Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

Mulai Merencanakan Kepulangan

Matahari sore baru saja merayap turun di balik jajaran gedung pencakar langit ibu kota, menyapukan bias cahaya jingga kemerahan yang memantul di kaca-kaca jendela kantor distrik logistik tempat Aryo bekerja selama bertahun-tahun. Di dalam ruang kerjanya yang sempit dan dipenuhi tumpukan dokumen proyek konstruksi serta lembar peta tata kota, Aryo duduk termenung di balik meja kayu jati yang mulai kusam. Suasana di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter itu terasa begitu senyap, hanya ditemani oleh suara berdengung pelan dari pendingin ruangan tua yang menempel di dinding sudut utara.

"Belum pulang, Yo? Ini sudah hampir jam delapan malam, berkas laporan akhir proyek perluasan jalur logistik daerah selatan itu memang menumpuk, tapi kesehatanmu juga harus dijaga," sapa Pak Hartono, kepala bagian administrasi yang melangkah masuk sambil membawa secangkir kopi hitam.

Aryo mendongak, tersenyum tipis ke arah rekan seniornya itu sambil merapikan lembaran kertas di hadapannya. "Sebentar lagi, Pak. Sedikit lagi selesai kok. Hanya merapikan beberapa catatan terakhir sebelum libur akhir pekan."

"Baguslah kalau begitu. Jangan sampai kamu malah jatuh sakit sebelum cuti panjangmu disetujui manajemen pusat," timpal Pak Hartono sambil menepuk pelan bahu Aryo lalu berlalu meninggalkan ruangan.

Di sudut meja kerjanya, pandangan mata Aryo tiba-tiba terpaku pada sebuah kalender meja kecil yang melingkari tanggal tertentu di bulan depan—sebuah penanda waktu di mana ia telah memutuskan untuk mengambil jatah cuti panjang tahunannya. Selama bertahun-tahun, cuti itu selalu ia tunda atau habiskan sekadar berdiam di kos demi menghemat uang. Namun, tahun ini segalanya terasa berbeda di dalam batinnya; ada tarikan tak kasat mata yang terus-menerus mendesaknya untuk melangkah keluar dari zona rutinitas ibu kota dan kembali menatap masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Aryo mulai menghitung tabungan dan menyusun jadwal cuti panjang tersebut bukanlah sekadar melarikan diri dari kejenuhan bekerja di bawah tekanan proyek konstruksi metropolitan, melainkan sebuah niat tulus yang sudah lama tertunda di dalam hatinya: ia ingin pergi mengunjungi desa di lereng bukit selatan tempat Raina kini menetap, guna menuntaskan lembaran cerita lama yang menggantung sekaligus menyampaikan isi hatinya secara langsung setelah sekian tahun terpisah jarak.

"Aku tidak bisa terus-menerus hidup dalam bayang-bayang masa lalu tanpa pernah berani mengambil langkah nyata," gumam Aryo pelan pada dirinya sendiri saat ia membuka aplikasi perbankan di gawainya untuk memeriksa saldo tabungan yang ia kumpulkan dengan susah payah selama tiga tahun terakhir.

Setiap rupiah yang disisihkan dari gaji bulanannya selalu ia catat rapi, bukan lagi untuk membeli kemewahan di kota besar, melainkan dipersiapkan sebagai bekal perjalanan panjang menuju desa tempat Raina membangun koperasi kopi mandiri. Tujuannya sangat jelas: ia ingin berdiri di hadapan Raina bukan sebagai lelaki ragu seperti di masa lalu, melainkan sebagai seseorang yang datang dengan kesadaran penuh, membawa rasa hormat, dan siap menerima apa pun takdir yang menanti di ujung pertemuan tersebut.

"Target tabunganku sudah tercukupi untuk biaya perjalanan dan tinggal beberapa hari di sana," bisik Aryo mantap, menutup aplikasi gawai lalu mencatat jadwal cuti resminya di atas selembar kertas putih dengan goresan pena yang tegas.

❖ ❖ ❖

Transisi perasaan dari keraguan menahun menuju keberanian yang bulat mengalir deras seiring tersusunnya rencana perjalanan tersebut. Di satu sisi, Aryo menyadari bahwa keputusan ini akan mengubah jalan hidupnya secara drastis—ia harus meninggalkan kenyamanan karier yang sedang menanjak di ibu kota, meski hanya untuk sementara waktu, demi menjawab panggilan jiwanya yang paling jujur.

"Apakah kamu yakin mau mengambil cuti selama dua minggu penuh untuk pergi ke desa terpencil itu, Yo?" tanya Rudi, rekan sekantornya yang kebetulan melihat jadwal cuti Aryo di papan pengumuman divisi. "Proyek kita di sini sedang padat-padatnya, pimpinan pasti akan mempertanyakan keputusanmu."

Aryo mengangguk mantap tanpa ada secuil pun keraguan di wajahnya. "Aku sudah memikirkan ini matang-matang, Rudi. Ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar mengejar target tenggat waktu proyek perusahaan. Ada urusan hati yang harus aku selesaikan sebelum terlambat."

Lihat selengkapnya