Ruangan penyelidikan sunyi, hanya terdengar dengungan kipas pendingin udara yang berputar pelan di sudut ruangan. Arum duduk di depan layar komputernya, matanya terpaku pada rekaman CCTV yang baru saja ia terima dari bagian forensik kepolisian. Di sebelahnya, Rudi menyesap kopinya, ekspresinya penuh konsentrasi. “Gue masih nggak yakin sama teori lo, Ar,” katanya sambil menyandarkan tubuh ke kursi.
Arum tidak mengalihkan pandangannya dari layar. “Kita sudah sepakat, kecelakaan ini terasa janggal. Ini satu-satunya kamera di sekitar lokasi kejadian yang masih aktif pada malam itu. Kalau ada sesuatu yang aneh, pasti ada di sini.”
Ia menekan tombol play, dan layar menampilkan rekaman dari sebuah kamera pengawas yang terpasang di tiang lampu jalan, hanya sekitar lima puluh meter dari tempat kecelakaan terjadi. Waktu yang tertera di sudut bawah menunjukkan pukul 22:47 atau sekitar sepuluh menit sebelum korban ditemukan tewas.
Awalnya, tidak ada yang aneh. Beberapa mobil melintas, beberapa pejalan kaki bergerak cepat melewati trotoar yang remang-remang. Namun kemudian, seorang pria bertopi dan mengenakan jaket hitam panjang muncul di rekaman.
Arum memperbesar gambar. “Lihat cara dia berjalan.” Pria itu berjalan di trotoar seberang jalan, sesekali menoleh ke belakang. Langkahnya santai, tapi ada sesuatu dalam gerak-geriknya yang tampak waspada.
“Bisa jadi dia cuma orang biasa yang lewat,” gumam Rudi.
Arum menggeleng. “Lihat ini.” Di layar, pria itu berhenti di dekat sebuah tiang lampu, hanya beberapa meter dari persimpangan tempat kecelakaan terjadi. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, tampak mengetik sesuatu di ponselnya, lalu diam di tempat selama beberapa detik.