Harum bau kopi menemani Reza yang sedang bersandar di kursi kayu di apartemennya yang temaram. Di hadapannya, sebuah meja penuh dengan foto, potongan artikel koran, dan catatan kecil dengan susunan yang ia atur sedemikian rupa. Ia menatap satu foto di tengah, gambar seorang pria paruh baya dengan jas mahal, tersenyum dalam sebuah acara resmi.
Adrian Surya. Seorang pejabat yang berdasarkan informasi yang ia peroleh, dulu berdiri di balik layar memastikan kematian Wahyu Pranoto ayahnya, tenggelam dalam berita-berita lain yang lebih besar. Seorang pria yang selama bertahun-tahun menikmati kursinya tanpa rasa takut pada keadilan yang suatu hari akan menerpanya.
“Dan kini, giliranmu, Pak Adrian.” Reza menarik napas panjang, lalu membuka laptopnya. Ia telah mengamati kebiasaan Adrian selama berminggu-minggu. Pria itu memiliki rutinitas yang nyaris sempurna. Pulang tepat waktu, makan malam dengan keluarga, lalu bekerja sampai larut malam di ruang kerjanya. Tak lupa terkadang dia bermain golf dengan kolega-koleganya di akhir pekan.
Namun, ada satu celah. Setiap Jumat malam, Adrian selalu pergi ke sebuah bar mewah di pinggir kota dengan ditemani satu atau dua pengawalnya. Tempat itu memang biasa dipakai oleh para pejabat tinggi melepas stres tanpa perlu khawatir diawasi oleh siapa pun. Reza tersenyum tipis. Ia tahu persis bagaimana memanfaatkan kesempatan ini.
Ia sudah melatih dirinya berbulan-bulan menguasai senjata api laras panjang yang dia dapatkan dari seorang teman. Ia sudah berlatih untuk menembak lampu gantung besar yang berada tepat di atas meja tempat biasa Adrian menghabiskan waktunya. Lampu gantung yang mungkin bisa melukai bahkan menewaskan orang yang tertimpa olehnya.
Reza pun tersenyum. Ia ingin Adrian tahu, di detik-detik terakhirnya, bahwa ini adalah hukuman yang seharusnya ia terima sejak lama. Reza meraih pena dan kertas, lalu menuliskan sesuatu dengan tulisan tangan yang rapi.
“Untuk dosa yang kau tutupi lima belas tahun lalu. Aku di sini untuk mengingatkanmu bahwa keadilan mungkin tertunda, tapi tidak akan pernah hilang."
Ia melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam amplop kecil. Tak ada pesan dari siapa pun. Tak ada koordinasi. Tak ada kaki tangan. Semua perencanaan ini hanya ada dalam kepalanya, dijalankan oleh tangannya sendiri. Pekerjaannya bersih. Tidak ada saksi. Tidak ada yang tahu.