Siang itu, sambil memegang pena yang ia mainkan di dagu, Arum menatap papan analisis yang kini didominasi oleh satu nama: Reza Pranoto. Foto-foto korban sebelumnya terpampang di sekelilingnya, terhubung dengan benang merah yang menggambarkan pola pembunuhan yang ia curigai. Ia menghela napas dalam, mencoba mengatur pikirannya. Jika dugaannya benar, maka ini bukan sekadar kasus pembunuhan berantai biasa. Ini adalah eksekusi yang dirancang dengan cermat dan Reza berdiri tepat di tengah-tengahnya.
Pintu terbuka, Rudi masuk dengan ekspresi serius. Ia meletakkan sekotak donat mini di meja Arum, lalu menyilangkan tangan di dadanya. “Lo beneran yakin mau lakuin ini?”
Arum tidak langsung menjawab. Ia menatap papan analisis itu beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Kita nggak punya pilihan lain, Rud. Kita udah terlalu jauh buat mundur.”
Rudi menghela napas, lalu menarik kursi dan duduk di seberang Arum. “Oke, gue mau lo jelasin lagi. Lo mau masuk ke dalam lingkaran Reza, bikin dia percaya sama lo, dan ngebawa dia ke perangkap kita. Tapi lo sadar, kan? Ini bisa jadi bunuh diri.”
Arum menyeringai kecil. “Gue nggak akan sembarangan. Reza itu cerdas, dia nggak gampang percaya sama orang. Tapi gue lihat caranya ngomong di atas panggung, cara dia bangun hubungan sama audiensnya. Dia suka ngontrol, suka ngerasa lebih unggul. Kalau gue kasih dia ruang buat mikir kalau dia lebih pintar dari gue, dia bakal lebih santai.”
Rudi menggeleng. “Masalahnya, Reza bukan orang biasa. Kalau dia memang pelakunya, berarti dia udah berhasil ngelewatin penyelidikan kita sejauh ini tanpa satu pun bukti konkret. Lo yakin lo bisa bikin dia lengah?”
Arum mengetuk jari-jarinya ke meja. “Justru karena dia terlalu hati-hati, dia butuh seseorang buat dengerin dia. Stand-up comedy itu monolog, Rud. Dia ngomong di panggung, tapi nggak ada yang bener-bener bisa ngobrol sama dia. Kalau gue bisa jadi orang itu, orang yang dengerin dia, yang bikin dia ngerasa didengar, dia bakal mulai bicara lebih dari yang seharusnya.”
Rudi mengerutkan kening. “Lo mau main psikologis sama dia?”