Keramaian memenuhi ruangan sebuah restoran di pusat kota yang menjadi base camp komunitas komika Jakarta. Lampu temaram menciptakan bayangan di sudut-sudut ruangan, sementara suara gelak tawa dan dentingan gelas bercampur menjadi satu. Di atas panggung kecil, seorang komika tengah menyelesaikan materinya, disambut tawa dan tepuk tangan dari penonton.
Arum duduk di salah satu meja di bagian belakang, matanya tak pernah lepas dari panggung. Malam ini, Reza akan tampil. Dan ia ada di sini bukan untuk menikmati pertunjukan, tetapi untuk mencari petunjuk.
Seorang pelayan datang, menawarkan menu, tetapi Arum hanya melambaikan tangan, menolak dengan sopan. Perhatiannya tetap tertuju ke arah panggung saat seorang pria bersetelan hitam naik dan mengambil mikrofon, tetapi pada akhirnya ia memutuskan untuk memesan minuman untuk sekadar membasahi tenggorokannya.
“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, kita sudah menikmati banyak tawa malam ini. Sekarang kita tampilkan seorang bintang tamu yang tak perlu diperkenalkan lagi. Komika yang dikenal dengan materi tajamnya, yang berani bicara tentang hal-hal yang tak banyak orang mau ungkapkan. Berikan tepuk tangan untuk… Reza!”
Tepuk tangan menggema saat Reza naik ke atas panggung. Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung, celana jeans gelap, dan sepatu kasual. Wajahnya santai, tetapi ada kilatan tajam di matanya. Arum menyesap minumannya, menajamkan pendengarannya. Reza mengambil mikrofon, membiarkan kerumunan sedikit tenang sebelum berbicara.
“Halo, untuk yang baru kenal. Gue Reza, akamsi anak kampung sini. Maksud gue betawi. Gue ini selalu heran sama orang-orang kaya di negeri ini. Mereka bangun rumah gede, bikin tembok tinggi, pasang CCTV di mana-mana. Takut banget, ya? Tapi anehnya, yang paling mereka takutin bukan perampok. Yang paling mereka takutin adalah keadilan.”
Penonton tertawa.
“Gue ngerti sih, duit korupsi tuh nggak ada yang halal. Makanya mereka hidupnya penuh paranoia. Tiap malam sebelum tidur, bukan doa yang mereka baca, tapi daftar nama yang bisa aja ngebocorin rahasia mereka, sambil berkata ‘orang ini perlu disingkirkan, nggak ya?’” Gelak tawa kembali memenuhi ruangan. Arum tetap diam, tetapi tangannya mengepal di bawah meja.
“Tapi anehnya, orang-orang kayak gini jarang kena karma langsung. Udah nyolong miliaran, masih bisa hidup nyaman. Tapi, tahu-tahu… mati mendadak.”
Wajah Arum pun mulai tegang.
“Eh, gue nggak bilang apa-apa, ya. Gue cuma bilang… menarik aja. Ada orang yang lebih percaya keadilan itu harus diciptakan daripada ditunggu.”
Suasana ruangan sedikit berubah. Masih ada tawa, tapi beberapa orang mulai saling berpandangan, menangkap maksud tersembunyi di balik kata-kata Reza barusan. Arum mencatat setiap kata dalam kepalanya. Ini bukan sekadar materi komedi. Ini adalah pesan tersembunyi.
Reza berjalan pelan di atas panggung, memainkan mikrofon di tangannya. “Ada yang bilang, setiap orang punya batasannya sendiri. Ada yang percaya kalau batas itu namanya hukum. Tapi ada juga yang percaya, kalau hukum nggak bekerja… maka batas itu harus dihapus, dan kita sendirilah yang bisa membuat batasan yang kita mau.”
Tatapan Arum semakin tajam. Ia merasa Reza bukan hanya berbicara kepada penonton, tetapi juga kepada seseorang yang mungkin mengawasinya. Lelucon-lelucon satire yang dia ungkapkan semakin lama semakin tajam.
Sindiran satire di sela lelucon khas Reza pun mengalir lancar. Gelak tawa dan kerutan di dahi penonton pun muncul bergantian terlihat seperti mengiringi materi Reza malam itu. Ketika pertunjukan berakhir, tepuk tangan meriah mengisi ruangan. Reza membungkuk sedikit, lalu turun dari panggung, menghilang ke dalam kerumunan. Arum tetap di tempatnya, memutar ulang setiap kata yang ia dengar malam ini.
Tidak ada pengakuan eksplisit. Tidak ada bukti konkret. Tapi ia tahu. Reza tidak hanya berbicara tentang ketidakadilan. Reza sendirilah bagian dari sesuatu yang lebih besar itu. Dan semakin lama Arum mengamati, semakin jelas bahwa pertunjukan ini bukan hanya tentang komedi. Ini adalah sebuah peringatan.
***
Arum menatap layar laptopnya dengan muka tegang. Suara pertunjukan Reza masih bergema di telinganya, baginya setiap kata yang semula terdengar seperti candaan kini berubah menjadi pesan mengerikan. Di layar, Reza berdiri di atas panggung, menyeringai sambil memegang mikrofon.