Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #44

Kereta Malam Kedua

Pukul 20.15 WIB, Stasiun Gubeng di Surabaya tampak padat oleh kerumunan penumpang malam yang berdesakan di bawah sorotan lampu neon peron yang berpendar putih kebiruan. Suara pengumuman keberangkatan kereta bergema silih berganti dari pengeras suara, berpadu dengan deru roda besi gerbong yang bergesekan di atas rel baja. Di tengah keramaian itu, Aryo berdiri terpaku di dekat pilar peron tiga, mengenakan jaket kain parasut kumal dan sebuah tas ransel berat yang tersampir di satu bahunya.

"Kereta malam jurusan Solo-Yogyakarta segera diberangkatkan melalui jalur dua. Para penumpang dipersilakan bersiap," suara petugas stasiun lewat pengeras suara kembali mengudara, memicu gerakan spontan dari para calon penumpang yang mulai antre melewati gerbang pemeriksaan tiket.

Aryo merogoh saku celananya, memastikan tiket kertas ekonomi dan kartu identitasnya masih tersimpan rapat di dalam genggaman tangannya yang terasa dingin. Hari itu, setelah menerima kabar pemutusan kontrak kerja sepihak dari perusahaan tempatnya merantau, ia tidak membuang waktu sedetik pun. Dalam waktu kurang dari dua jam, ia langsung membereskan seluruh pakaian di kamar mess, menyerahkan kunci kamar kepada pengelola, dan memesan tiket kereta ekonomi malam gelombang kedua menuju kampung halamannya di Solo.

"Akhirnya aku pulang lagi, Rain... tapi kali ini dengan status yang benar-benar berbeda dari sebelumnya," gumam Aryo lirih pada dirinya sendiri, menelan ludah dengan tenggorokan yang terasa kering dan pahit.

Suasana malam itu terasa begitu kontras dengan kepulangannya beberapa waktu lalu. Dulu, ia pulang membawa kebanggaan setelah mengantongi SK pengangkatan pegawai tetap. Kini, ia pulang sebagai seorang pengangguran di tengah badai restrukturisasi perusahaan yang menghancurkan seluruh rencana masa depannya dalam semalam. Namun, di balik rasa kecewa dan kecemasan yang berkecamuk di dalam dada, ada satu dorongan emosional yang jauh lebih kuat yang menarik langkah kakinya: kerinduan mendalam untuk segera berlindung di pelukan Raina.

❖ ❖ ❖

Langkah kaki Aryo menyusuri lorong gerbong tiga kereta ekonomi malam yang berdesakan dan dipenuhi bau campuran keringat, minyak kayu putih, serta aroma kopi sachet dari pedagang asongan. Tujuan utamanya malam ini sangat mutlak dan tidak bisa ditawar lagi: segera menempuh perjalanan ratusan kilometer kembali ke Solo, menemui Raina secara langsung tanpa perantara gawai, dan mengakui segala kegagalannya secara jujur di hadapan perempuan yang paling ia cintai.

"Silakan, Mas, kursinya sebelah sini, nomor empat belas dekat jendela," sapa seorang kondektur kereta berseragam biru tua sambil memeriksa tiket di tangan Aryo.

"Terima kasih, Pak," balas Aryo singkat, lalu meletakkan ranselnya di rak bagasi atas sebelum menjatuhkan tubuhnya ke kursi busa kelas ekonomi yang sempit dan tegak lurus.

Bagi Aryo, tujuan perjalanan kereta malam kedua ini bukan sekadar pulang kampung untuk beristirahat, melainkan untuk meluruskan arah hidupnya yang kembali karam. Ia sadar betul bahwa menyembunyikan status penganggurannya dari Raina hanya akan memperburuk keadaan dan merusak kepercayaan yang sudah mereka bangun bertahun-tahun. Ia ingin malam ini segera berlalu, agar fajar esok hari bisa mempertemukannya dengan senyuman penenang dari sang kekasih di teras rumah berpagar melati.

"Kereta akan segera diberangkatkan, mohon para penumpang memeriksa kembali barang bawaannya," teriak petugas dari luar jendela kaca yang berembun akibat uap panas malam.

Aryo menempelkan telapak tangannya pada kaca jendela kereta yang dingin, menatap keluar ke arah lampu-lampu peron stasiun yang perlahan mulai bergerak mundur seiring deru mesin lokomotif yang mulai menghentak maju. Debar jantungnya mendadak terasa tidak karuan—bukan lagi karena rasa takut kehilangan pekerjaan, melainkan karena getaran antisipasi yang luar biasa besar untuk segera sampai di pelukan perempuan yang sudah menantinya di ujung rel baja tersebut.

❖ ❖ ❖

Roda-roda besi kereta mulai berderit kencang, membelah kegelapan malam di luar kota Surabaya, merayap melewati jembatan-jembatan sungai dan hamparan sawah gelap yang terbentang luas di kegelapan malam. Di dalam kabin gerbong tiga yang remang-remang, sebagian besar penumpang sudah mulai terlelap dalam posisi duduk yang kaku. Namun, mata Aryo tetap terbuka lebar menatap lurus ke arah pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela kereta yang gelap.

"Cepatlah berjalan, kereta... cepatlah sampai," bisik Aryo dalam hati, merasakan waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya, sementara detak jantungnya justru berpacu semakin kencang tidak beraturan.

Transisi dari hiruk-pikuk stasiun keberangkatan menuju keheningan interior gerbong kereta malam menciptakan ruang perenungan yang sangat intens bagi Aryo. Pikirannya melayang kembali pada percakapan teleponnya semalam dengan Raina. Meskipun ia sudah menyampaikan kabar pemecatannya lewat pesan singkat, rasa takut bahwa kenyataan pahit ini akan menjadi pukulan telak bagi keluarga di kampung tetap saja menghantui benaknya.

"Kamu mau merokok dulu, Mas? Pintunya di sambungan antargerbong sebelah sana terbuka," sapa seorang lelaki paruh baya berjaket kulit usang yang duduk di sebelah kursi Aryo, memecah lamunan panjang pemuda itu.

"Ah, tidak usah, Pak. Terima kasih," jawab Aryo tersenyum tipis menolak tawaran tersebut. "Perjalanan masih jauh ya, Pak? Baru sampai mana ini kira-kira?"

"Sebentar lagi masuk wilayah Kertosono, Mas. Kalau naik kereta malam begini memang rasanya lama kalau dipikir-pikir, tapi kalau hati kita sedang terburu-buru ingin pulang, biasanya perjalanan terasa lebih cepat dari biasanya," jawab bapak itu bijak sambil tertawa kecil.

Aryo mengangguk pelan, meresapi kata-kata bapak di sebelah kursinya. Hati yang terburu-buru ingin pulang—itulah yang sedang ia rasakan saat ini. Debar jantungnya yang tidak karuan membuat setiap detik pergerakan roda kereta terasa begitu krusial, seolah setiap kilometer rel yang terlewati mendekatkannya pada garis akhir dari seluruh penderitaan dan kebingungan di tanah rantau.

❖ ❖ ❖

Meskipun Aryo sangat ingin perjalanan malam itu segera berakhir, rintangan-rintangan kecil khas perjalanan kereta ekonomi kelas bawah mulai bermunculan menguji kesabarannya. Di tengah malam yang semakin larut, suhu di dalam kabin gerbong mendadak berubah menjadi sangat dingin akibat terpaan AC yang bocor di langit-langit, sementara para penumpang lain mulai mendengkur keras dalam berbagai posisi tidur yang sempit.

Lihat selengkapnya