Reza duduk di sudut kafe kecil di pusat kota, matanya menatap lurus ke layar ponsel. Berita terbaru sudah menyebar. Polisi mulai menghubungkan kematian beberapa pejabat dengan pola yang mencurigakan. Tidak lagi dianggap sebagai insiden terpisah, kini ada spekulasi tentang seseorang yang memburu mereka.
Ia tersenyum tipis. “Cepat juga mereka sadar,” gumamnya.
Suara langkah mendekat. Dika menarik kursi di seberangnya dan duduk dengan ekspresi tegang. Ia melirik ke sekeliling, memastikan tak ada yang memperhatikan mereka.
“Lo udah tahu, kan?” tanyanya dengan nada rendah sambil memperlihatkan berita yang sama dengan yang Reza buka di ponselnya.
Reza tetap fokus pada layar ponselnya. “Tentu.”
“Gue nggak tahu harus ketawa atau ngeri,” Dika mencondongkan tubuhnya. “Lo sadar nggak kalau nama-nama yang sempet lo sindir di panggung kemarin-kemarin itu, sekarang beneran mati?”
Reza akhirnya menoleh, ekspresinya tetap santai. “Kebetulan yang menarik, bukan?”
Dika mendecak pelan. “Kebetulan? Lo serius bilang ini cuma kebetulan?”
Reza menyeruput kopi hitamnya dengan tenang sebelum menjawab. “Kalau lo percaya takdir, mungkin ini bagian dari skenario besar yang kita nggak ngerti.”
Dika menatapnya tajam. “Atau lo tahu sesuatu yang orang lain nggak tahu?”
Reza tersenyum, tetapi matanya tetap dingin. “Gue cuma komika, Dik. Nggak lebih, kamu tahu itu, kan?”
Dika menghela napas, menggenggam cangkir kopinya lebih erat. “Lo yakin? Karena kalau ini cuma kebetulan, berarti lo punya bakat lain selain komedi yaitu memprediksi masa depan.”