Di sebuah rumah megah di kawasan elite di selatan Jakarta, suasana terasa tegang. Di dalam ruang kerja yang cukup luas, dengan sayup-sayup terdengar musik klasik dari seorang musisi jenius pada jamannya yaitu Beethoven, Hadi Wiratama duduk di balik meja kayu mahoni besar. Tangannya menggenggam koran pagi yang berisi berita terbaru tentang kematian seorang koleganya secara mendadak. Jari-jarinya mengetuk perlahan permukaan meja, kebiasaan lamanya saat sedang berpikir keras.
“Kematian ketiga dalam beberapa bulan ini,” gumamnya, suaranya lebih seperti bisikan kepada dirinya sendiri. Di hadapannya, seorang pria paruh baya bersetelan rapi berdiri dengan tangan terlipat ke belakang menatap tajam kepadanya. Pria yang bernama Rahmat, mantan anggota komando khusus yang kini menjadi asisten pribadi dan orang kepercayaannya selama bertahun-tahun itu tetap diam, menunggu perintah.
“Apa kata orang-orang di luar sana, Mat?” tanya Hadi akhirnya.
Rahmat menarik napas dalam. “Ada desas-desus, Pak. Beberapa menganggap ini hanya kebetulan, tapi sebagian mulai mencium sesuatu yang lebih besar. Ada yang berbisik tentang ‘pembersihan’ terhadap orang-orang yang terlalu lama berada ‘di atas’ tanpa konsekuensi.”
Hadi meletakkan korannya. Matanya menatap tajam ke arah Rahmat. “Dan polisi?”
“Mereka mulai menyelidiki lebih dalam. Saya mendapat info kalau Arum anak Bapak, termasuk salah satu yang menangani kasus ini.”
Hening.
Hadi mengusap wajahnya kemudian bangkit berdiri, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap ke taman belakang rumahnya. Ia melihat pantulan dirinya di kaca. Pentulan seorang pria paruh baya dengan garis-garis kelelahan di wajahnya. Komposisi “Moonlight Sonata” dari komponis favoritnya itu semakin menambah tegang suasana.
“Arum tidak boleh menggali terlalu dalam.” Suaranya datar, tapi penuh peringatan.