Arum menatap layar komputernya dengan dahi berkerut. Deretan data kematian para pejabat itu terpampang jelas di hadapannya. Data tersaji cukup lengkap dari tanggal, lokasi, penyebab kematian, hingga rekam jejak mereka. Semakin lama ia meneliti, semakin banyak hal yang terasa janggal.
“Tiga kematian dalam waktu kurang dari dua bulan. Semua pejabat tinggi, semua punya rekam jejak kontroversial.” Arum menggumam, menekan beberapa tombol di keyboardnya untuk membuka arsip tambahan, sambil menuliskan poin-poin penting di buku catatannya.
“Itu masih bisa dianggap kebetulan. Pejabat tua, tekanan hidup tinggi, jantung lemah, obat tidur... Polisi bisa saja menutup kasus ini dengan alasan-alasan itu,” Kata Rudi, yang berdiri di belakangnya sambil menyilangkan tangan.
Arum menggeleng. “Tapi ini bukan sekadar kematian biasa, Rud. Ada pola yang nggak bisa kita abaikan.” Ia menarik napas panjang, lalu membuka satu folder dokumen rahasia yang ia akses secara diam-diam. “Gue baru saja dapat ini dari arsip lama. Ada satu kesamaan di antara mereka yang nggak disebut di laporan publik.” Rudi mencondongkan tubuhnya, menatap layar dengan penuh minat.
“Lihat ini,” Arum menunjuk ke satu nama di dokumen yang tampak lusuh. “Lima belas tahun lalu, ada sebuah kasus besar yang tiba-tiba ditutup-tutupi oleh pemerintah. Kasus penyalahgunaan dana publik yang nyeret banyak pejabat tinggi. Semua bukti ngarah ke pengadilan, tapi tiba-tiba hilang gitu saja. Dan lo tahu, semua pejabat di Kejaksaan Agung saat itu diganti semua.”
“Dan korban-korban itu?” tanya Rudi.
Arum mengklik beberapa dokumen lain, lalu menyatukannya di layar. “Tiga orang yang tewas ini, mereka semua terlibat dalam kasus itu. Tapi yang lebih menarik, mereka bukan pelaku utama. Mereka adalah saksi dan eksekutor yang tugasnya ngebuat bukti-bukti itu lenyap.”
Rudi bersiul pelan. “Jadi, seseorang ngebunuh mereka untuk ngebersihin jejak?”