Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

Senja yang Sama

Matahari perlahan bergeser ke barat, menumpahkan cairan jingga keemasan yang meleleh di atas langit Kota Solo. Pukul 17.45 WIB, udara sore di pekarangan rumah Raina terasa begitu sejuk, dibelai angin basah yang berhembus pelan dari arah sawah-sawah hijau di ujung kampung. Di teras depan, Raina duduk di atas kursi kayu jati tua sambil memangku sebuah buku sketsa bersampul cokelat. Di sampingnya, secangkir teh poci tanah liat yang mengepulkan uap tipis aroma melati tersusun rapi di atas meja kecil.

"Sudah hampir magrib, Rain. Masuklah, angin sore tidak baik buat kesehatanmu," tegur Mbok Minah dari balik ambang pintu, suaranya terdengar lembut namun sarat dengan kekhawatiran seorang ibu yang melihat anaknya sering melamun sendirian akhir-akhir ini.

"Sebentar lagi, Mbok. Langit sore ini bagus sekali, rasanya sayang kalau dilewatkan begitu saja," jawab Raina pelan, tersenyum simpul sambil menatap ke arah ufuk barat di mana gradasi warna ungu tua dan merah jambu berpadu indah.

Di saat yang sama, ratusan kilometer ke arah barat laut, di atas atap sebuah gedung rumah susun sederhana kawasan pinggiran Jakarta, Aryo berdiri terpaku bersandar pada pagar pembatas seng. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 17.45 WIB lewat sedikit. Langit ibu kota tampak kontras—bukan warna jingga alami yang tenang, melainkan pendar kemerahan yang tercemar oleh asap tipis knalpot kendaraan dan siluet kelam gedung-gedung bertingkat tinggi. Meskipun lanskap yang mereka pandang sangat jauh berbeda, ada satu hal mutlak yang menyatukan keduanya di detik yang sama: langit senja yang sedang merayap turun di atas bumi Nusantara.

Aryo menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara berpolusi ibu kota meresap ke dadanya yang terasa penat setelah seharian penuh berkutat dengan persiapan akhir kepindahannya ke cabang Surabaya. Ia mendongak, menatap bulatan matahari yang perlahan tenggelam di balik garis cakrawala barat.

"Pasti di Solo sana, Raina juga sedang melihat langit senja yang sama," bisik Aryo pada dirinya sendiri, jemarinya meraba koin perak kecil yang selalu ia simpan di dalam saku celananya sebagai jimat keberuntungan.

❖ ❖ ❖

Di bawah kubah langit senja yang mulai temaram, Aryo dan Raina sama-sama mematok satu tujuan yang sama di dalam batin mereka: mencari ketenangan jiwa dan menyatukan kembali asa yang sempat terkoyak oleh jarak. Setelah badai kecemasan akibat kondisi kesehatan ibunya yang sempat drop beberapa waktu lalu, serta tekanan sosial yang menghimpit hubungan mereka, senja ini menjadi tempat perhentian sakral untuk meredakan segala ketegangan.

"Aku harus kuat menghadapi penempatan baru di Surabaya bulan depan, demi masa depan kami berdua," ucap Aryo lirih, berbicara pada angin malam Jakarta yang mulai bertiup kencang menerpa wajah tirusnya.

Bagi Aryo, tujuan hidupnya kini sudah menemukan bentuk yang sangat terang. Segala lelah, keringat, dan air mata di ibu kota bukanlah kesia-siaan. Ia ingin membuktikan bahwa cinta jarak jauh bukanlah sebuah utopia yang mustahil diwujudkan, asalkan ada komitmen baja dan ketulusan niat di dalamnya. Pindahnya ia ke Surabaya adalah batu loncatan terakhir sebelum ia benar-benar bisa pulang ke Solo membawa kepastian status dan lamaran resmi.

Sementara itu, di teras rumahnya di Solo, Raina memegang pensil dengan jemari lentiknya, mulai memoreskan garis-garis tipis di atas kertas sketsa putih. Tujuannya sederhana: melukis keindahan langit senja hari ini untuk nantinya ia kirimkan lewat paket pos bersama surat rindunya kepada Aryo.

