwa cinta yang tulus dan niat yang bersih tidak akan pernah tersesat jalannya, seberat apa pun badai rintangan yang menghadang di depan mata.

❖ ❖ ❖

Transisi psikologis dari seorang gadis desa yang manja, dipuja, dan hidup bergelimang fasilitas mewah menuju status seorang buruh migran miskin tanpa arah merupakan proses perombakan batin yang paling menyakitkan dalam hidup Raina. Ia melangkah keluar dari pintu rumah kelahirannya untuk terakhir kalinya, mengunci gembok tua di daun pintu, lalu menyeret koper kecilnya menyusuri jalan setapak desa yang dikelilingi persawahan hijau. Proses transisi ini menuntutnya untuk menanggalkan seluruh gengsi keluarga, harga diri semu, dan kebiasaan hidup serba mudah yang selama ini melekat pada dirinya. "Sekarang tidak ada lagi pelayan, tidak ada lagi uang bulanan dari ayah, dan tidak ada lagi perlindungan keluarga," batin Raina sambil merasakan terik matahari pagi mulai membakar kulit pundaknya yang rapuh.

"Hati-hati di jalan ya, Neng Raina, semoga lekas dapat pekerjaan di kota," ucap seorang kakek tua pemilik warung kelontong yang kebetulan melihat kepergian mereka dengan tatapan iba.

Transisi batin tersebut membuat Raina menyadari bahwa roda kehidupan berputar sangat cepat tanpa pandang bulu; siapa yang sombong akan dihempas ke bumi, dan siapa yang tulus bertaubat akan diberi jalan keluar. Ia membantu ibunya berjalan pelan menuruni jalan desa menuju pangkalan ojek pangkalan terdekat yang akan mengantar mereka ke stasiun kereta antarkota. Perubahan status sosial yang drastis ini justru mendatangkan ketenangan aneh di dalam jiwanya; ia merasa beban berat berupa topeng kepalsuan sosial yang selama ini dipaksakan oleh keluarganya telah terangkat lepas sepenuhnya dari pundaknya. Raina kini merasa jauh lebih ringan, lebih jujur pada diri sendiri, dan jauh lebih siap menghadapi kekejaman dunia luar di ibu kota demi menyongsong masa depan baru bersama bayangan Aryo di ujung pencariannya.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya