Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #46

Subuh di Stasiun Lama

Matahari pagi belum sepenuhnya menampakkan wujudnya di balik jajaran perbukitan hijau lereng selatan, menyisakan sisa-sisa kabut tebal yang menyelimuti peron kayu stasiun kecil di sebuah kabupaten terpencil. Suasana di stasiun tua itu terasa begitu lengang dan sunyi, jauh dari riuhnya deru mesin serta deretan gedung pencakar langit ibu kota yang selama bertahun-tahun mengurung hari-hari Aryo. Hanya terdengar suara derit angin pagi yang menyusup di antara tiang-tiang lampu peron berkarat dan suara peluit burung hantu malam yang bersiap kembali ke sarangnya.

Di ujung peron yang basah oleh embun subuh, Aryo berdiri seorang diri sambil memanggul ransel hitam berukuran sedang di pundak kanannya. Napasnya mengepulkan uap tipis ke udara dingin pegunungan setiap kali ia mengembuskan napas panjang setelah perjalanan panjang semalam suntuk di dalam kereta ekonomi antarkota.

"Silakan, Mas, keretanya sudah melanjutkan perjalanan ke ujung rel. Kalau mau cari tumpangan ojek desa, biasanya mereka baru mangkal di depan gerbang stasiun setelah azan subuh berkumandang," sapa Pak Tono, petugas stasiun paruh baya berseragam usang, sambil menutup pintu gerbang kayu peron.

Aryo tersenyum ramah, menganggukkan kepalanya pelan ke arah petugas tersebut. "Terima kasih banyak, Pak. Saya tidak terburu-buru, ingin menikmati udara subuh di sini sebentar."

Pak Tono melirik sekilas ke arah wajah Aryo yang tampak lelah namun menyiratkan keteguhan, lalu menepuk pelan bahu lelaki perantau itu sebelum berjalan pergi meninggalkan area peron. Aryo menengadah menatap langit subuh yang mulai bergradasi dari warna kehitaman menjadi biru kelabu lembut, merasakan sensasi asing sekaligus familier menyergap sekujur tubuhnya—sensasi kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiran setelah bertahun-tahun pergi merantau menenteng sejuta asa dan luka masa lalu.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Aryo turun di stasiun lama tersebut bukanlah sekadar bernostalgia atau menikmati panorama alam pedesaan yang asri, melainkan sebuah misi batin yang mendesak untuk segera menemui Raina di desa lereng bukit, di tengah kabar angin miring mengenai krisis koperasi tani yang sempat ia dengar lewat pesan darurat beberapa hari lalu. Selama perjalanan panjang di dalam kereta malam, pikirannya terus-menerus berputar memikirkan keselamatan dan martabat perempuan yang pernah mengisi lembaran hidupnya di ibu kota. Ia bertekad untuk tidak datang sebagai pengacau atau bayang-bayang masa lalu yang merepotkan, melainkan sebagai seorang sahabat setia yang siap berdiri di garda terdepan membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi Raina.

"Aku harus sampai di desa sebelum matahari meninggi, memastikan semuanya baik-baik saja dan tidak ada oknum tengkulak yang berani merusak hasil kerja keras Raina selama bertahun-tahun," gumam Aryo mantap pada dirinya sendiri sambil melangkah keluar dari area bangunan stasiun tua menuju halaman depan yang berpasir basah.

Udara subuh yang menusuk tulang seolah menyegarkan kembali aliran darah di tubuhnya setelah berjam-jam duduk kaku di kursi kereta. Tujuannya sangat jelas: ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri dan pada takdir bahwa kepulangannya kali ini memiliki arti yang mulia—membawa kedamaian, perlindungan, dan dukungan moral yang tulus bagi perempuan hebat yang telah memilih jalan hidup mandiri di tanah kelahirannya sendiri.

"Ojek ke arah desa lereng bukit kopi masih ada, Mang?" tanya Aryo kepada seorang lelaki paruh baya bers jaket tebal yang sedang menyeruput kopi hitam di warung bambu kecil dekat gerbang stasiun.

"Ada, Mas! Baru mau buka lapak ini. Mari masuk dulu, minum segelas kopi hangat biar badannya tidak kedinginan kena angin subuh," jawab tukang ojek itu ramah menyambut kedatangan penumpangnya.

❖ ❖ ❖

Transisi suasana dari hiruk-pikuk gemerlap metropolitan menuju kesunyian magis pedesaan mengalir deras merasuki jiwa Aryo seiring laju sepeda motor ojek desa yang membelah jalanan sempit beraspal basah. Di sisi kiri dan kanan jalan, hamparan sawah hijau bertingkat yang diselimuti kabut tipis tampak berkilauan diterpa cahaya suram fajar pagi, menciptakan kontras yang luar biasa tajam dengan lanskap beton dan lampu neon ibu kota yang biasa ia saksikan setiap hari.

"Wah, tumben pulang kampung pagi-pagi buta begini, Mas? Perantau dari Jakarta ya?" tanya sang pengemudi ojek di tengah deru suara mesin motor tua yang menderu mendaki jalanan perbukitan.

Aryo tersenyum tipis di balik helm pinjamannya yang beraroma minyak kayu putih. "Iya, Mang. Sudah lama sekali tidak pulang. Rasanya banyak sekali yang berubah ya di jalan menuju desa ini dibanding beberapa tahun lalu."

Lihat selengkapnya