
Pukul 23.30 WIB, malam minggu di penghujung musim kemarau menyelimuti Kota Solo dengan keheningan yang pekat. Di dalam kamarnya yang sempit, lampu tidur berona kuning temaram memancarkan cahaya redup, menyinari dinding kamar yang dipenuhi poster-poster literatur dan sketsa pemandangan. Raina duduk bersila di atas kasur lipatnya, memeluk erat sebuah guling usang sambil menatap layar ponsel yang menyala terang di pangkuannya. Udara malam terasa dingin menusuk kulit, namun rasa dingin itu jauh lebih ringan dibandingkan dengan rasa sepi yang mendadak mampir merayapi rongga dadanya.
"Sudah malam banget, Rain. Belum mau tidur?" suara Mbok Minah terdengar pelan dari balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat, disusul ketukan lembut di kusen kayu.
"Sebentar lagi, Mbok. Tunggu sebentar," jawab Raina lembut, berusaha mengatur nada suaranya agar tidak terdengar parau di telinga sang ibu.
Di belahan bumi yang lain, ribuan kilometer jauhnya di sebuah kamar mess kantor cabang luar pulau yang asing dan sunyi, Aryo duduk termenung di tepi ranjang besi berukuran single. Tidak ada suara bising kendaraan malam atau deru mesin kota besar seperti di Jakarta; yang terdengar hanyalah desau angin malam luar pulau yang menghantam kaca jendela nako, berpadu dengan dengung pelan kipas angin tua di sudut ruangan. Aryo menatap layar ponselnya yang menampilkan nama kontak kekasihnya, ragu-ragu namun sangat rindu untuk segera menekan tombol panggil.
"Aku tahu dia pasti sedang lelah memikirkan pemindahan tugasku yang mendadak ini," gumam Aryo lirih, mengusap wajahnya yang kusam dengan telapak tangan yang terasa kasar.
Suasana malam itu terasa begitu berat bagi keduanya. Jarak geografis yang tiba-tiba terbentang jauh akibat rotasi mendadak kantor pusat seolah menjadi ujian paling kejam yang pernah mereka hadapi. Di tengah keputusasaan yang mulai menggerogoti mental akibat kelelahan fisik dan ketidakpastian masa depan, satu-satunya jembatan yang menghubungkan hati mereka hanyalah gelombang sinyal digital di ujung sambungan telepon. Aryo menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, lalu menekan ikon telepon hijau pada layar ponselnya.
❖ ❖ ❖
Ponsel di pangkuan Raina bergetar hebat, memancarkan nada dering khas yang langsung membuat jantungnya berdegup kencang. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Raina langsung menggeser tombol hijau dan mendekatkan gawai itu ke telinganya.
"Halo, Yo? Kamu belum tidur?" sapa Raina cepat, nada suaranya langsung berubah hangat begitu mendengar suara napas berat kekasihnya di seberang sana.
"Belum, Rain... aku tidak bisa tidur," suara Aryo terdengar serak dan lelah, seolah menanggung beban seluruh dunia di pundaknya. "Maafkan aku ya, karena mendadak harus dipindah tugaskan ke luar pulau sejauh ini. Rencana kita untuk segera melamar setelah aku tetap di Surabaya kemarin jadi berantakan lagi."
Tujuan utama Aryo menelepon malam ini bukan sekadar untuk melepas rindu, melainkan untuk mencari tempat mengadu dan mengembalikan kewarasannya yang nyaris hilang di tengah keterasingan tempat kerja yang baru. Ia merasa bersalah karena terus-menerus memberikan ketidakpastian kepada perempuan yang sudah bertahun-tahun menunggunya dengan sabar di kampung halaman.
Di ujung sambungan, Raina tersenyum kecil meski matanya sudah berkaca-kaca menahan air mata. "Jangan bicara seperti itu, Yo. Kita sudah sepakat dari awal untuk saling menguatkan, bukan saling menyalahkan keadaan."
Tujuan Raina malam ini jauh lebih sederhana namun sangat sakral: ia ingin menjadi pelabuhan teduh bagi Aryo, mengasihi lelakinya di saat sedih, dan memastikan bahwa di tengah badai keputusasaan ini, Aryo tidak pernah berjalan sendirian. Ia tahu betul betapa hancurnya perasaan Aryo saat dipindahkan secara paksa ke luar pulau tepat ketika impian mereka berada di depan mata.
"Aku merasa gagal jadi lelaki, Rain," lanjut Aryo dengan suara parau yang nyaris berbisik. "Setiap kali aku bangkit, semesta seolah sengaja menjatuhkan aku kembali ke titik nol."
"Hei, dengar suaraku," potong Raina lembut dengan nada tegas penuh kasih sayang. "Kamu tidak pernah gagal, Yo. Berjuang bukan berarti tidak pernah jatuh. Kalau kamu lelah, menangislah di sana. Aku di sini mendengarkan setiap isak tangismu lewat suara telepon ini."
❖ ❖ ❖
Keheningan malam di kamar mess luar pulau dan kamar sederhana di Solo seolah melebur menjadi satu ruang hampa yang intim berkat sambungan suara di telepon. Aryo menundukkan kepalanya, membiarkan tetes air mata pertamanya jatuh membasahi lantai keramik kamar kos yang dingin.
"Dulu aku kira merantau ke Jakarta itu ujian terberat dalam hidupku," ucap Aryo pelan, suaranya bergetar menahan isak tangis. "Ternyata, ujian yang sebenarnya adalah ketika jarak dan waktu merenggut kepastian dari hari-hari kita."
Raina di Solo mendengarkan setiap patah kata kekasihnya dengan dada yang bergemuruh perih. Ia tahu persis betapa lelahnya Aryo—lelaki itu harus bekerja keras sepanjang hari di lingkungan yang asing, beradaptasi dengan budaya baru, tanpa ada keluarga atau teman dekat yang bisa diajak memeluk keluh kesah secara langsung. Transisi emosional dari amarah dan kekecewaan akibat keputusan kantor kini berubah menjadi gelombang kesedihan yang mendalam di antara keduanya.
"Aku merindukan rumah, Rain... aku merindukan teras rumahmu, teh poci buatan Mbok Minah, dan tawamu setiap kali kita duduk berdua di sore hari," isak Aryo tertahan, suaranya benar-benar hancur.
Raina menggigit bibir bawahnya, menahan agar air matanya tidak tumpah lebih deras. Ia tahu jika ia ikut menangis histeris, Aryo akan merasa semakin kehilangan pegangan. Sebagai perempuan yang menjadi sandaran batin lelaki itu di perantauan, ia harus kuat.
"Rumah kita bukan cuma tempat fisik di Solo, Yo," ucap Raina lembut, suaranya mengalun menenangkan seperti angin malam yang membelai tirai kamar. "Rumah kita adalah hati kita yang saling terpaut. Selama kita masih saling mendoakan dalam setiap sujud malam, jarak ribuan kilometer ini tidak akan pernah mampu memisahkan kita."