Lima belas tahun lalu
Hujan turun dengan deras malam itu. Kilatan petir sesekali menyambar, menerangi ruang tamu rumah sederhana keluarga Reza. Bocah berusia sepuluh tahun itu bersembunyi di balik tirai, matanya membulat ketakutan saat melihat siluet ayahnya di tengah ruangan dan dikelilingi oleh pria-pria berseragam gelap.
“Pak Wahyu, kami hanya menjalankan perintah,” kata salah seorang pria dengan suara dingin. “Anda terlalu banyak bicara soal korupsi. Ada pihak yang tidak suka.”
Ayah Reza, Wahyu, berdiri tegap. Wajahnya penuh kelelahan, tetapi sorot matanya tetap tajam. “Jika kalian berpikir aku akan diam, kalian salah besar. Negeri ini tidak akan berubah kalau semua orang takut bicara.”
Seorang pria lainnya mendekat, menghantam meja dengan pukulan keras. “Kami tidak minta pendapat Anda. Kami hanya memberi pilihan: Anda diam atau hilang.”
Reza menahan napas. Tangannya gemetar, mencengkeram tirai dengan erat. Ia ingin berlari ke arah ayahnya dan berteriak agar orang-orang itu pergi. Tapi ia tahu, suara kecilnya tak akan bisa mengubah apapun. Saat ini, yang ia inginkan adalah ibu dan kakaknya segera kembali dari acara keluarga di Bali.
“Jika aku harus hilang demi membongkar kebenaran, maka biarlah begitu,” Wahyu berkata dengan suara mantap. “Tapi ingat ini: kejahatan kalian tak akan bertahan untuk selamanya, karena keadilan akan datang, cepat atau lambat.”
Tawa dingin terdengar. Salah satu pria berseragam mengeluarkan pistol dari balik jasnya. “Sayangnya, Pak Wahyu, kebenaran tidak berlaku bagi yang sudah mati.”
Dor!
Satu tembakan menggema di ruangan. Reza merasakan dunia seakan berhenti berputar. Ia ingin menjerit, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Tubuh ayahnya jatuh ke lantai dengan darah mengalir dari kepala. Kemudian dia mendengar langkah kaki para pria yang terdengar menjauh.
Salah satu dari mereka sempat membalikkan badan, menatap ke arah tirai tempat Reza bersembunyi. Jantungnya berdegup kencang, takut jika mereka menemukannya. Namun, pria itu hanya menyeringai sebelum keluar dari rumah dengan meninggalkan jasad ayahnya yang tergeletak tak bernyawa.