Semua potongan informasi yang Arum kumpulkan selama ini akhirnya membentuk gambaran yang jelas. Semua jejak mengarah pada satu orang, Reza. Langkah kaki terdengar di belakangnya. Rudi masuk sambil membawa laptop dan beberapa berkas di tangannya. Ia meletakkan semuanya di meja dan langsung menyalakan layar.
“Lo harus lihat ini,” katanya cepat.
Arum berbalik dan mencondongkan tubuhnya saat Rudi membuka rekaman CCTV. “Ini dari kamera lalu lintas di dekat lokasi kecelakaan korban ketiga,” jelasnya, “ini file yang kita lihat kemarin.” Di layar, seorang pria bertopi hitam terlihat berdiri di trotoar. Ia tampak tenang, sesekali melihat ke sekelilingnya. Pria itu langsung pergi tanpa menoleh ke belakang setelah kecelakaan itu terjadi. Rudi mengklik file lain. Isinya berupa tangkapan layar dari kamera lain yang diambil beberapa detik setelah kecelakaan. Dari sudut ini, meskipun wajahnya tak sepenuhnya terlihat, bentuk rahang dan postur tubuh pria itu sangat mirip dengan Reza.
Arum menegakkan tubuhnya. “Jadi dia ada di lokasi kejadian.”
Rudi mengangguk. “Gue juga udah cek rekaman dari dua lokasi sebelumnya. Sosok yang sama selalu muncul beberapa saat sebelum korban ditemukan tewas.”
Arum berjalan ke papan penyelidikan dan mengetukkan jarinya ke foto Reza. “Ini bukan kebetulan. Ini pola.”
Rudi bersandar ke meja, menatap Arum serius. “Lo masih butuh bukti lebih banyak?”
Arum menghela napas panjang. “Rekaman ini cukup buat ngejadiin dia tersangka utama. Tapi kita masih perlu sesuatu yang lebih konkret untuk nangkap dia.”
Rudi mengambil dokumen lain dan menyerahkannya pada Arum. “Gue juga udah cek latar belakang korban. Lo tahu apa yang paling menarik?” Arum membuka berkas itu dan membaca cepat. “Mereka semua sudah pasti terlibat dalam kasus lama yang ditutup lima belas tahun lalu," kata Rudi pelan.
Arum mengangkat wajahnya. “Skandal yang melibatkan Wahyu Pranoto.”
Rudi menghela napas panjang. “Dan Wahyu Pranoto adalah…”
Arum menyelesaikan kalimatnya dengan suara tegas. “Ayah Reza.”
Rudi mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Jadi kemungkinan dia ngebunuh satu per satu orang yang dulu ngehancurin bokap dan keluarganya.”
Arum mengangguk pelan. “Dan dia ngelakuinnya dengan sangat hati-hati.”