Punchline Terakhir

Lestyo Haryanto
Chapter #30

29

Laptop Reza memunculkan judul berita yang membuat dia tersenyum tipis.

 

“Kasus Kematian Pejabat: Penyelidikan Memasuki Tahap Baru.”

 

Reza menyesap kopi yang mulai dingin. Polisi mulai menyadari ada pola, tapi mereka masih jauh dari kebenaran. Ponselnya bergetar di meja. Nomor tidak dikenal. Reza menatap layar sejenak, lalu mengangkatnya. “Halo?”

Hening sejenak, lalu suara seorang wanita terdengar. “Reza.” Reza tersenyum tipis. Ia mengenali suara itu.

“Tari,” katanya santai. “Gue nggak nyangka lo bakal nelpon gue.”

“Lo sibuk?”

Reza melirik laptopnya, lalu kembali bersandar. “Nggak lebih sibuk dari biasanya.”

“Gue cuma mau ngobrol,” kata Tari, suaranya ringan tapi penuh makna. “Gue penasaran sama lo.”

Reza tertawa kecil. “Penasaran dalam hal apa?”

“Lo sering ngebahas hal-hal berbahaya di atas panggung. Kadang gue pikir lo nggak cuma sekadar komedian.”

Reza memainkan cangkir kopinya. “Mungkin gue cuma orang yang terlalu banyak tahu.”

“Atau terlalu nikmati bahaya?”

Reza menyipitkan matanya. “Kenapa lo tiba-tiba tertarik sama itu?” Tari tertawa kecil, tapi bukan tawa santai, lebih seperti seseorang yang sedang menguji sesuatu.

“Karena nggak semua orang berani ngomong sefrontal lo. Apalagi tentang orang-orang yang lo sindir,” katanya pelan. “Dan gue penasaran, sebenarnya lo cuma asal ngomong atau lo tahu lebih dari yang lo tunjukkan.”

Reza mengetukkan jarinya ke meja. “Dan lo ngira gue yang mana?”

Tari tak langsung menjawab. Ada jeda sebelum akhirnya ia berkata, “Gue pikir lo bukan tipe orang yang asal ngomong.”

Lihat selengkapnya