Cahaya laptop memantulkan bayangan samar di wajahnya yang tegang, ketika Reza duduk di meja kerjanya. Jari-jarinya mengetuk meja, ritme tak beraturan menandakan pikirannya yang sedang bekerja cepat. Semuanya mulai terasa berbeda. Sejak awal, ia selalu memastikan tak ada jejak tertinggal. Tapi akhir-akhir ini, ada sesuatu yang mengusiknya. Seseorang sedang menggali lebih dalam, mencoba menyusun potongan-potongan yang selama ini tersembunyi.
Dan ia tahu, ia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Pikirannya kembali ke target-target yang selama ini ia incar, yang seharusnya ia eksekusi sesuai jadwal. Namun, dengan keadaan yang semakin rumit, ia tidak yakin bisa menunggu lebih lama. Tak ada pilihan lain, rencananya harus dipercepat.
Pintu apartemennya diketuk pelan. Reza menutup laptop, bangkit, lalu berjalan ke pintu lalu membukanya. Dika berdiri di sana, ekspresinya penuh kecemasan. “Kita harus bicara.”
Reza membiarkan Dika masuk. Begitu pintu tertutup, Dika langsung berbicara. “Gue nggak suka ini, Za. Semua jadi lebih rumit dari yang mungkin kamu kira.”
Reza menyilangkan tangan di dada. “Apaan, Dik?”
Dika mendesah, lalu berjalan mondar-mandir di ruang tamu. “Lo sadar kan, polisi udah mulai menyelidiki lebih serius? Dan bukan cuma polisi… Cewek itu, yang kita temui di bar, gue yakin dia bukan orang biasa. Ada temen gue yang pernah ngeliat dia di markas polisi pusat, dan tampak akrab sama aparat di situ.”
Reza mengangkat alis, tetapi tetap tenang. “Dan menurut lo gue harus apa?”
Dika menatapnya tajam. “Gue bilang, mungkin lo harus berhenti.”