Punchline Terakhir

Lestyo Haryanto
Chapter #27

26

Arum duduk di kursi sudut sebuah kafe kecil di pusat kota, matanya terus mengawasi setiap orang yang masuk. Ia menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin, pikirannya berputar tanpa henti.

Tak perlu menunggu lama, Johan, pria berkacamata dengan jaket lusuh, akhirnya muncul. Langkahnya cepat dan gelisah, sesekali menoleh ke belakang seperti memastikan tidak ada yang mengikutinya. Saat sampai di meja, ia langsung duduk dan menatap Arum dengan ekspresi serius. “Lo tahu betapa gilanya permintaan lo ini, kan?”

Arum tetap tenang. “Gue nggak meminta sesuatu yang mustahil, Han.”

Johan tertawa kecil, tetapi tidak ada humor di dalamnya. “Tidak mustahil? Ar, gue harus gali arsip yang seharusnya sudah dikubur bertahun-tahun lalu. Ada alasan yang harus gue taaati agar dokumen ini nggak keluar.”

Arum menatapnya tanpa berkedip. “Tapi lo menemukannya.” Johan menghela napas panjang sebelum mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari jaketnya dan meletakkannya di meja. Tangannya tetap di atas amplop itu, seolah ragu untuk benar-benar melepaskannya.

“Mendapatkan ini hampir dan bisa ngebuat gue kehilangan pekerjaan bahkan mungkin nyawa,” gumamnya serius. “Setiap akses ke arsip ini sudah dikunci dengan level otoritas tertinggi. Gue harus masuk ke server lama yang bahkan sudah nggak digunain lagi. Dan lo tahu apa yang lebih buruk?” Arum tetap diam, membiarkan Johan melanjutkan. “Ada orang lain yang sudah lebih dulu ngehapus sebagian besar dokumen ini. Gue beruntung masih bisa nemuin salinan yang belum kesentuh dan untungnya gue nggak ketauan.”

Arum menatap amplop itu dengan perasaan campur aduk. “Siapa yang coba-coba ngehapusnya?”

Johan menggeleng. “Gue nggak tahu pasti. Tapi kalau seseorang berusaha ngilangin jejak selama lebih dari lima belas tahun, itu berarti mereka punya kekuatan cukup besar untuk ngelakuin ini.”

Arum menarik napas dalam. “Dan sekarang gue megang satu-satunya salinan yang tersisa?”

Johan tersenyum sinis. “Mungkin bukan satu-satunya, tapi yang pasti, ini adalah sesuatu yang mereka tidak ingin lo atau siapa pun ngeliat.” Arum meraih amplop itu, tetapi Johan menahan tangannya. “Lo sadar akan risikonya, kan?” suaranya lebih pelan, nyaris berbisik.

Arum menatapnya tajam. “Apa maksud lo?”

Johan mendekat sedikit. “Begitu lo ngebaca ini, lo bukan hanya sekadar detektif yang lagi nyari kebenaran. Lo akan jadi ancaman bagi mereka yang selama ini nyembunyiin semua ini. Jika mereka tahu lo punya dokumen ini… lo bisa jadi target berikutnya. Target yang mungkin harus disingkirkan.”

Arum menahan napas sejenak, tetapi matanya tetap teguh. “Gue udah ngambil risiko sejak awal. Kalau dokumen ini bisa ngebuktiin sesuatu, gue harus ngeliatnya.”

Johan menatapnya lama sebelum akhirnya melepas genggamannya dari amplop itu. “Baiklah. Tapi jangan pernah nyebut nama gue dalam hal ini. Gue bisa kehilangan lebih dari sekadar pekerjaan, kematian”, sambil tangannya melakukan gerakan di daerah lehernya.

Arum mengangguk. “Gue ngerti.” Perlahan, ia membuka amplop itu dan menarik beberapa lembar dokumen yang sudah mulai menguning. Matanya menyapu halaman pertama, dan seketika dadanya terasa sesak.

Di dalamnya, ia menemukan laporan transaksi keuangan yang menghubungkan beberapa pejabat tinggi dengan aliran dana gelap. Nama-nama yang tercantum sudah tidak asing baginya. Mereka adalah korban-korban dalam kasus pembunuhan yang sedang ia selidiki. Dan di antara nama-nama itu, nama ayahnya tertulis dengan jelas sebagai salah satu penerima dana ilegal.

“Tidak…” bisiknya, hampir tak terdengar.

Johan memperhatikannya dengan tatapan penuh simpati. “Ketika ngebacanya, gue berharap kalau ini semua hanya kesalahan, tapi dokumen nggak bisa bohong.”

Lihat selengkapnya