Punchline Terakhir

Lestyo Haryanto
Chapter #2

01

Lampu sorot menyala dan menyorot sebuah panggung cukup besar dengan cahaya yang hampir menyilaukan mata. Suasana di dalam gedung pertunjukan terasa tegang, bercampur dengan gelombang tawa dan tepuk tangan dari ratusan penonton yang memenuhi ruangan. Reza yang berdiri di tengah panggung dengan mikrofon di tangannya, menatap audiens dengan senyum tipis penuh arti.

“Gue seneng banget bisa tampil di sini malam ini,” katanya dengan suara yang terkesan tenang tapi tegas. “Gue sempet khawatir bakal ada yang protes. Tapi tenang aja, pejabat kita kan nggak suka nonton acara yang nggak bisa mereka sogok. Bener, kan?”

Ledakan tawa pun menggema. Beberapa penonton menepuk-nepuk paha mereka, sementara yang lain melirik ke sekeliling, seolah ingin memastikan tak ada mata-mata pemerintah di antara mereka. Bahkan sebelum acara ada beberapa orang dengan candaannya, memastikan tidak ada tukang bakso atau gorengan “dadakan” berjualan di sekitar lokasi acara.

Kembali ke acara, terlihat Reza mengambil jeda sebentar setelah melemparkan joke yang mengundang tawa tadi. Ia kemudian meneguk sedikit air dari botol di meja kecil di sampingnya. Setelah itu, ia pun melanjutkan stand-up comedynya.

“Ngomong-ngomong soal pejabat, gue tuh suka bingung. Mereka ini pada sekolah tinggi, dapet gelar bertumpuk, tapi pas disuruh jawab pertanyaan sederhana di persidangan jawabannya selalu sama: ‘Saya tidak tahu.’ Intinya apa pun yang ditanyakan kepadanya akan dijawab dengan tiga kata sakti itu.”

Tawa penonton pun kembali pecah. Sebagian orang bersorak dan bertepuk tangan sambil berdiri, sementara yang lain tertawa sambil menggelengkan kepala. Bagi mereka, apa yang disampaikan Reza adalah suatu kebenaran yang sangat pahit meskipun penyampaiannya sudah terbungkus dengan humor yang menyejukkan.

“Kalian sadar nggak sih? Pejabat korup tuh udah kayak pesulap. Duit kita ilang, tapi triknya nggak pernah ketauan. Hebatnya lagi, tiap mereka ketangkep, yang disalahin siapa? Bukan mereka! Mereka kadang bilang stafnya yang lalai, sistemnya yang salah, rakyatnya yang salah. Jadi intinya, kita yang salah, mereka nggak, titik!”

Tawa seorang pria paruh baya di barisan depan terdengar lebih keras dari yang lain membuat perhatian beberapa orang tertuju kepadanya. Reza pun sekilas memperhatikannya. Orang itu mengenakan jas mahal, tapi ekspresinya seakan menyimpan sesuatu. Entah rasa bersalah atau sekadar kepuasan karena bisa menertawakan kebobrokan yang ia jalani dan nikmati keuntungannya juga.

Reza kemudian mendekatkan mikrofon ke bibirnya. “Dan kita semua tahu, ada satu hal yang pejabat takuti banget yaitu CCTV. Tapi bukan CCTV biasa ya, bukan yang di kantor pemerintah atau jalanan. Itu mah gampang, tinggal dibikin ‘rusak’ pas ada kejadian penting. Pejabat cuma takut satu jenis CCTV: CCTV di luar negeri. Karena itu nggak bisa dimatiin sama mereka! Yang di luar negeri, nggak bisa disogok!”

Lihat selengkapnya