Reza duduk di kursi kayu reyot di apartemennya yang sempit. Di luar, hujan rintik-rintik terlihat dari jendela kamarnya yang kusam. Tetesannya membentuk pola acak di kaca yang berdebu.
Dari kejauhan, suara klakson kendaraan dan gemuruh kota Jakarta samar terdengar, seolah mengingatkan bahwa dunia tetap berjalan seperti biasa, tanpa peduli apa yang dirasakan oleh para penghuninya. Keriuhan itu pun beradu dengan suara dari lagu “My Sacrifice” dari Creed, band favoritnya, yang ia putar untuk menemaninya siang itu.
Tapi biar pun begitu, bagi Reza, dunia sudah berhenti lima belas tahun lalu, di malam ketika ayahnya meregang nyawa di hadapannya. Laptopnya yang terbuka di meja, menampilkan beberapa artikel berita. Semua mengarah pada satu hal: ketidakadilan yang terus terjadi di negeri ini.
Nama-nama yang tertera di sana bukan sekadar pejabat atau pengusaha berpengaruh, mereka adalah orang-orang yang menikmati hasil dari sistem bobrok yang membunuh ayahnya, menghancurkan keluarganya, dan merenggut masa kecil dan mungkkin masa depannya.