Bar kecil di pinggiran kota ini lebih sepi dari biasanya, hanya ada beberapa orang yang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Reza duduk di kursi bar, menyesap pelan gelasnya yang hampir kosong. Musik jazz mengalun pelan di latar belakang, menciptakan atmosfer yang tenang. Namun, di kepalanya, pikirannya terus berputar, menimbang setiap kemungkinan yang bisa terjadi. Ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Setiap langkahnya kini terasa semakin berat, seolah ada mata yang terus mengawasinya.
Di seberangnya, Dika mengaduk minumannya, lalu menatap Reza dengan ekspresi serius. Dika kemudian mencondongkan tubuhnya sedikit, sambil memperlihatkan sebuah berita di ponselnya tanpa berkata apa-apa.
“Iya, gue udah tahu,” kata Reza.
“Berarti lo tahu polisi mulai nyambungin titik-titik yang mungkin mereka anggap bersinggungan?”
Reza tetap tenang, tetapi ia tahu Dika tidak sedang bercanda. Penyelidikan semakin mengarah ke pola yang ia ciptakan. Sejauh ini, ia berhasil membuat semuanya terlihat seperti kebetulan, kecelakaan, serangan jantung, overdosis. Tapi sekarang, ada seseorang yang mulai melihat gambaran besarnya. Dan di pikirannya, orang itu mungkin perempuan yang ia temui malam itu.
Sejak pertemuan mereka di bar setelah pertunjukan, Reza tahu bahwa perempuan itu bukan sekadar penggemar biasa. Pertanyaannya terlalu spesifik, terlalu terarah, dan yang paling mencurigakan adalah cara dia bertanya yang terlalu nyaman, seolah sudah mempersiapkan semuanya. Reza menatap Dika, suaranya tetap datar. “Siapa yang mulai nyambungin?”
Dika mendesah. “Gue nggak tahu pasti, tapi dari sumber yang gue dapet, ada seseorang di kepolisian yang mulai ngeliat pola dalam kasus-kasus ini. Lo harus lebih hati-hati.”
Reza tersenyum kecil. “Gue selalu hati-hati.”
Dika menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Reza lama. “Gue tahu lo bukan orang ceroboh. Tapi gue juga tahu lo bukan orang yang suka direcokin. Dan sekarang, ada orang yang kayaknya lagi ngorek-ngorek keterangan dari lo.”
Reza mengangkat alis. “Lo ngomongin siapa?”
Dika mendengus kecil. “Cewek yang ngobrol sama lo di bar. Tari, atau siapa pun namanya.”
Reza menyandarkan tubuhnya, memainkan gelasnya dengan jari-jari. “Gue juga mikirin dia.”
Dika menatapnya tajam. “Lo yakin dia cuma penggemar?”
Reza tersenyum miring. “Nggak.”
Dika melipat tangan di dada. “Terus kenapa lo ngeladenin dia? Lo bisa aja langsung ngejauhin dia.”