Punchline Terakhir

Lestyo Haryanto
Chapter #13

12

Arum mengetuk pintu kayu besar itu dengan keras. Hatinya masih berkecamuk sejak ia mulai menyadari bahwa semua jejak mengarah ke satu nama. Nama yang tak pernah ia bayangkan bisa berada dalam pusaran ini.

Pintu terbuka, memperlihatkan seorang pria paruh baya dengan kemeja santai berwarna abu-abu. Ayahnya. Tatapannya tetap tenang seperti biasa, tetapi Arum bisa melihat sorot matanya sedikit berubah saat melihatnya berdiri di depan pintu.

“Arum?” Suaranya terdengar datar.

“Arum ingin bicara, Yah” kata Arum tanpa basa-basi.

Hadi melirik arlojinya sebelum menghela napas. “Masuklah.”

Arum melangkah masuk, mendapati rumah peristirahatan milik keluarganya ini masih sama seperti terakhir kali ia datang, rapi, teratur, tetapi terasa dingin. Seakan semua yang berada di dalamnya hanya sekadar hiasan tanpa jiwa. Hadi menuangkan teh ke dalam dua cangkir porselen dan mendorong salah satunya ke hadapan Arum. “Kau tidak pernah datang hanya untuk mengobrol. Jadi, katakan saja apa yang ingin kau bicarakan.”

Arum menatap langsung ke matanya. “Kasus Wahyu Pranoto.”

Hadi berhenti sejenak sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kenapa kamu tiba-tiba tertarik pada kasus lama itu?”

“Bukan tiba-tiba, Ayah. Arum sudah menyelidikinya. Arum tahu ada sesuatu yang ditutupi selama lima belas tahun terakhir. Arum ingin tahu seberapa jauh keterlibatan Ayah di dalamnya.”

Hadi tersenyum tipis, tetapi tatapannya tetap tajam. “Arum, kau detektif yang baik. Tapi tidak semua hal perlu kau ketahui.”

Lihat selengkapnya