Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #38

Kekecewaan yang Dalam

Langit sore di lereng Merbabu berangsur-angsur berubah warna menjadi kelabu kehitaman, membungkus dusun kecil tersebut dalam kelembapan angin pegunungan yang menusuk pori-pori kulit. Di beranda depan rumah kayu berukuran sedang yang kini mulai tampak bersih dari sisa-sisa debu penyegelan, Raina duduk termangu di atas kursi bambu tua, menatap kosong ke arah jalan setapak berbatu yang basah oleh sisa gerimis siang tadi. Suasana di sekitar rumah terasa begitu sunyi, hanya dipecahkan oleh suara desau angin yang menggesek dedaunan pohon mangga dan suara kokok ayam jantan dari kejauhan yang bersahutan menyambut senja. Di tangannya, sebuah telepon genggam model lama tergeletak mati tanpa daya setelah baterainya habis, seakan merepresentasikan sisa-sisa tenaga dan harapan yang perlahan terkuras habis dari dalam dadanya. Beberapa hari terakhir, kabar tentang promosi Aryo menjadi Asisten Manajer Produksi Regional di Jakarta telah mengubah ritme hidup mereka yang baru saja mulai tenang, menyeret kembali gadis berkerudung rajut cokelat itu ke dalam pusaran kecemasan lama yang sangat menghantui.

"Raina, masuklah ke dalam, Nak, udara di luar semakin dingin dan angin gunung tidak baik untuk kesehatanmu yang baru saja pulih," suara sang ibu terdengar pelan dari balik pintu ruang tengah, membawa secangkir teh poci hangat.

Raina menoleh sekilas, menyunggingkan senyuman tipis yang teramat hampa di bibirnya yang pucat. "Sebentar lagi, Bu, aku masih ingin menikmati udara luar sebelum malam turun sepenuhnya," jawab Raina dengan suara serak yang menyembunyikan getar kesedihan mendalam di tenggorokannya.

Ia kembali memalingkan pandangannya ke arah jalan setapak, tempat di mana seharusnya Aryo berdiri membawa kabar kepastian setelah urusan mendadak di pabrik ibu kota tuntas diselesaikan. Namun, alih-alih kepulangan yang dijanjikan, sebuah pesan singkat terakhir yang sempat masuk sebelum ponselnya mati justru membawa berita pahit tentang penundaan waktu kepulangan sang pemuda akibat audit mendadak dari kantor pusat. Udara senja yang basah itu seolah ikut merasakan beban berat di dada Raina, menghadirkan kembali rasa sepi yang teramat pekat ketika ia menyadari bahwa jarak ratusan kilometer dan dunia korporat Jakarta kembali siap merenggut lelaki yang baru saja berjanji untuk tidak meninggalkannya lagi.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Raina saat ini bukanlah lagi sekadar bertahan hidup dari himpitan ekonomi atau mencari tempat perlindungan dari ancaman preman desa, melainkan mempertahankan keutuhan ikatan batin yang terancam buyar oleh ambisi karier Aryo di ibu kota. Sejak hari pertama ia memutuskan menyusul ke kota dan kemudian kembali ke desa bersama sang pemuda, target terbesarnya adalah membangun sebuah kehidupan sederhana yang damai di tanah kelahiran tanpa bayang-bayang perpisahan yang menyakitkan. "Buat apa jabatan tinggi dan gaji berlimpah di Jakarta kalau itu semua harus dibayar dengan ketidakhadiran fisik dan pengabaian perasaan?" batin Raina sambil mencengkeram erat ujung sweter wolnya. Ia ingin Aryo memegang teguh kata-katanya untuk tidak lagi menjadikan kota besar sebagai alasan untuk mengorbankan kebersamaan mereka yang sudah terajut dengan penuh air mata. Target hidupnya kini berfokus pada bagaimana meyakinkan Aryo bahwa kesuksesan sejati tidak diukur dari seberapa jauh seorang lelaki merantau, melainkan dari seberapa setia ia berdiri di samping orang yang dicintainya ketika badai kehidupan mereda.

"Mas Aryo, tolong jangan biarkan pekerjaan merusak janji yang sudah kita buat bersama di bawah pohon mangga itu," bisik Raina lirih pada angin malam yang mulai berembus kencang menerpa halaman rumah.

Ia tahu bahwa tawaran posisi sebagai Asisten Manajer Produksi Regional adalah pencapaian luar biasa bagi seorang anak buruh tani, namun di dalam hatinya yang paling dalam, ketakutan akan ditinggalkan kembali jauh lebih mendominasi daripada rasa bangga atas jabatan tersebut. Tujuan hidupnya kini diuji secara telak: apakah ia mampu bertahan dalam penantian panjang yang melelahkan ataukah ia harus merelakan impian masa depannya hancur berkeping-keping untuk kedua kalinya di tempat yang sama. Raina memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba meredam gejolak ambisi pribadi demi mempertahankan kehangatan cinta yang baru saja diselamatkan dari ambang kehancuran total.

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana hangat rekonsiliasi di desa menuju kenyataan pahit penundaan kepulangan Aryo menuntut Raina untuk melewati proses perombakan mental yang sangat menyiksa dan menguras air mata. Selama beberapa hari terakhir, ia sempat merasakan manisnya harapan bahwa penderitaan mereka telah berakhir dan lembaran baru pernikahan di depan mata segera terwujud. Namun, transisi psikologis tersebut mendadak jungkir balik ketika sebuah panggilan telepon singkat dari Aryo kemarin lusa menyampaikan berita penundaan kepulangan hingga waktu yang belum ditentukan. "Maafkan aku, Rain... Audit regional ini tidak bisa ditinggal, aku harus menyelesaikan kontrak baru ini dulu sebelum bisa pulang sepenuhnya ke desa," suara Aryo di ujung sambungan telepon kala itu terdengar sangat lelah dan penuh beban serba salah.

"Iya, aku mengerti, Mas... Hati-hati di sana," jawab Raina kala itu dengan suara datar sebelum sambungan terputus secara sepihak oleh sinyal yang buruk.

Proses transisi batin itu membuat Raina merasa seolah-olah ia sedang ditarik ulur oleh takdir ke dalam labirin ketidakpastian yang tidak berujung; dari status ditinggalkan di masa lalu, menuju reuni penuh haru di desa, lalu kembali dihadapkan pada ancaman perantauan yang memisahkan jarak. Ia berjalan pelan meninggalkan kursi bambu di beranda, masuk ke dalam rumah yang temaram, lalu duduk di tepi ranjang kamarnya yang sederhana. Perubahan situasi yang begitu cepat ini membuat kepalanya pening dan dadanya terasa sesak oleh ribuan pertanyaan tanpa jawaban pasti. Transisi batin tersebut memaksa Raina untuk menelan kembali rasa kecewanya dalam-dalam, menyadari bahwa dunia luar dan tanggung jawab pekerjaan memiliki daya cengkeram yang jauh lebih kuat daripada sekadar janji-janji manis yang diucapkan di bawah temaram lampu sentir desa.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya