Reza membuka pintu rumah dengan perlahan. Engsel tua itu berdecit pelan, mengisi kesunyian ruang tamu yang remang-remang. Udara di dalam rumah sedikit pengap, dan terasa berat, penuh dengan kenangan yang tak ingin ia hadapi.
Ibunya duduk di sofa reyot di sudut ruangan, matanya kosong menatap jendela buram. Ratna, wanita yang dulu tegar menghadapi dunia, kini seolah hanya menjadi bayangan dari dirinya lima belas tahun lalu. Tubuhnya semakin kurus, bahunya merosot, dan matanya yang dulu bersinar penuh keyakinan kini redup tanpa harapan.
“Ibu,” suara Reza nyaris hanya bisikan. Ratna menoleh pelan, bibirnya bergerak, tapi tidak ada kata yang keluar. Reza melangkah mendekat dan duduk di sampingnya. “Reza pulang.” Senyuman kecil muncul di wajah Ratna, tapi begitu samar hingga hampir tak terlihat. Tangannya yang dulu begitu kuat menggenggam pundaknya, kini hanya tulang dan kulit yang dingin. Ia terlihat jauh lebih tua dari umurnya.
Tiba-tiba Ratna mengambil ponselnya dari meja kecil di sebelah sofa. Dengan tangan gemetar, ia membuka sebuah video dan memutar layarnya ke arah Reza. “Ini dari temanmu. Katanya Ibu harus melihat ini.” Reza menatap layar. Itu adalah rekaman salah satu penampilannya beberapa minggu lalu, ketika ia menyindir keras para pejabat yang merampas uang rakyat. Video itu viral, bahkan sempat membuatnya dipanggil aparat untuk mengklarifikasi dan diberi peringatan.
“Ibu nggak tahu kamu sudah sejauh ini, Reza,” suara Ratna pelan, tapi ada ketakutan di dalamnya. “Kenapa kamu harus melibatkan dirimu seperti ini?”