Sejak awal penyelidikan ini, Arum selalu berusaha melihat kasus ini secara objektif, tetapi sekarang, semua semakin kabur. Ia tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa ayahnya sendiri terlibat dalam sesuatu yang lebih besar. Jika itu benar, ia tahu tak ada jalan kembali. Ia harus menemukan kebenaran, meskipun itu berarti meruntuhkan kepercayaan yang selama ini ia pegang.
Pintu ruangannya terbuka sedikit, lalu Rudi masuk dengan dua gelas kopi di tangannya. “Gue tahu lo belum tidur,” katanya sambil meletakkan satu gelas kopi di meja Arum.
Arum menghela napas, menerimanya tanpa menoleh. “Terima kasih.”
Rudi duduk di kursi seberangnya, menyesap kopinya sebentar sebelum menatap layar komputer Arum. “Kamu udah berapa lama ngecek dan nganalisa data itu?”
“Cukup lama,” jawab Arum singkat.
Rudi mengangkat alis. “Dan masih belum nemuin apa pun?”
Arum menggulirkan layar, melihat kembali dokumen-dokumen lama yang ia coba sambungkan. “Gue mulai yakin akan sesuatu. Semua korban punya keterkaitan dengan skandal lima belas tahun lalu. Tapi ada satu orang yang selalu muncul di sekitar kasus itu… Bokap gue.”
Rudi terdiam sejenak. “Maksud lo…?”
Arum menatapnya, suaranya lebih pelan. “Gue nggak bisa langsung nuduh, tapi ada banyak hal yang nggak masuk akal. Dia selalu ada di lingkaran orang-orang ini, tapi namanya nggak pernah muncul dalam penyelidikan. Seolah-olah… dia dilindungi.”