Pulang Menuju Pelukan

Amrullah Ibrahim
Chapter #61

Menghapus Air Mata

Matahari pagi baru saja merayap naik menembus sela-sela dedaunan kopi di lereng bukit selatan, menyapukan bias cahaya kuning keemasan yang hangat ke atas hamparan kebun yang basah oleh embun semalam. Di dalam ruangan kerja rumah panggung milik orang tua Raina, tumpukan berkas laporan keuangan, map arsip digital, dan lembaran kuitansi berserakan di atas meja kayu jati tua di bawah pendar lampu meja yang mulai meredup. Suasana di dalam ruangan berukuran sedang itu terasa begitu sunyi dan penuh ketegangan setelah semalaman suntuk mereka berdua berjibaku menelusuri data audit kementerian yang sempat hilang secara misterius dari sistem pusat.

"Bagaimana, Yo? Apakah salinan data fisik pembukuan dari arsip lama desa sudah sepenuhnya kita sinkronkan dengan catatan transaksi manual tiga tahun terakhir?" tanya Raina dengan suara serak dan kelelahan, menatap tajam ke arah Aryo yang duduk di sampingnya sambil merapikan lembaran kertas terakhir.

Aryo mengangkat kepalanya, tersenyum tipis meyakinkan meski lingkaran hitam tampak jelas di bawah kelopak matanya akibat tidak tidur semalaman. "Sudah selesai, Raina. Semua bukti transaksi, aliran dana koperasi, hingga tanda tangan para petani sudah kita kumpulkan kembali dalam satu bundel dokumen fisik yang sah dan tidak terbantahkan."

Di balik kelegaan kecil itu, beban batin yang dipikul Raina selama berhari-hari akibat fitnah keji kelompok Haris dan ancaman pembekuan izin koperasi mendadak merontokkan seluruh pertahanan emosional yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Menyadari bahwa perjuangan hidupnya nyaris hancur dalam semalam membuat tenggorokan Raina terasa tercekat, hingga tanpa bisa ia bendung lagi, butiran air mata hangat menetes pelan membasahi pipinya yang pucat.

Udara dingin pegunungan yang menyusup lewat celah jendela pagi itu seolah menambah keheningan haru di ruangan tersebut, mempertemukan kembali dua jiwa yang kini saling menguatkan di atas puing-puing lelah yang amat sangat.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Aryo bertahan menemani Raina sepanjang malam di ruang kerja tersebut bukanlah sekadar menyelesaikan urusan administrasi audit agrikultur, melainkan sebuah komitmen mendalam yang sudah ia ikrarkan di dalam hatinya sejak pertama kali menjejakkan kaki kembali di desa ini: ia ingin menepati janji sucinya untuk selalu ada, mengasihi, dan melindungi Raina di saat-saat perempuan itu merasa paling lelah dan bersedih. Selama bertahun-tahun hidup terpisah oleh jarak di perantauan, Aryo selalu menyesali keputusannya di masa lalu yang membiarkan Raina berjuang sendirian; kini, tujuannya sangat mutlak—ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa diandalkan sebagai tempat bersandar yang aman bagi perempuan hebat tersebut.

"Jangan menangis sendirian lagi, Raina," ucap Aryo lembut sambil merogoh saku kemejanya, menyodorkan selembar tisu bersih kepada perempuan di hadapannya. "Kamu sudah memberikan segalanya untuk desa ini, sudah saatnya kamu membiarkan orang lain ikut berbagi beban yang selama ini kamu panggul seorang diri."

Tujuan luhur itu terpancar dari ketulusan sorot mata Aryo yang tidak menunjukkan keraguan sedikit pun, menegaskan bahwa kehadirannya kali bukan sebagai tamu masa lalu yang membawa masalah, melainkan sebagai sandaran jiwa yang siap menghapus setiap air mata kepedihan Raina. Di tengah badai fitnah birokrasi dan ancaman oknum tengkulak, Aryo ingin memastikan bahwa harga diri dan kerja keras Raina tetap berdiri tegak tanpa tercoreng sedikit pun.

"Aku hanya merasa lelah, Yo... rasanya begitu berat mempertahankan semua ini ketika orang-orang dengan mudahnya mencoba merusaknya dalam semalam," isak Raina pelan, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

❖ ❖ ❖

Transisi perasaan dari keputusasaan yang menyesakkan dada menuju ketenangan batin yang menghangat mengalir perlahan seiring uluran tangan Aryo yang bergerak lembut menyentuh pundak Raina. Di satu sisi, Raina sempat merasa malu karena harus menunjukkan kelemahannya di hadapan lelaki yang pernah mengisi masa lalunya; namun di sisi lain, sentuhan hangat dan tatapan penuh empati dari Aryo melumerkan seluruh dinding pertahanan diri yang selama tiga tahun terakhir ia dirikan di sekeliling hatinya.

"Menangislah sepuasmu, Raina. Kamu manusia biasa, bukan malaikat yang harus selalu terlihat kuat di hadapan semua orang," bisik Aryo penuh kelembutan, mendekatkan kursinya agar bisa duduk lebih dekat dan merangkul pundak perempuan itu dengan penuh rasa hormat.

Lihat selengkapnya