Punchline Terakhir

Lestyo Haryanto
Chapter #15

14

Ruangan kecil di kantor penyelidikan terasa semakin sempit dengan tumpukan berkas yang memenuhi meja, ketika Arum duduk di depan layar komputernya. Matanya terpaku pada diagram besar yang ia buat sejak beberapa minggu lalu. Diagram itu menampilkan foto-foto para korban dengan garis merah yang menghubungkan mereka satu sama lain.

Ia mengusap wajahnya, mencoba mengurai benang kusut yang semakin jelas terbentuk. Tiga orang terbunuh. Tiga orang dari lingkaran kekuasaan yang sama. Ia menelusuri catatannya lagi, memastikan tidak ada detail yang terlewat. Setiap korban memiliki latar belakang berbeda, seorang mantan menteri, seorang pengusaha, dan seorang penasihat kebijakan. Sekilas, mereka tidak memiliki kesamaan yang jelas, tetapi setelah menggali lebih dalam, Arum mulai melihat pola yang semakin jelas dan mengerikan.

Semua korban memiliki satu benang merah yang menyatukan mereka: Kasus Wahyu Pranoto. Arum menarik napas dalam, matanya menyipit membaca ulang laporan lama yang hampir dilupakan publik. Wahyu Pranoto adalah seorang pejabat yang terbunuh lima belas tahun lalu dalam skandal yang penuh tanda tanya.            

Saat itu, media melaporkan bahwa ia terlibat dalam kasus suap besar, tetapi tidak pernah ada bukti yang benar-benar mengarah kepadanya. Hanya satu hal yang pasti, kematiannya menandai berakhirnya penyelidikan kasus itu. Dan kini, orang-orang yang berpotensi mengetahui kebenaran mulai mati satu per satu.

Suara pintu diketuk membuatnya tersentak. “Masuk,” katanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Rudi muncul dengan ekspresi serius, membawa beberapa berkas. “Kita dapat laporan forensik terbaru.”

Arum mengambil berkas itu, membacanya dengan cepat. “Serangan jantung, overdosis obat tidur, kecelakaan lalu lintas…” Ia mendongak menatap Rudi. “Ini semua terlalu rapi.”

Rudi menghela napas dan menarik kursi di seberangnya. “Gue tahu. Kita nggak bisa bilang ini pembunuhan tanpa bukti konkret, tapi ada satu hal menarik yaitu dua korban terakhir punya riwayat medis yang bersih. Nggak ada indikasi mereka mengidap penyakit jantung sebelumnya.”

Arum mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. “Jadi seseorang memastikan mereka mati dengan cara yang terlihat alami.”

Rudi mengangguk. "Dan ada satu hal lagi." Ia membuka halaman terakhir berkasnya. “Salah satu korban, Indra Saputra, menerima telepon misterius sehari sebelum kematiannya. Istrinya bilang, setelah telepon itu, dia terlihat gelisah.”

Arum menyipitkan mata. “Siapa yang menelepon?”

Rudi menggeleng. “Nomor tak dikenal. Dan lebih anehnya lagi, rekaman CCTV di rumahnya menunjukkan dia berbicara sendirian setelah menerima telepon. Seperti sedang membaca sesuatu atau mendengarkan instruksi.”

Arum menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Mungkin dia mendapat ancaman. Atau… peringatan.”

Rudi menyandarkan siku di meja. “Ar, ini mulai mengarah ke sesuatu yang jauh lebih besar. Kita lagi ngomongin tentang pembunuhan berencana dengan target spesifik. Dan gue rasa kita belum tahu separuh dari cerita ini.”

Arum mengangguk, lalu kembali ke diagramnya. “Gue ingin tahu lebih banyak tentang hubungan mereka dengan kasus Wahyu Pranoto.”

Rudi mengangkat alis. “Apa menurut lo kasus itu masih relevan setelah lima belas tahun?”

Arum mengetuk foto Wahyu Pranoto di tengah diagram. “Jika tidak, kenapa mereka mati sekarang dan berurutan? Ini bukan kebetulan, bukan?”

Rudi terdiam sebelum akhirnya bertanya, “Siapa sebenarnya Wahyu Pranoto? Dari yang gue baca, dia hanya pejabat biasa yang terjebak dalam pusaran politik kotor.”

Arum menghela napas panjang. “Banyak yang mengira begitu. Tapi setelah gue pelajari lebih dalam, gue nemuin sesuatu yang aneh.” Ia mengambil salah satu berita yang merupakan laporan investigasi dari sebuah media ternama dan menunjukkannya kepada Rudi. “Wahyu Pranoto bukan pejabat biasa. Dia adalah orang yang nyoba ngebongkar skandal korupsi besar yang ngelibatin banyak nama penting. Tapi sebelum dia bisa bawa kasus itu ke meja hijau, dia terbunuh. Laporan forensik resmi ngomong kalau dia mati karena peristiwa perampokan di rumahnya, tapi…”

Rudi menatapnya dengan curiga. “Tapi?”

Arum menggeser dokumen lain ke hadapan Rudi. “Tapi ada kejanggalan. Nggak ada saksi langsung yang ngeliat peristiwa itu. Nggak ada barang yang hilang di rumahnya saat itu. Dan yang lebih aneh lagi, semua berkas penyelidikan tentang kasus yang dia tangani ngilang setelah dia mati.”

Lihat selengkapnya