Punchline Terakhir

Lestyo Haryanto
Chapter #24

23

Jam tangannya sudah menunjuk jam 10 malam. Arum berdiri di depan pintu ruang kerja Hadi Wiratama, jantungnya berdegup cepat. Lamat-lamat dia mendengar musik klasik dari ruang kerja ayahnya, musik favorit ayahnya sejak muda. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, menahan emosi yang sudah mendidih sejak beberapa hari terakhir. Ia tidak bisa lagi mengabaikan kecurigaan yang terus mengganggunya. Terlalu banyak kebetulan, terlalu banyak pertanyaan tanpa jawaban. Dia berharap kedatangannya kali ini akan mendapatkan jawaban itu semua.

Tanpa mengetuk, ia membuka pintu dan masuk. Hadi duduk di belakang meja kayu besar, dokumen-dokumen bertumpuk di sekelilingnya. Ia mengangkat kepalanya perlahan, mata tajamnya langsung mengamati putrinya. “Arum? Ada apa?”

Arum menutup pintu di belakangnya dengan sedikit keras. “Arum ingin bicara, Ayah.”

Hadi menatapnya dengan sorot dingin, lalu memberi isyarat ke kursi di depannya. “Duduklah.”

“Arum lebih suka berdiri.”

Sejenak, keheningan mengisi ruangan. Hadi menghela napas, meletakkan penanya, lalu menyandarkan tubuh ke kursinya. “Baiklah, katakan.”

Arum melangkah maju, meletakkan sebuah map berisi dokumen di meja ayahnya. “Arum menemukan pola dalam kasus yang sedang Arum selidiki. Setiap korban terhubung dengan skandal lima belas tahun lalu. Dan di tengah semua itu… ada Ayah.”

Hadi menatap map itu sekilas, sebelum kembali menatap putrinya dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Apa yang kamu maksud?”

“Jangan pura-pura tidak tahu, Ayah.” Suara Arum terdengar bergetar. “Ayah selalu ada di sekitar orang-orang itu. Tapi nama Ayah tidak pernah muncul di laporan resmi. Seolah-olah seseorang berusaha menghapusnya dari catatan.”

Hadi menghela napas panjang, lalu melipat tangannya di meja. “Dan apa yang kau ingin Ayah katakan, Arum?”

“Arum ingin kebenaran.”

“Kebenaran itu subjektif,” kata Hadi dengan suara yang semakin meninggi.

Arum mendengus, tatapannya semakin tajam. “Jangan berikan Arum jawaban diplomatis, Ayah. Ini bukan tentang perspektif. Ini tentang nyawa orang-orang yang mati satu per satu.”

Hadi menatap putrinya dengan ekspresi datar. “Dan kau pikir Ayah membunuh mereka?”

Arum terdiam sejenak, lalu menggeleng. “Arum tidak tahu. Tapi Arum tahu Ayah tahu lebih banyak daripada yang Ayah katakan.”

Hadi bangkit dari kursinya, berjalan ke arah jendela, menatap langit malam yang berpendar oleh cahaya kota. “Kadang, mengetahui terlalu banyak bisa menjadi beban yang lebih berat dari yang kau bayangkan.”

Arum mengepalkan tangannya. “Dan kadang, membiarkan kebohongan terus hidup justru yang lebih berbahaya.”

Hadi menoleh, tatapannya lebih tajam. “Apa yang sebenarnya kamu cari, Arum? Kebenaran? Atau jawaban yang kau inginkan?” Arum terdiam. “Jika kau menggali terlalu dalam,” lanjut Hadi, “kau mungkin menemukan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.”

Arum mendekat, kini suaranya lebih rendah, tetapi tetap tajam. “Itu ancaman?” Hadi tersenyum kecil, tetapi tidak menjawab. “Ayah tahu sesuatu, bukan?” Arum terus menekan. “Ayah tidak pernah benar-benar bersih dari semua ini, kan?”

Hadi tidak mengelak, tetapi juga tidak mengiyakan. “Kamu terlalu pintar untuk bertanya hal-hal yang sudah kau ketahui jawabannya.”

Lihat selengkapnya