Arum duduk sendirian di tempat kerjanya, menatap papan investigasi yang telah ia susun sejak awal kasus ini. Foto-foto para korban, dokumen-dokumen lama, dan catatan kecil yang berisi koneksi antar tokoh terpajang di hadapannya. Tetapi kini, satu nama yang sebelumnya tidak pernah ia ragukan—Hadi Wiratama—berada tepat di tengah-tengahnya.
Tangannya gemetar saat menyentuh kertas yang berisi nama ayahnya. Dulu, ia selalu percaya bahwa ayahnya adalah figur yang kuat dan berintegritas. Tapi sekarang, ia tidak lagi yakin. Helaan napas panjang terdengar dari belakangnya. Rudi bersandar di pintu, memperhatikannya dengan ekspresi penuh keprihatinan.
“Lo udah di sini berjam-jam, Ar,” katanya. “Lo harus istirahat.”
Arum tidak menoleh. “Gue nggak bisa, Rud.”
Rudi berjalan mendekat, lalu melirik papan investigasi itu. “Jadi lo benar-benar mulai berpikir kalau bokap lo terlibat?”
Arum menutup matanya sejenak. “Gue nggak tahu. Tapi dia jelas nyembunyiin sesuatu.”
“Dan nyokap lo?”