Sejak awal penyelidikan, Arum tahu ada sesuatu yang tidak wajar dalam kasus ini, tetapi semakin dalam ia menyelidiki, semakin nyata pola yang terbentuk di hadapannya. Ia menatap papan putih besar di hadapannya, di mana berbagai foto, dokumen, dan catatan tersusun rapi dengan benang merah yang menghubungkan satu dengan yang lain.
Dari mejanya, Rudi bersandar dengan tangan terlipat. “Terlalu banyak kebetulan, ya?”
Arum mengangguk. “Bukan hanya itu. Lihat ini.” Ia menunjuk tiga nama yang ia lingkari dengan tinta merah. “Mereka semua pernah kerja dalam satu lingkaran kekuasaan yang sama. Mereka punya peran berbeda, tapi jika ditarik ke belakang, mereka itu terhubung dengan kasus besar yang tiba-tiba ngilang lima belas tahun lalu.”
Rudi mendekat, menatap catatan yang dibuat Arum. “Jadi lo pikir ini bukan sekadar pembunuhan acak?”
Arum menggeleng. “Sementara ini gue nganggap kalau ini eksekusi yang sistematis. Seseorang atau sekelompok orang ngeburu mereka satu per satu, dan sampai sekarang, nggak ada jejak yang bisa ditemukan.”
Rudi menghela napas. “Lo udah nelusuri orang-orang yang mungkin ingin mereka mati? Bisa saja kan kalau ini permainan politik dari kelompok pesaing, atau bahkan internal mereka sendiri.”
Arum menekan beberapa tombol di laptopnya, menampilkan daftar nama lain yang ia curigai. “Gue udah nyempitin kemungkinan pelaku. Entah seseorang yang punya dendam lama, atau seseorang yang baru nemuin sesuatu yang harusnya tetap terkubur.”
Rudi menatap layar dan mengernyit. “Adrian Surya...?”
Arum mengangguk pelan. “Menurut gue, dia bisa jadi target berikutnya.”