Hujan gerimis mengiringi Arum tiba di rumah masa kecilnya. Angin berembus pelan, menggetarkan dedaunan di halaman kecil yang dulu selalu ia dan ayahnya rawat bersama. Rumah itu masih sama. Rapi, tenang, dan tetap terasa asing baginya sekarang.
Ia mengetuk pintu dua kali, lalu membukanya perlahan. Aroma teh melati langsung menyambutnya, membawa sekelebat kenangan dari masa lalu. Di meja ruang tamu, ibunya, Lestari, duduk dengan tenang, menuangkan teh ke dalam dua cangkir porselen yang sedikit retak di tepinya.
“Kau datang juga akhirnya,” suara ibunya lembut, namun penuh dengan makna yang sulit ditebak.
Arum menghela napas dan duduk di kursi seberangnya. “Arum ingin bicara, Bu.”
Lestari tersenyum tipis, menyodorkan cangkir teh ke hadapan Arum. “Ayo tehnya diminum dulu. Kau selalu lebih jernih berpikir setelah meminumnya.”
Arum menerima cangkir itu, menghangatkan jemarinya di tepian porselen, sebelum akhirnya menatap ibunya dengan penuh keraguan. “Bu... apa Ayah pernah ngobrol tentang kasus-kasus yang tidak boleh ia sentuh?” Lestari berhenti sejenak, ekspresinya berubah. Matanya yang lembut kini menyiratkan sesuatu yang lebih dalam. Sebuah luka yang mungkin belum sepenuhnya sembuh.
“Kenapa kau menanyakan itu, Arum?”
Arum menarik napas panjang. “Arum sedang menyelidiki serangkaian kematian pejabat akhir-akhir ini. Dan semakin dalam Arum menggali, semakin banyak hal yang mengarah pada sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang berusaha ditutupi selama bertahun-tahun. Dan Ayah ada di dalamnya.”
Lestari meletakkan cangkirnya dengan perlahan. “Arum, kau tahu betapa ayahmu mencintai negeri ini. Dia selalu percaya pada sistem hukum.”
Arum mendengus. “Dan sistem itu yang membuatnya seperti sekarang ini?”
Lestari menatapnya tajam. “Kamu jangan berbicara seperti itu.”
“Kenapa tidak? Bukankah itu kenyataannya?” suara Arum meninggi. “Ayah mengorbankan segalanya yang katanya demi hukum, demi keadilan, dan lihat apa yang terjadi! Ayah sekarang seperti orang yang tidak peduli dengan apa pun!”
Lestari menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. “Ayahmu tahu risikonya. Dia memilih jalan itu bukan karena dia naif, tetapi karena dia tahu bahwa jika tidak ada orang yang berani bertahan di dalam sistem, semuanya akan runtuh lebih cepat.”
“Sistem itu sudah hancur sejak lama, Bu,” Arum menatap ibunya penuh amarah dan frustasi. “Arum tidak bisa mempercayai sesuatu yang begitu busuk di dalamnya.”
Lestari menatap anaknya lama, sebelum akhirnya berkata dengan suara lebih pelan namun penuh ketegasan. “Kalau begitu, kau ingin percaya pada apa?”
Arum terdiam.
“Dendam?” lanjut Lestari, “amarah? Kau pikir itu bisa memperbaiki segalanya?”