Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #34

Cara Membujuk yang Dirindukan

Matahari baru saja merayap naik setinggi tiang bendera di halaman samping stasiun kereta, menyiramkan cahaya putih kekuningan yang menyengat ke atas deretan gerbong besi yang berderit lelah. Pukul 09.15 WIB pagi itu, udara Kota Solo terasa lengket oleh uap panas aspal dan debu jalanan yang beterbangan ditiup angin kemarau. Di bawah naungan kanopi peron stasiun yang berkarat, Aryo berdiri termangu sambil memeluk erat tali tas ransel lusuhnya yang sudah tampak kusam dimakan usia.

"Baru sampai, Yo? Kelihatan capek sekali mukamu," sapa Paklik Joko, paman Raina yang datang menjemput menggunakan sepeda motor bebek tuanya, langsung menepuk pundak Aryo dengan cukup keras hingga pemuda itu terperanjat kecil.

"Iya, Paklik. Perjalanan dari Surabaya tadi malam lumayan panjang, badan rasanya remuk semua," jawab Aryo tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya akibat semalaman suntuk tidak bisa tidur di kursi kereta ekonomi.

Suasana stasiun pagi itu cukup padat oleh hilir mudik penumpang yang turun dan naik, namun pikiran Aryo sama sekali tidak berada di keramaian tersebut. Bayangan tentang ibunya yang baru saja melewati masa pemulihan di rumah sakit, serta kecemasannya yang belum sepenuhnya reda mengenai hubungannya dengan Raina, terus berkecamuk di dalam kepalanya. Sudah hampir sebulan ia bolak-balik antara Jakarta, Surabaya, dan Solo demi membereskan urusan pekerjaan sekaligus mendampingi keluarganya di saat-saat kritis.

"Sudah, ayo naik. Raina pasti sudah menunggu di rumah sejak tadi subuh, bikin sarapan spesial kesukaanmu," ajak Paklik Joko sambil menyalakan mesin motor yang langsung mengepulkan sedikit asap putih tipis ke udara.

Aryo mengangguk pelan, lalu naik membonceng di belakang motor bebek tua itu. Selama perjalanan menyusuri jalanan kampung Karanganyar yang rindang oleh pohon asam jawa, ingatan Aryo tiba-tiba melayang jauh ke masa-masa lalu—masa di mana ia sering merajuk kesal karena masalah sepele di kantor, dan bagaimana cara ajaib Raina selalu berhasil meredakan amarah serta kepenatannya dengan senyuman khas yang paling ia rindukan di dunia ini.

❖ ❖ ❖

Di teras rumahnya yang dikelilingi pot-pot bunga melati, Raina mondar-mandir gelisah sambil memegang secangkir teh hangat di tangan kanannya. Tujuan utamanya pagi ini sangat sederhana namun penuh makna mendalam: menyambut kepulangan Aryo dengan kehangatan penuh, meredakan segala ketegangan yang sempat meretakkan komunikasi mereka beberapa waktu lalu, dan mengingatkan lelaki itu bahwa rumah sejati bukanlah bangunan megah di kota besar, melainkan tempat di mana mereka bisa saling memahami tanpa sekat.

"Sudah datang, Rain! Itu Paklik sama Aryo di depan," seru Mbok Minah dari dalam rumah, melongok keluar lewat jendela ruang tamu dengan wajah sumringah.

Raina segera meletakkan cangkirnya di atas meja kecil, lalu melangkah cepat ke ambang pintu. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang ketika melihat Aryo turun dari motor, melepaskan helm, dan berjalan gontai menuju teras dengan tas ransel tersampir di satu bahu. Ada kelelahan yang amat nyata terpancar dari sorot mata lelaki itu—beban hidup di perantauan dan tanggung jawab ganda sebagai tulang punggung keluarga benar-benar telah memeras seluruh tenaga fisiknya.

"Selamat datang kembali di Solo, Yo," sambut Raina lembut, menyunggingkan senyuman tulus yang langsung membuat garis-garis ketegangan di wajah Aryo melunak seketika.

Bagi Aryo, tujuan utamanya melangkah ke teras rumah ini bukan sekadar untuk beristirahat dari penatnya dunia kerja di Surabaya, melainkan untuk mencari obat penenang jiwa yang hanya bisa ia temukan di dekat Raina. Ia ingin melupakan sejenak urusan target kantor, masalah finansial yang naik-turun, serta cibiran orang kampung yang sempat menghantui tidurnya. Ia ingin kembali merasa utuh sebagai manusia.

