Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #54

Tawa Lepas yang Kembali

Matahari pagi di Kota Solo bersinar terang, menyapu sisa-sisa embun yang masih menempel di ujung-ujung daun melati di pekarangan rumah Raina. Pukul 08.30 WIB, udara terasa segar dan hangat, membawa angin sepoi-sepoi yang menggerakkan tirai putih jendela kamar tamu. Di teras depan yang berlantaikan tegel bersih berwarna hijau pudar, Aryo duduk di kursi rotan tua sambil memandangi cangkir porselen berisi teh manis yang mengepulkan uap tipis ke udara.

"Sudah diminum tehnya, Yo? Nanti keburu dingin lho," suara Mbok Minah terdengar dari arah dapur, disusul suara gesekan piring-piring bersih yang ditata di atas rak kayu.

"Iya, Mbok. Ini mau diminum," jawab Aryo tersenyum ramah, lalu mengangkat cangkirnya dan menyeruput teh hangat buatan rumah itu perlahan-lahan.

Suasana pagi itu terasa sangat kontras dengan hari-hari penuh ketegangan dan air mata yang sempat mereka lalui beberapa waktu lalu. Setelah badai rotasi kantor, ancaman PHK, hingga kondisi kesehatan Raina yang sempat drop beberapa minggu lalu, kini ketenangan seolah kembali bernaung di bawah atap rumah berpagar kayu tersebut. Aryo, yang kini resmi mengemban tugas baru sebagai Kepala Divisi Regional Jawa Tengah dan Yogyakarta, menikmati hari liburnya dengan duduk santai mengenakan kaos katun polos dan celana santai.

Namun, yang paling dinantikan Aryo bukanlah jabatan barunya atau kenyamanan fasilitas kantor, melainkan sesuatu yang jauh lebih berharga: mendengar kembali suara tawa renyah ceria khas Raina yang sempat lama hilang ditelan kecemasan. Selama berbulan-bulan di perantauan, tawa itu berubah menjadi isak tangis dan keluh kesah. Hari ini, di bawah naungan langit Solo yang membiru bersih, ia bertekad untuk membuat kekasihnya itu kembali tersenyum lepas tanpa beban.

"Lagi melamunkan apa, Mas Kepala Divisi?" sapa suara lembut yang sangat ia kenal dari ambang pintu depan.

Aryo menoleh cepat, dan pemandangan di hadapannya langsung membuat dadanya menghangat seketika. Raina berdiri di sana mengenakan terusan katun bermotif bunga kecil, rambutnya dicepol longgar natural, dan yang paling membahagiakan: seulas senyum lebar menghiasi bibirnya, memancarkan binar kebahagiaan murni di kedua matanya yang jernih.

❖ ❖ ❖

Raina melangkah pelan mendekati kursi rotan tempat Aryo duduk, membawa sepiring kecil jajanan pasar berupa jadah mawar kesukaan lelaki itu. Tujuan utamanya pagi ini sangat sederhana namun penuh makna mendalam: membuang jauh-jauh sisa bayangan kelam dari masa-masa sulit kemarin, merayakan kembalinya Aryo ke tanah kelahiran secara permanen, dan mengembalikan suasana ceria di rumah yang sempat diselimuti kekhawatiran.

"Silakan dicicipi jadahnya, mumpung masih empuk dibikin Mbok Minah tadi subuh," ucap Raina riang, meletakkan piring kecil itu tepat di hadapan Aryo.

Bagi Raina, melihat Aryo duduk santai tanpa beban kerja di pundaknya adalah pemandangan terindah setelah sekian lama mereka terpisahkan jarak. Ia ingin hari ini menjadi awal dari babak baru kehidupan mereka—babak di mana tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi ketakutan akan kehilangan, dan tidak ada lagi rasa cemas menghadapi masa depan. Ia ingin kembali menjadi Raina yang periang, yang senang menggoda Aryo dengan lelucon-lelucon kecil khas mereka.

"Wah, pas sekali. Aku memang lagi pengen jajanan pasar buatan Mbok Minah," balas Aryo tersenyum lebar, langsung mengambil sepotong jadah mawar dan menggigitnya dengan lahap.

Tujuan Aryo pagi ini tidak kalah penting: ia ingin memicu kembali tawa renyah ceria dari bibir Raina yang sudah lama tidak ia dengar lepas. Selama masa-masa kritis di rumah sakit dan tekanan pekerjaan di luar pulau, tawa itu teredam oleh rasa sakit dan kecemasan. Aryo bertekad menggunakan segala cara humor sederhana dan perhatian tulusnya untuk membawa kembali keceriaan mutlak ke wajah kekasihnya itu.

"Bagaimana, enak kan? Jangan bilang kalau rasanya kalah enak sama makanan restoran di Surabaya," goda Raina sambil menarik kursi kecil, duduk tepat di samping Aryo dengan mata mengerjap usil.

"Tentu saja jauh lebih enak ini. Makanan restoran kota besar mana pun tidak bisa menandingi rasa kangenku pada masakan rumah," jawab Aryo cepat, melontarkan gombalan ringan yang langsung disambut tawa kecil dari bibir Raina.

❖ ❖ ❖

Gelak tawa kecil itu perlahan-lahan mencairkan suasana pagi di teras rumah. Transisi dari masa-masa penuh duka dan air mata menuju kebahagiaan yang tenang terasa begitu nyata dirasakan oleh keduanya. Aryo meletakkan cangkirnya di atas meja, menatap lurus ke arah Raina dengan pandangan penuh kekaguman.

"Kamu tahu, Rain? Setiap kali aku melihatmu tersenyum seperti tadi pagi, rasanya semua beban berat di pundakku selama di perantauan langsung lenyap seketika," ucap Aryo jujur, suaranya sarat akan kehangatan emosional.

Raina tersipu malu, menundukkan kepalanya sejenak sambil merapikan piring jajanan di atas meja. Transisi emosional dari rasa cemas yang mendalam menuju kedamaian batin ini tidak terjadi dalam waktu singkat; ia terbentuk dari kesabaran, air mata, dan ketulusan cinta yang mereka uji bersama di tengah berbagai badai kehidupan.

"Jangan

terus-terusan merayu begitu, Yo. Nanti aku jadi GR," canda Raina lembut, mendongakkan kembali kepalanya dengan mata yang berbinar-binar ceria.

"Bukan merayu, itu fakta mutlak dari seorang lelaki yang hampir gila karena rindu," balas Aryo tertawa renyah, membuat suasana semakin akrab dan cair.

Transisi interaksi mereka bergeser dari perbincangan serius seputar pekerjaan dan masa depan menuju obrolan santai penuh nostalgia masa kecil. Mereka mengenang masa-masa awal pendekatan di bangku kuliah, saat Aryo masih malu-malu kucing meminjam catatan kuliah, dan bagaimana Raina sering menjahili lelaki itu dengan menyembunyikan pulpen kesayangannya.

"Masih ingat waktu kamu salah masuk ruang kuliah gara-gara salah lihat jadwal?" tanya Raina sambil terkekeh geli menutup mulutnya dengan sebelah tangan.

"Mana mungkin aku lupa! Itu adalah momen paling memalukan seumur hidupku, dan pelakunya adalah gadis usil yang sekarang duduk di sebelahku ini," jawab Aryo pura-pura cemberut, meskipun bibirnya sendiri ikut mengukir senyum lebar.

Lihat selengkapnya