Arum berdiri di ambang pintu rumah keluarganya, tangannya menggenggam gagang pintu lebih erat dari yang seharusnya. Udara dingin masih tersisa malam itu, tetapi itu bukan yang membuat tubuhnya terasa kaku. Keraguannya. Itu yang membekukan langkahnya.
Ia menekan bel, lalu mendengar langkah kaki dari dalam. Pintu terbuka, memperlihatkan wajah ibunya, Lestari. Mata wanita itu sedikit membengkak, mungkin karena kelelahan atau menangis, Arum tidak yakin.
“Arum? Tumben kamu datang malam-malam begini,” suara ibunya lembut, tetapi ada nada khawatir di dalamnya.
“Arum harus bicara, Bu. Tentang Ayah.”
Ekspresi Lestari langsung berubah. Ada ketegangan yang muncul seketika, tetapi ia tetap tersenyum dan melangkah ke samping. “Masuklah.”
Arum masuk ke ruang tamu yang masih sama seperti dulu hangat dan rapi, tetapi kini terasa asing. Sejak kecil, rumah ini adalah tempat di mana ia merasa aman, tetapi sekarang, ia mulai mempertanyakan segala sesuatu yang pernah ia percayai. Ibunya duduk di sofa, menepuk tempat di sebelahnya, mengisyaratkan Arum untuk duduk. “Kamu mau teh?”
Arum menggeleng. “Arum nggak bisa diam lagi, Bu. Arum sudah menemukan sesuatu.”
Lestari menatapnya dengan lembut, tetapi sorot matanya tajam. “Tentang apa?”
Arum menarik napas dalam, mencoba mengendalikan emosinya. “Tentang Ayah. Tentang keterlibatannya dalam kasus lama itu. Arum tahu ada yang Ayah sembunyikan.”
Sejenak, keheningan memenuhi ruangan. Lestari menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukan keterkejutan, tetapi lebih seperti seseorang yang sudah menduga percakapan ini akan terjadi suatu hari nanti.
“Kamu tahu dari mana?” tanyanya pelan.
“Arum menyelidikinya. Semua bukti mengarah ke satu hal bahwa Ayah terlibat lebih dari yang dia akui. Arum nggak bisa menutup mata, Bu.”
Lestari menghela napas, lalu menggenggam tangan Arum. “Nak, ayahmu bukan orang jahat.”
Arum menatap ibunya dengan frustrasi. “Arum nggak bilang Ayah orang jahat, tapi Arum juga nggak bisa pura-pura percaya bahwa dia tidak tahu apa-apa. Semua korban yang terbunuh akhir-akhir ini punya keterkaitan dengan kasus lima belas tahun lalu. Dan Ayah ada di tengah-tengah itu.”
Lestari menggeleng tegas. “Ayahmu selalu bekerja untuk negara, Arum. Dia melakukan apa yang harus dia lakukan.”
Arum mendengus. “Melakukan apa yang harus dia lakukan? Termasuk menutupi kejahatan atau malah ikut dalam kejahatan itu?”
Lestari menegang. “Jangan bicara seperti itu tentang ayahmu.”
“Kenapa? Karena Arum benar?” Arum menatap ibunya dengan tajam. “Arum mencintai Ayah, Bu. Arum mengaguminya sejak kecil. Tapi sekarang, Arum mulai meragukan semua yang pernah dia ajarkan pada Arum. Tentang kejujuran, tentang integritas. Bagaimana Arum bisa percaya kalau dia sendiri mungkin bagian dari kebusukan itu?”
Lestari menarik napas panjang, menatap meja di depannya seakan mencari jawaban di sana. “Kamu tahu, Arum? Kadang, dunia ini tidak sesederhana menentukan sesuatu itu benar atau salah. Kadang, orang harus membuat keputusan sulit.”