"Terima kasih sudah menunggu, Rain," ucap Aryo pelan, menatap lurus ke dalam manik mata kekasihnya yang jernih. "Perjalanan kali ini benar-benar menguji batas kesabaranku."

Raina mengangguk penuh pengertian, tidak langsung memberondongnya dengan pertanyaan berat. Ia tahu persis tabiat Aryo jika sedang dalam tekanan: lelaki itu cenderung menutup diri, diam seribu bahasa, dan memendam semua amarah serta kekesalannya seorang diri sampai ia merasa siap untuk bercerita. Dan di sinilah keahlian khusus Raina diperlukan—cara membujuk yang selalu dirindukan oleh Aryo setiap kali ia merajuk pada kerasnya dunia.

❖ ❖ ❖

Sinar matahari pagi menyusup lembut di antara dedaunan pohon mangga, menciptakan bayangan keperakan di lantai semen teras rumah. Aryo duduk bersila di atas kursi bambu panjang, meneguk segelas air es sirup buatan Raina yang terasa sangat menyegarkan tenggorokannya yang kering.

"Minumlah pelan-pelan, Yo. Tidak ada yang mau merebut gelasmu itu," canda Raina lembut sambil meletakkan sepiring kecil jajanan pasar berupa jadah mawar kesukaan Aryo di atas meja.

Aryo tersenyum tipis, meletakkan gelas kosongnya, lalu menghela napas panjang hingga dadanya bergemuruh ringan. Transisi dari bisingnya suara klakson kendaraan di jalan raya Surabaya yang penat menuju keheningan damai pedesaan Solo ini selalu berhasil memberikan kejutan batin tersendiri baginya. Namun, sisa-sisa kekesalan akibat urusan birokrasi kantor yang sempat alot kemarin masih menyisakan ganjalan di tenggorokannya.

"Kamu tahu, Rain? Kemarin atasan di cabang Surabaya hampir membuatku meledak karena revisi kontrak kerjanya dipersulit tanpa alasan jelas," keluh Aryo mulai membuka suara, nada bicaranya sedikit ketus mencerminkan sisa-sisa kekesalan yang masih mengendap.

Raina tidak langsung memotong atau menceramahi lelaki itu. Ia mengambil tempat duduk di kursi sebelah, melipat kedua tangannya di atas pangkuan, lalu menatap Aryo dengan tatapan penuh empati. Transisi suasana hati Aryo yang tadinya dingin dan tertutup perlahan-lahan mulai mencair berkat ketenangan sikap yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu.

"Setiap orang besar pasti pernah diuji dengan birokrasi yang rumit, Yo. Kalau kamu hadapi dengan emosi, justru kantormu yang akan senang karena mereka bisa mencari-cari kesalahanmu," ucap Raina tenang, suaranya mengalun lembut seperti alunan musik penenang jiwa.

Aryo mendengus kecil, memalingkan wajahnya ke arah pot bunga melati di sudut teras. Ia sedang merajuk—bukan merajuk dalam arti kekanak-kanakan, melainkan rasa kecewa mendalam terhadap ketidakadilan dunia kerja yang sering kali tidak menghargai keringat seorang pekerja rantau. Ia ingin didukung sepenuhnya tanpa harus diberi nasihat-nasihat logis yang terkadang justru membuatnya semakin merasa kecil.

Raina tersenyum kecil melihat sikap keras kepala kekasihnya itu. Ia sangat mengenali gerak-gerik Aryo setiap kali lelaki itu merasa lelah dan butuh dibujuk. Tanpa banyak bicara, Raina mendekatkan kursinya, lalu melakukan hal sederhana yang selalu berhasil meruntuhkan seluruh pertahanan ego Aryo dalam hitungan detik.

❖ ❖ ❖

Meskipun suasana di teras rumah tampak tenang, rintangan terbesar dalam interaksi mereka pagi itu justru berasal dari kebisuan Aryo yang mulai kembali menutup diri. Lelaki itu melipat kedua tangannya di dada, menolak menatap mata Raina, dan sibuk memperhatikan semut-semut kecil yang berjalan di atas lantai semen.

Lihat selengkapnya