"Kamu di sana, di tengah bisingnya Jakarta, semoga juga sedang menikmati ketenangan senja ini, Yo," gumam Raina pelan, menorehkan goresan warna jingga menggunakan cat air pada sketsanya.

Hubungan mereka selama hampir dua tahun belakangan ini telah digembleng oleh berbagai cobaan berat—mulai dari krisis finansial, cemoohan tetangga, hingga jarak geografis yang membentang luas. Namun, justru di saat-saat senja seperti inilah, ikatan batin di antara keduanya terasa paling kuat. Mereka tidak butuh gawai canggih atau sambungan telepon mahal untuk saling merasakan kehadiran; cukup dengan menatap langit barat yang sama, hati mereka seolah berbicara dalam frekuensi yang selaras.

Aryo mengepalkan tangan kanannya erat-erat, menatap lurus ke arah matahari yang kini tinggal separuh tenggelam di balik gedung-gedung beton. "Tunggu aku sebentar lagi, Rain. Waktu kita hampir tiba," janjinya penuh keyakinan.

❖ ❖ ❖

Mentari perlahan tenggelam sepenuhnya, meninggalkan sisa-sisa cahaya temaram di garis cakrawala barat. Di Jakarta, lampu-lampu neon jalanan dan gedung perkantoran mulai menyala satu per satu, mengubah kota itu menjadi lautan cahaya artifisial yang benderang. Aryo memalingkan pandangannya dari pagar pembatas atap rusun, melangkah turun menapaki tangga beton menuju kamar kosnya yang sempit di lantai bawah.

"Sudah mau magrib, Mas Aryo. Tadi ada paket surat dititipkan di meja pos depan," sapa Ibu kos ramah saat Aryo melintasi koridor lantai dasar.

"Oh, ya? Terima kasih banyak, Bu," balas Aryo tersenyum singkat, menerima sebuah amplop cokelat berukuran sedang yang sudah sedikit kusut di pinggirannya.

Begitu ia membuka pintu kamar kosnya yang pengap, Aryo langsung meletakkan tas kerjanya di atas lantai. Ia menyalakan lampu kamar, duduk di tepi kasur busa tipisnya, lalu merobek amplop cokelat tersebut. Di dalamnya, terdapat selembar kertas sketsa bergambar pemandangan langit senja di Solo lengkap dengan goresan kuas warna jingga keemasan, serta sepucuk surat tulisan tangan yang sangat ia kenal.

Transisi dari keindahan lamunan senja di atas atap menuju kenyataan kamar kos yang sempit ini terasa begitu nyata. Namun, begitu mata Aryo membaca baris pertama surat dari Raina, seisi kamar kos yang berbau apek itu seolah berubah menjadi ruang paling damai di dunia.

“Untuk Aryo yang sedang menatap langit senja di ujung barat sana,” demikian tulis Raina. “Tadi sore aku duduk di teras sambil melukis langit ini khusus untukmu. Warnanya mirip sekali dengan selendang ibuku dulu. Aku tahu kamu pasti sedang lelah mempersiapkan kepindahanmu ke Surabaya. Tapi ingatlah, di mana pun matahari tenggelam, ia selalu berjanji untuk terbit kembali esok pagi dengan membawa harapan baru.”

Aryo mengusap permukaan kertas sketsa itu dengan lembut. Sentuhan visual dari tangan Raina seolah menghadirkan kehadiran fisik gadis itu di hadapannya. Ia merasa seolah-olah mereka baru saja berdiri berdampingan di bawah langit senja yang sama, meski ribuan kilometer jarak membentang di antara raga mereka.

"Kamu selalu tahu cara membuatku merasa dekat, meskipun kita terpisah jarak sejauh ini," bisik Aryo tersenyum haru, melipat kembali surat itu dengan sangat hati-hati sebelum menaruhnya di samping bingkai foto kecil di atas meja.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya